BEI Kaji Batasan 20% Saham Lewat IPO

NERACA

Jakarta –Dampak dari fluktuasinya indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu calon emiten yang menawarkan saham perdananya (IPO) di pasar modal menurunkan sizenya, seperti yang dilakoni PT Cipaganti Citra Graha Tbk dari 40% saham di lepas ke public hanya 10%.

Merespon hal tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengkaji peraturan batasan minimum jumlah saham yang dilepas ke publik melalui mekanisme IPO sebesar 20% dari modal disetor,”Masih terus kami diskusikan peraturannya. Semoga tahun ini bisa selesai, nanti kalau sudah selesai akan kami sampaikan,”kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta, Selasa (9/7).

Dia mengatakan, beberapa perusahaan yang tercatat di BEI ada yang jumlah saham beredarnya hanya lima persen. Dengan adanya batasan minimum saham beredar di pasar maka diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar modal.

Hoesen mengemukakan rencananya jumlah minimum saham IPO yang dilepas ke publik ditetapkan sebesar 20%. Jika perusahaan sudah menjadi perusahaan publik maka saham yang beredar di pasar (free float) sebanyak 15%.

Selama ini BEI masih mengacu berdasarkan aturan I-A BEI tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham, batas minimal porsi saham publik bagi calon emiten adalah 10%. Sebelumnya, Deputi Komisioner Bidang Pasar Modal I OJK, Robinson Simbolon pernah bilang, pihaknya dan BEI sedang mengkaji batas minimal pelepasan saham ke publik dalam penawaran umum perdana sebesar 15%, “IPO wajib melepas minimal 15% saham ke publik. BEI sudah sepakat dan menyatakan bahwa secara rata-rata ketika emiten melakukan IPO, saham yang dilepas ke publik adalah 15%,”tandasnya.

Sebagai informasi, free float adalah saham yang beredar di publik yang biasanya dimiliki investor ritel. Jumlah saham free float inilah yang menentukan likuiditas perdagangan saham suatu emiten di BEI. Saat ini ada beberapa calon emiten yang melaksanakan IPO dengan melepas 10% saham ke publik namun free float-nya hanya 2%.

Alhasil, pergerakan saham emiten tersebut diperkirakan akan kurang likuid ditransaksikan investor. Pihaknya BEI tengah mengupayakan agar revisi aturan ini dapat berlaku surut. Artinya, harus diterapkan tidak hanya oleh emiten baru namun oleh emiten yang telah mencatatkan sahamnya di BEI.

Selain itu, sepanjang bulan Ramadhan, BEI memastikan tidak ada perubahan jam perdagangan. Selain itu, tidak ada waktu libur khusus di bulan puasa ini. BEI menetapkan tanggal 5-7 Agustus 2013 sebagai cuti bersama Idul Fitri. Sementara di tanggal 8 dan 9 Agustus 2013 merupakan libur Hari Raya Idul Fitri. Perdagangan efek di pasar reguler, pasar tunai, dan pasar negosiasi dilakukan selama jam perdagangan setiap hari bursa dengan berpedoman pada waktu JATS. (bani)

Related posts