Perusahaan Diminta Tingkatkan Kualitas CSR - Krisis Air Bersih Mulai Marak

Melalui program Community Development,kegiatan CSR yang diberikan dapat menjadi asset produktif yang efektif dan berkesinambungan, serta mampu menjawab akar permasalahan dalam menghindari dampak krisis air bersih

NERACA

Dunia mempunyai air bersih yang tersimpan di dalam tanah, permukaan bumi dan atmosfera.Namun, seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia pada abad ke-20 mengurangkan kuantiti air bersih. Hal ini di perparah dengan musim kemarauyang mengganggu keseimbangan bekalan air bersih.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, saat ini sekitar 780 juta orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih, dan hampir 2,5 miliar orang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai. Jika krisis air terus berlanjut, diprediksi pada 2050 dua pertiga penduduk bumi bakal kekurangan air bersih.

Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan air minum penduduk Indonesia, baru mencapai 55,04 %. Artinya, ada sekitar 80 juta masyarakat Indonesia yang belum terpenuhi kebutuhan air minumnya.

Karena itu, pemerintah telah melakukan program-program penyediaanair bersih. Namun program untuk menghindari dampak krisis air bersih tentunya juga harus diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk kesadaran dunia industri terhadap lingkungan disekitarnya. Seperti yang dilakukan oleh PT Cikarang Listrindo (PT CL) misalnya.

PT CLmemperkenalkan komunitas relawan yang diinisiasi secara mandiri oleh para karyawan dan pekerja untuk melaksanakan tugas-tugas sosial kemanusiaan terutama yang berkaitan dengan penanganan krisis air bersih di kawasan kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Chief Administration Officer (CAO) PT Cikarang Listrindo, Rifqi Hakimmenuturkan bahwa telah terjadi perubahan nilai dan kualitas CSR dilingkungan PT Cikarang Listrindo. Perubahan tersebut bersifat holistik dan terintegrasi, mulai dari kualitas pemilihan program, cakupan pemetik manfaat hingga proses pelaksanaan program.

“Konsistensi CSR PT CL selama ini masih bersifat sesaat seperti perbaikan sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, bantuan penanggulangan bencana atau pengobatan gratis. Kali ini PT CL mentargetkan program Community Developmentagar kegiatan CSR yang kami berikan menjadi asset produktif yang efektif dan berkesinambungan, mampu menjawab akar permasalahan serta sesuai dengan kebutuhan,” jelasRifqi.

Dari sisi kualitas program, lanjut dia, PT CL kini menarget program pengembangan masyarakat (Community Development) yang berkelanjutan, yaituprogram pembangunan instalasi air bersih (IPAB)yang direncanakan segera dibangundi Desa Muara Bakti dan desa Buni Bakti di kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi Jawa Barat mulai Sabtu, 6 Juli 2013. “Perubahan nilai ini rupanya “menular” hingga para karyawan dan pekerja. “Terbukti ideemployee volunteersini langsung diinisiasi oleh para pekerja dan telah diikuti lebih dari 100 orang relawan dari berbagai level,“ kata Rifqi.

Menanggapi hal tersebut, Vice President Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Hajarmengatakan bahwa hal ini sebagai pertanda peningkatan kesadaran dunia usaha dalam memberikan komitmen terhadap lingkungan sekitarnya. Rasa kebersamaan menuju kemandirian masyarakat merupakan kunci sukses sebuah program CSR, dan PT CL telah memulainya dengan sangat serius, ujarnya.

Sebelum memutuskan program apa yang terbaik bagi masyarakat Babelan misalnya, PT CL bersama ACT melakukan upaya dialog dengan warga setempat, melakukanFocus Group Discussion (FGD)yang kemudian memaparkan sejumlah keinginan masyarakat. Dari sekian banyak harapan, dipilihlah program air bersih sebagai prioritas. “Nama “IPAB” atau instalasi pengelolaan air bersihpun lahir dari inisiatif warga,” tambah Ibnu.

Hasil FGD kemudian ditindak lanjuti dengan survey lapangan,dan dari hasil temuan relawan ahli, urgensi pembangunan IPAB bagi masyarakat Babelan terutama di Desa Muara Bakti dan Buni Bakti sangat mendesak. Uji standar kemurnian air(total dissolved solid)di Sungai Muara Bakti pada kedalaman dangkal 15 meter maupun 120 meter keduanya menunjukkan 2000 ppm walaupun dengan tingkat kejernihan berbeda. Padahal batas normal standar kemurnian air sungai adalah 500-1000ppm.

“Tanpa IPAB, warga Babelan terancam berbagai penyakit akibat minimnya persediaan air bersih,” tutup Ibnu.

Related posts