Pembangunan Infrastruktur Butuh Dana Rp1.786 T

Pembangunan Infrastruktur Butuh Dana Rp1.786 T

Jakarta----Pemerintah membutuhkan dana sekitar sebesar Rp1.786 triliun untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur dalam 15 tahun ke depan. Adapun dana investasi tersebut digunakan untuk pembangunan jalan sebesar Rp339 triliun, pelabuhan sebesar Rp117 triliun, bandara Rp32 triliun, dan rel kereta api sebesar Rp326 triliun.

Menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, untuk pengembangan infrastruktur koridor Sumatra indikasi investasinya mencapai sekitar Rp473 triliun, diantaranya adalah untuk infrastuktur jalan sebesar Rp109 triliun, infrastruktur pelabuhan Rp9 triliun, infrastruktur rel kereta Rp70 triliun, dan infrastruktur bandara Rp4 triliun.

Sementara itu untuk infrastruktur transportasi di koridor ekonomi Sumatera, lanjut Bambang, direncanakan pengembangan pelabuhan utama kelapa sawit di Dumai serta pelabuhan utama karet di Pekanbaru, Dumai, Medan, Palembang, dan Jambi. "Selain itu, ada pembangungan jalur KA angkutan kelapa sawit dan pembangunan jalur KA angkutan batu bara di Sumatra bagian selatan," terangnya.

Sedangkan khusus untuk kereta api, Wamenhub menyatakan bahwa kereta api menjadi backbone bagi angkutan barang di Jawa dan Sumatra. Saat ini, sudah terdapat layanan KA barang Cilegon-Surabaya yang mengangkut Hot Rolled Coil (HRC) milik PT. Krakatau Steel. "Sebaliknya, KA tersebut mengangkut pupuk phonska hasil produksi Petrokimia Gresik ke Pelabuhan Cigading," tambahnya.

Yang jelas, kata Wamenhub, pengangkutan barang melalui KA tersebut setara dengan penggunaan 100 truk per hari yang melintas di Pantura. Untuk Kalimantan, Wamenhub menambahkan, saat ini ada perusahaan swasta yang berinvestasi dalam pembangunan jalan KA Puruk Cahu-Bangkuang di Provinsi Kalimantan Tengah dengan panjang track 185 km. Sedangkan di Kalimantan bagian Timur, ada investasi yang cukup besar oleh perusahaan dari Timur Tengah dalam membangun KA untuk mengangkut aluminium dan baja.

Sementara itu, ekonom senior Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chauduri menambakan Indonesia memiliki tiga tantangan jangka pendek yang harus diperhatikan dalam pembangunan infrastruktur. "Pertama adalah harga minyak dunia yang terus merangkak naik sehingga langsung berdampak pada meningkatnya anggaran pemerintah, khususnya untuk subsidi BBM," ujarnya.

Dikatakan Shubham, anggaran pemerintah untuk memberikan subsidi BBM ini mencapai Rp95 triliun rupiah dan jika harga minyak terus merangkak naik, maka anggaran subsidi ini bisa mencapai Rp95 triliun. "Saat ini, biaya subsidi sudah mencapai seperempat total belanja pemerintah. Belanja publik meningkat, khususnya untuk opportunity cost yang lebih tinggi. Padahal masih ada kebutuhan pembangunan lain yang mendesak seperti pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial," lanjutnya.

Dua hal lain yang menjadi ancaman besar adalah isu tentang utang di zona Eropa khususnya Euro dan tingginya harga pangan global. "Utang Yunani, mungkin tidak berdampak langsung pada Indonesia, sekarang posisi Indonesia pun masih dalam posisi yang moderat. Kenaikan harga pangan seperti global pun harus diperhatikan khususnya beras," paparnya.

Pembangunan infrastruktur menjadi hal pokok dalam program masterplan percepatan dan pembangunan ekonomi Indonesia tahun 2011-2015 mendatang. Masterplan ini berfungsi sebagai alat transformatif yang keberhasilan penerapannya bergantung pasar kebijakan, investasi, komitmen politik dan koordinasi yang tepat. "Koordinasi antara pemerintah pusat-daerah untuk supply chain adalah suatu hal yang harus terus di awasi dan dievaluasi. Swasta, akan membiayai sekira 50% dari pembangunan infrastruktur ini," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Bulan Dana PMI Depok Ditargetkan Rp1,79 Miliar

Bulan Dana PMI Depok Ditargetkan Rp1,79 Miliar NERACA Depok - Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok menargetkan penggalangan dana kemanusiaan…

Danai Pembangunan Pabrik - Chandra Asri Kantungi Pinjaman US$ 170 Juta

NERACA Jakarta – Ekspansi bisnis PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) terus agresif. Apalagi, bisnis perseroan makin leluasa setelah fasilitas…

Bidik Bisnis Tumbuh 10% di 2019 - Tifa Finance Butuh Pendanaan Rp 1 Trliun

NERACA Jakarta – Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Tifa Finance (TIFA) menargetkan bisnis cukup konservatif dnegan menetapkan target pertumbuhan 5%-10% di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Aturan Taksi Online Diteken Menhub

      NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah menandatangani peraturan baru taksi daring setelah Peraturan…

Utang Luar Negeri Naik Jadi Rp5.227 Triliun

      NERACA   Jakarta - Utang luar negeri Indonesia meningkat 5,3 persen (tahun ke tahun/yoy) pada akhir Oktober…

Pekerja Migran Bantu Devisa Negara

    NERACA   Sukabumi - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan keberadaan pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI)…