Dicari Capres 2014 Berani Dihukum Mati Jika Korupsi - Oleh: Ronald Surbakti

Menjelang 2014, sudah banyak kandidat yang mulai memperlihatkan diri tanda-tanda sebagai Capres 2014. Mulai dari tebar pesona, safari politik, politik pencitraan, dan lain sebagainya dilakukan untuk menarik simpati masyarakat.

Program demi program ditawarkan oleh berbagai pihak yang bakal bertarung di pemilu 2014. Namun adakah diantaranya yang telah menawarkan bagaimana konsep menangani korupsi di negeri ini?

Sebagaimana Anda ketahui bahwa korupsi di negeri sudah tidak dapat ditawar-tawarkan harus segera di hentikan. Harus ada komitmen Capres 2014 bagaimana untuk menghentikan korupsi di bumi tercinta ini.

Mungkinkah kita harus belajar dari negeri China untuk menerapkan hukuman mati sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden China, Hu Jintao. Dimana informasi infokorupsi.com sejak tahun 1998 hingga Tahun 2007 tercatat 4.800 orang telah dihukum mati.

Akan tetapi penjatuhan hukuman mati mendapatkan tantangan dari beberapa kalangan seperti Kontras, ICW termasuk Komnas HAM. Hal ini sebagaimana dikatakan ifdal melalui viva.co.id “hukuman mati tidak akan efektif untuk mengurangi jumlah koruptor yang semakin merajalela.

Tingginya perbuatan korupsi, tidak ada korelasinya dengan hukuman mati. Bila tujuannya untuk membuat koruptor jera, pemerintah sebenarnya bisa melakukannya dengan cara lain.

Misalnya saja hukuman yang memiskinan terpidana korupsi, atau dengan mengucilkan mereka dari lingkungannya. Rasanya, itu justru akan lebih efektif daripada hukuman mati.

Dari dua model hukuman tersebut, mungkin belum menjadi domain kita saat ini karena yang terpenting bagaimana hukuman itu bisa membuat efek jera. Dan bagaimana Capres 2014 mempunyai komitmen untuk membangun hukum efek jera bagi para pelaku korupsi.

Hal ini sebagaimana kita masukan dalam kontrak politik Indonesia Bangkit, bahwa penghentian korupsi ini menjadi hal penting dilakukan oleh presiden 2014. Oleh karena itu adakah Capres RI 2014 berani dihukum mati ataupun hukuman berat lainnya.

Tak hanya itu, mereka juga harus memiliki fokus terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini dengan prinsip pegadaian menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah dan sesuai lagu disana senang disini senang.

Sehingga, bangsa Indonesia tidak berkutat terus pada masalah korupsi yang berkepanjangan. Kini, sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan berubah untuk mewujudkan Indonesia Baru. (mimbar-opini.com)

BERITA TERKAIT

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Menteri LHK: Pemulihan Lingkungan Era Jokowi Dilakukan dengan Langkah Berani

Menteri LHK: Pemulihan Lingkungan Era Jokowi Dilakukan dengan Langkah Berani NERACA Jakarta - Masyarakat dapat melihat dan membuktikan langkah-langkah berani…

Kajian ICW: Tren Penindakan Korupsi Pada 2018 Turun

Kajian ICW: Tren Penindakan Korupsi Pada 2018 Turun NERACA Jakarta - Kajian Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan tren penindakan korupsi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Manajemen Sampah Plastik

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tema debat Pilpres ke-2 Minggu (17/2) adalah ‘Energi, Pangan,…

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

Debat Capres Harusnya Tampilkan Tema Kelautan-Perikanan

Oleh: Muhammad Razi Rahman Debat calon presiden putaran kedua memang menampilkan tema pangan, yang di dalamnya juga termasuk pangan perikanan,…