Waspadai Sudden Stop

Di tengah kondisi cadangan devisa Indonesia yang kini merosot mencapai US$98,1 miliar (Juni 2013) , atau turun sekitar US$14 miliar dibandingkan posisi akhir 2012 US$112 miliar, pemerintah saatnya mewaspadai gejala Sudden Stop yang setiap saat bisa terjadi tanpa terduga sebelumnya.

Sudden Stop adalah sebuah fenomena ekonomi yang diibaratkan sebuah mobil sedang melaju kencang tiba-tiba terhenti akibat tabrakan mendadak. Kalau tidak ada sudden stop, mobil bisa tetap melaju dengan kencang tanpa kecelakaan. Contohnya adalah krisis keuangan yang menimpa negeri ini pada 1997/98. Saat itu, Indonesia sedang tumbuh dengan begitu meyakinkan sehingga disebut sebagai salah satu “Macan Asia”. Lalu krisis global datang secara tiba-tiba sebagai sebuah sudden stop.

Menurut pengamat ekonomi Iman Sugema, fenomena kecelakaan lalu lintas dengan sudden stop yang mengakibatkan bangkrutnya sebuah negara akibat aliran uang terhenti tiba-tiba. Banyak krisis keuangan terjadi bukan karena negara tersebut tidak memiliki kemampuan untuk membayar utang luar negeri, melainkan karena tiba-tiba kreditur tidak lagi mau memberi kredit.

Kekhawatiran terhadap krisis yang sama kini mulai timbul ke permukaan. Kita sedang mengalami fase pertumbuhan yang sangat tinggi di tengah-tengah situasi ekonomi global yang sedang sempoyongan akibat krisis utang di Eropa. Dalam situasi normal, pertumbuhan ekonomi sebesar 6% bukanlah hal yang luar biasa. Namun, saat terjadi pelemahan ekonomi melanda seperti sekaran, angka pertumbuhan sebesar itu hanya kalah tipis dari China yang saat ini mengalami pertumbuhan sekitar paling tinggi 7%.

Nah, di saat pertumbuhan sedang tinggi-tingginya, justru kekhawatiran terhadap bahaya sudden stop tiba-tiba muncul. Persoalannya memang bukan hal yang sepele, yakni tingginya utang luar negeri swasta dan masalah korupsi di lingkaran kekuasaan tertinggi. Dua hal yang sangat mirip dengan penyebab krisis moneter 1997/98.

Data statistik menunjukkan, utang luar negeri swasta telah mencapai US$126 milliar yang mungkin dapat meningkat atau menurun beberapa milliar US$ dalam waktu dekat ini, tapi sebenarnya bukan besaran utang yang jadi masalah. Pada kurun waktu yang sangat singkat, angka utang swasta terakumulasi secara high speed 2,5 kali lipat dari angka di kisaran US$50 milliar. Jangka waktu pembayarannya pun semakin singkat, yaitu rata-rata 10 bulan.

Dari gambaran itu, bahaya terbesar timbul bukan dari menggelembungnya utang, melainkan karena sifat utangnya yang berjangka pendek. Sebagai perbandingan, utang luar negeri pemerintah kira-kira jumlahnya sama dengan utang swasta, tapi profilnya relatif berbeda, yakni merupakan utang jangka panjang. Utang jangka panjang relatif kurang berbahaya.

Bahaya sudden stop mungkin timbul bukan karena swasta Indonesia tidak mampu bayar, tapi karena kreditur di luar negeri sedang kekurangan uang. Saat ini, di Eropa hampir semua lembaga keuangan sedang mengalami kesulitan karena debiturnya sedang menghadapi krisis. Sementara, bank-bank besar tetap mampu bertahan karena mendapat suntikan dana segar dari pemerintah dan Bank Sentral Eropa.

Bagaimana kalau tiba-tiba ada sebuah perusahaan besar atau sebuah negara sekecil Siprus menyatakan tidak sanggup bayar utang. Jelas kondisi ini menimbulkan bahaya bagi lembaga keuangan di Eropa dan Amerika Karena situasi keuangan sedang terganggu, bank akan memilih untuk memegang cash dalam jumlah yang lebih besar untuk berjaga-jaga.

Artinya, setoran cicilan dari debitur tidak lagi diputarkan dalam penyediaan kredit baru, tetapi diakumulasikan sebagai dana berjaga-jaga. Kalau semua bank di Eropa melakukan itu, pasar keuangan global akan mengalami kekurangan likuiditas. Imbasnya, sejumlah perusahaan di Indonesia akan kesulitan dalam melakukan roll-over terhadap utang yang jatuh tempo. Bukan karena kita tak sanggup bayar, melainkan kreditur tidak cukup punya uang untuk memberi utang baru. Ini tentu mengancam likuiditas perusahaan swasta di sini. Waspadalah!

Related posts