BI Tegaskan Nilai Tukar Jangan Terikat Batas Psikologis

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah tidak boleh terikat dengan batas psikologis dengan besaran nominal tertentu. Pernyataan tersebut diutarakan Gubernur BI Agus Dermawan Wintarto Martowardojo di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/7). Menurut dia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tidak boleh di atas Rp10 ribu, bukan berarti sifatnya mutlak.

“Tidak ada batas psikologis, dan kita tidak boleh terikat di situ,\" kata Agus Marto. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemarin bergerak melemah sebesar lima poin menjadi Rp9.945 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.940 per dolar AS. Hal ini menyusul penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia periode Juni 2013 menjadi sebesar US$98,1 miliar dari sebelumnya US$105,1 miliar.

Sementara kurs tengah Bank Indonesia pada Senin sore tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya ke posisi Rp9.960 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.945 per dolar AS. Agus Marto kembali menegaskan, tugas utama BI adalah menjaga nilai tukar rupiah yang mencerminkan kondisi fundamental.

\"Sama halnya seperti (cadangan devisa) yang sebesar US$100 miliar. Itu tidak boleh kurang. Dan itu semua adalah batasan psikologis yang tidak boleh kita terikat juga,\" terang dia. Namun dirinya mengatakan, pemerintah bersama BI juga harus mencegah terjadinya volatilitas dengan gejolak yang tinggi yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah terdepresiasi terlalu dalam.

\"Tapi kita juga musti menghindari terjadinya volatilitas yang terlalu bergejolak dan akhirnya membuat (pasar) tidak percaya diri atas rupiah itu sendiri,\" tutur Agus Marto.

Di tempat terpisah, ekonom Lana Soelistianingsih menjelaskan, penurunan cadangan devisa itu disebabkan tekanan permintaan valuta asing yang besar untuk repatriasi aset seperti pembagian deviden, keuntungan dari pemodal asing, pembayaran utang luar negeri terutama utang swasta.

Selain itu, lanjut dia, juga karena keluarnya modal asing dari pasar obligasi dan saham senilai total US$4 miliar. Dia menambahkan, dari pasar obligasi tercatat dana asing yang keluar sebesar Rp19,98 triliun atau setara dengan US$2 miliar, dan dari pasar saham tercatat keluar sebesar lebih dari US$2 miliar.

\"Meski demikian, posisi cadangan devisa itu masih memberikan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah, masih bisa dianggap aman walaupun cukup sensitif terhadap pergerakan rupiah ditengah penguatan dolar AS saat ini,\" kata dia.

Sementara Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan, tenaga kerja baru AS sebesar 195 ribu tenaga kerja untuk Juni 2013, memperkuat spekulasi The Fed akan mengurangi program stimulus moneter pada September 2013 mendatang.

\"Jumlah tenaga kerja baru menjadi salah satu indikator The Fed untuk mengurangi stimulus moneternya. Akibat spekulasi tersebut mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia menguat,\" kata Ariston.

Sebelumnya, bank sentral menyebutkan depresiasi rupiah mencapai 3,01% (year to date/ytd), relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang negara-negara lain di kawasan. Depresiasi rupiah di Indonesia lebih rendah dibandingkan depresiasi di Filipina sebesar 4,94%, Singapura 3,97%, dan Malaysia 3,13%, Jepang 14%, dan Korea 7%. Perkiraan kebijakan pelonggaran moneter atau quantitative easing akan dihentikan oleh The Fed berdampak kepada tekanan nilai tukar di Indonesia, dan juga berdampak kepada nilai tukar negara lain di kawasan. [ardi]

Related posts