Dinilai Sepelekan Tanggung Jawab Publik - 11 Emiten Telat Laporan Keuangan

NERACA

Jakarta- Masih bandelnya sejumlah emiten yang telat menyampaikan laporan keuangan tahunan dan kuartalan dengan beberapa alasan dinilai sangat tidak berdasar. Pasalnya, emiten yang notabene sebagai perusahaan publik seharusnya dapat memegang komitmen mereka untuk mengikuti ketentuan dan peraturan yang telah ditetapkan pihak otoritas PT Bursa Efek Indonesia.“Saya rasa itu hanya alasan saja karena kalau memang mereka niat sebetulnya bisa dilakukan sewaktu Auditor melakukan audit untuk laporan keuangan per kuartalnya dan sisa waktu tiga bulan setelah berakhir pelaporan masa laporan keuangan,” kata Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang di Jakarta, Selasa (9/7).

Menurut dia, emiten yang beralasan karena masih menghitung kerugiannya dan sedang berada dalam belitan masalah tidak dapat dibenarkan. Tidak terkecuali bagi emiten yang menyatakan masih memperhitungkan akurasi data dan akuntabilitas. “Waktunya lebih dari cukup sehingga tidak beralasan untuk tidak menyerahkan ke otoritas Bursa Efek.” tandasnya.

Terkait masalah ini Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada berpendapat yang sama. Menurut dia, keterlambatan penyampaian laporan keuangan emiten berpotensi merugikan investor. Pasalnya, pelaku pasar membutuhkan informasi jelas terkait keberlangsungan usaha yang dijalankan emiten. Terlebih saat ini sudah memasuki semester dua 2013.

Kalaupun masih ada yang harus diperhitungkan, sambung dia, emiten tersebut sebenarnya dapat memberikan keterangan dalam laporan keuangannya dan dapat menyampaikannya datanya dalam laporan keuangan selanjutnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menunda penyampaian laporan keuangan ke publik. “Permasalahan utang piutang atau kerugian, tidak seharusnya menjadi alasan emiten untuk menunda laporan keuangannya.” ucapnya.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Umi Kulsum dalam keterangan resminya menyampaikan, ada sebanyak 11 emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan kuartal pertama 2013. Dari 11 emiten tersebut, pihak otoritas memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp150 juta untuk 8 emiten. Sebanyak dua emiten dikenakan peringatan tertulis I dan satu emiten dikenakan peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp50 juta.

Delapan emiten dimaksud yaitu PT Atlas Resources Tbk (ARII), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA) dan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB).

Adapun emiten yang mendapatkan peringatan tertulis I yaitu PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Sementara PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) dikenakan peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp50 juta. Selain itu, BEI juga memberikan peringatan tertulis III dan denda sebesar Rp150 juta kepada dua emiten yang tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebelumnya sebesar Rp50 juta antara lain PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA) dan PT Steady Safe Tbk (SAFE). (lia)

Related posts