Produsen Masih Kesulitan Tentukan Harga Jual - Mobil Murah Dibanderol Rp 95 Juta/Unit

NERACA

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2013 terkait regulasi produksi mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) pada Juni lalu. Namun, hingga kini produksi mobil itu ternyata belum dapat dilakukan.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkap, sampai saat ini banyak pengusaha otomotif yang masih kesulitan menetapkan harga yang akan dibanderol pada mobil ramah lingkungan. \"Produsen kesulitan memproduksi mobil seharga Rp95 jutaan,\" ujar Hidayat di Jakarta, Senin (8/7).

Permasalahan yang dihadapi, Hidayat melanjutkan, antara lain penggunaan komponen suku cadang dan teknologi yang akan digunakan di mobil tersebut. Biaya produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan harga jual. \"Harga Rp95 juta itu acuan maksimal. Tapi, masih ada space yang dijadikan patokan, yakni masalah transmisi 15% dan kemungkinan mengadopsi teknologi baru kira-kira 10%,\" kata Hidayat.

Meski demikian, Hidayat meyakini permasalahan ini bisa disiasati. Tahun ini, para produsen diperkirakan bisa memproduksi mobil murah hingga 75 ribu unit. \"Setahu saya ada yang sudah melakukan stok. Karena pasarnya itu besar, bisa 300 ribu unit per tahun nantinya,\" kata Hidayat.

Kementerian Perindustrian, Hidayat menambahkan, juga telah membuat peraturan menteri sebagai petunjuk pelaksanaan produksi mobil LGCC. Saat ini, naskahnya sudah diserahkan kepada Kementerian Hukum dan HAM untuk tahap finalisasi.

Hdayat berharap, dengan upaya-upaya yang dilakukan ini, Indonesia dapat menyaingi India sebagai produsen mobil murah di dunia. Menurut dia, India kini bisa memproduki 40 juta unit mobil murah per tahun.\"Kalau soal murah-murahan, India juara. Tapi kualitas, Indonesia lebih unggul,\" kata Hidayat.

Sebelumnya para pemain mobil murah sudah mempersiapkan dan membocorkan produknya, di antaranya, Suzuki, Datsun, hingga Honda.

Lantas, bagaimana persiapan Toyota Agya, apakah nyalinya akan menciut melihat kompetitor yang juga siap terjun di pertarungan mobil murah? General Manager of Corporate Planning and Public Relation Toyota Astra Motor, Widyawati mengungkap hadirnya kompetitor sudah kami perkirakan. Karena planning ini sudah dirancang jauh hari, sebelum mereka hadir. Kami sudah perhitungkan.

Widyawati menyatakan, munculnya para pemain mobil murah, membuat Toyota tetap gencar dan optimistis bahwa Agya bisa menarik hati konsumen di pasar nasional.\"Kami tidak akan lakukan perubahan atau penambahan lagi. Mobil Agya tetap sama seperti yang pernah diperkenalkan September lalu di IIMS (Indonesia International Motor Show),\" kata dia.

Untuk mengembangkan Agya, Widyawati melanjutkan, Toyota Astra Motor sudah melakukan studi selama 5-7 tahun. \"Jadi, tidak mungkin sebuah mobil itu akan diubah dengan cepat, butuh waktu,\" ungkapnya.

Mengenai harga, menurut dia, Toyota masih menunggu petunjuk pelaksanaan dari peraturan pemerintah itu. Untuk itu, Toyota belum berani membocorkan berapa harga Agya.\"Kalau ada yang pesan boleh, tetapi itu masuknya indent list, dan kami belum bisa putuskan berapa biayanya,\" tutur Widyawati.

Sementara itu, di antara mobil murah yang telah siap, salah satunya adalah Suzuki. Selain sempat memperlihatkan mobil konsep bernama G-II di ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan tiba-tiba menghilang, produsen mobil berlambang S itu kedapatan menjajal G-II di beberapa jalanan di Jakarta dan sekitarnya.

Tidak hanya itu, Datsun yang kembali dihidupkan perusahaan mobil Nissan, juga baru-baru ini resmi memperlihatkan teaser-nya. Bahkan, banyak yang menilai mobil murah Datsun lebih terlihat modern dan futuristik. Di Indonesia, rencananya Datsun baru akan dijual tahun depan. Selai itu, Honda akan menyusul mobil murahnya dengan nama Brio Satya. Dugaan sementara, mobil tersebut akan menggunakan platform hatchback Brio.

Related posts