Paksakan IPO Tahun Ini, Hasilnya Bakal Jeblok - Investor Pilih Saham Existing

NERACA

Jakarta – Terus berfluktuasi pergerakan harga saham di pasar modal seiring dengan derasnya dana asing yang keluar membuat prospek penawaran saham perdana atau Initial Public Offering dalam tahun ini belum menjanjikan. Terlebih kondisi ekonomi makro juga negatif dengan terus direvisi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,8% dari proyeksi sebelumnya yaitu 6,2-6,6%. Selain itu, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, hingga Juni 2013 dana asing yang keluar dari pasar modal sebanyak US$ 2 miliar dan pasar domestik US$ 4 miliar.

Praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, kondisi pasar yang tidak menentu saat ini mempengaruhi kinerja saham-saham yang tercatat di pasar modal, termasuk pelaksanaan pencatatan saham umum perdana perusahaan. “Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun saat ini masih mengalami koreksi sehingga beberapa perusahaan yang listing di pasar modal tidak cukup maksimal untuk mencapai targetnya,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (8/7).

Dia mencontohkan, keberadaan tiga emiten baru yang listing di pasar modal saat ini pun, belum mampu menguatkan IHSG untuk bangkit. Tercatat, laju IHSG pada perdagangan Senin (8/7) ditutup anjlok di level 4433. Dia menilai, untuk saat ini aksi spekulasi investor asing cenderung tinggi, di mana asing menilai makro ekonomi Indonesia tidak solid.

Kebijakan pemerintah yang diambil belum lama inipun, sambung dia, juga menimbulkan persepsi yang negatif bagi pelaku pasar. Karena itu, masih terlalu dini untuk memproyeksikan IHSG kembali berada di level 5000. “Satu dua bulan ke depan diperkirakan masih koreksi di kisaran 4.500,” ucapnya.

Selain itu, sejumlah sentimen eksternal lainnya juga masih mengepung pasar. Salah satunya, adanya kekhawatiran kebijakan bank sentral AS terkait likuiditas pasar. Volatilitas pasar regional saat ini juga tercatat cukup ikut sehingga berimbas pada bursa saham Asia.

Sementara itu, Direktur Utama AAA Sekuritas, Andri Rukminto mengatakan, pelaksanaan IPO di tengah kondisi pasar saat ini berpengaruh terhadap jumlah penawaran saham dan harga saham yang ditawarkan. “Permintaan saat ini memang belum terlalu bagus sehingga bisa menurunkan size dan harga saham,” ucapnya.

Selain menyiasati jumlah dan harga saham yang dilepas, sambung dia, dalam melaksanakan IPO, perusahaan juga dapat menerbitkan waran saat IPO untuk menarik investor. “Kondisi penawaran juga menjadi pertimbangan. Kami juga baru berani melanjutkan rencana IPO ketika penawaran investor sudah 85% dari jumlah total saham yang dilepas. Jika sudah sampai segitu, maka prosesnya berlanjut,” jelasnya

Hal senada juga disampaikan analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan, prospek pasar IPO di semester kedua tahun ini tidak sebagus pada kuartal pertama. Imbasnya, investor lebih memilih saham existing dan lebih murah ketimbang memilih saham IPO, “Perusahaan yang akan listing tidak akan menyerap dana yang besar seperti kuartal pertama. Karena itu, biasanya calon emiten menurunkan size nya, atau yang baru listing itu harus lebih menarik dari yang sudah existing duluan,” tandasnya.

Oleh karena itu, calon emiten harus menunggu dan melihat perkembangan kondisi pasar modal pada momentum yang tepat. Biasanya, jika calon emiten tetap ngotot untuk melakukan listing, umumnya mereka sudah mendapat investor besar untuk melakukan pembelian. \"Jadi sisanya itu hanya untuk cari tambahan-tambahan dana saja,\" imbuh dia.

Kendatipun demikian, lanjutnya, saat ini investor sebenarnya bukan melihat dari kondisi makro ekonomi Indonesia tetapi melihat kebijakan BI Rate yang akan menyebabkan naiknya inflasi tahunan, sehingga memicu investor menahan diri berinvestasi di pasar saham.\"Naiknya BI rate itu memungkinkan inflasi di 7 - 8% serta juga mempengaruhi bunga deposito,\" tutur Alfred.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, meskipun masalah dalam negeri seperti perlambatan ekonomi dan defisit neraca perdagangan memberikan sentimen negatif bagi pasar modal. Namun, pihaknya tetap mengharapkan target IPO tahun ini dapat terlampaui atau paling tidak capai target.“BEI terus menyakinkan kepada calon emiten bahwa industri pasar modal masih memiliki pertumbuhan sehingga perusahaan peminat IPO mesih marak,\" katanya.

Lebih lanjut lagi dia menyebut, dalam proses IPO, pihaknya tidak dapat intervensi terhadap aksi korporasinya. Pihaknya hanya memberikan gambaran kondisi pasar modal domestik maupun globalnya. Sepanjang tahun 2013 ini, IHSG di BEI masih memiliki pertumbuhan sekitar 9,54%.

Menurutnya, minat perusahaan untuk IPO masih cukup tinggi di dalam negeri. Bahkan, dirinya menyayangkan kepada perusahaan yang menunda untuk IPO pada tahun ini di tengah maraknya perusahaan melakukan ekspansi.

Sedangkan terkait dengan kondisi pasar modal saat ini, dirinya mengungkapkan memang kondisi pasar modal sedang menurun yang diakibatkan adanya sentiment negatif dalam negeri, namun secara fundamental, kinerja emiten sangatlah baik.“Apabila melihat kuartal I tahun 2013, kinerja emiten dapat dibilang sangat baik dengan mencatatkan pertumbuhan laba bersih,” tandas Hoesen.

Related posts