Bangun PLTU di Mulut Tambang Akan Dapat Insentif

NERACA

Jakarta - Demi mempercepat pembangunan Pembangkit Listruk Tenaga Uap (PLTU), rencananya pemerintah akan memberikan insentif kepada perusahaan yang telah memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Thamrin Sihite menyatakan insentif akan diberikan kepada perusahaan yang membangun PLTU khususnya di mulut tambang.

Thamrin menuturkan hingga saat ini baru PT Bukit Asam yang telah melakukan pembangunan PLTU di mulut tambang. \"Kita akan memberikan insentif tertentu bagi perusahaan tambang yang sudah mengantongi IUP dan akan membangun PLTU di mulut tambang,\" ujar Thamrin di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Selain memberi insentif, lanjut dia, pemerintah juga akan membentuk payung hukum untuk memastikan listrik yang dihasilkan dari PLTU tersebut akan dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan harga yang pantas. \"PLN sudah menyatakan akan membeli listriknya,\" tegas dia.

Tujuh Cluster

Sementara itu, guna membantu pelayanan teknis di tambang mineral dan batubara, Kementerian ESDM akan membentuk tujuh cluster yang tersebar di wilayah-wilayah pertambangan batubara seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa-Bali, dan Papua.

Tidak hanya PT Bukit Asam yang telah membangun PLTU di mulut tambang, namun PT PLN (persero) juga berencana mengembangkan beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di dekat mulut tambang Sumatera. Ini menjadi target PLN hingga 2021. Direktur Utama PT PLN Nur pamudji seperti mengutip dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN periode 2012-2021, terdapat rencana pengembangan beberapa PLTU mulut tambang di Sumatera.

Definisi PLTU mulut tambang di sini adalah PLTU batu bara yang berlokasi di dekat tambang batu bara low rank yang tidak mempunyai infrastruktur transportasi yang memungkinkan. \"Batu bara diangkut ke pasar secara besar-besaran, sehingga batu bara low rank di tambang tersebut pada dasarnya menjadi tidak tradable. Dengan definisi seperti itu, harga batu bara untuk PLTU Mulut Tambang diharapkan ditetapkan dengan formula cost plus,\" kata Pamudji.

Menurut Pamudji, PLTU batu bara dirancang untuk memikul beban dasar sejalan dengan harga batu bara yang relatif rendah dibandingkan harga bahan bakar fosil lainnya.

Namun pembakaran batu bara menghasilkan emisi karbondioksida yang menimbulkan efek pemanasan global, selain menghasilkan polusi partikel dan limbah kimia yang dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan lokal. \"Dengan demikian pengembangan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Penggunaan teknologi ultra-supercritical pada PLTU menjadi perhatian PLN dalam merencanakan PLTU skala besar di pulau Jawa,\" jelas Pamudji.

Pamudji mengungkapkan, teknologi batu bara bersih (clean coal technology) lainnya, yaitu IGCC (integrated gasifi cation combined cycle) dan CCS (carbon capture & storage) belum direncanakan dalam RUPTL ini karena teknologi ini belum matang secara teknis dan komersial.

PLN pada saat ini telah dapat mengelola pasokan batubara dengan lebih baik dari aspek kecukupan dan kualitas. \"Harga batu bara di pasar internasional yang cenderung turun sepanjang tahun 2012 akibat melemahnya permintaan batu bara global telah membuat ketersediaan batubara untuk pasar domestik meningkat,\" tutur Pamudji.

Tahun lalu, Direktorat Ketenagalistrikan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan peraturan baru bernomor 553-12/20/6000.3/2012 tentang pembangkit listrik tenaga uap (PTU) yang terletak di mulut tambang batubara. Peraturan baru ini menggantikan peraturan nomor 192-12/40/600.1/2006.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, peraturan baru tersebut bertujuan mengamankan kebutuhan pasokan batubara pembangkit yang berlokasi di mulut tambang. Pasalnya di dalam peraturan tersebut, batubara yang digunakan untuk memasok pembangkit mulut tambang tidak harus berkalori rendah. \"Mengenai jenis kalori, silahkan menggunakan apa saja, yang penting secara ekonomis lebih menguntungkan bagi PLTU Mulut Tambang,\" kata dia.

Di dalam peraturan sebelumnya, PLTU Mulut Tambang wajib memakai batubara berkalori rendah. Akibatnya, banyak pembangkit yang berlokasi di dekat area pertambangan batubara kalori tinggi kelabakan mencari pasokan.

Selain membolehkan penggunaan batubara dengan semua jenis kalori, Jarman mengatakan, untuk membangun PLTU di mulut tambang juga bisa menggunakan pola integrated. Artinya, para pemilik kuasa pertambangan (KP) batubara ikut terlibat untuk membangun PLTU seperti laiknya memiliki saham di pembangkit tersebut.

Jarman menilai, dengan pola terintegrasi ini, keberlangsungan pasokan batubara untuk PLTU semakin terjamin. \"Untuk jaminan pasokan, silakan integrated karena saat ini banyak PLTU Mulut Tambang yang belum mendapat jaminan pasokan batubara,\" kata Jarman.

Ketentuan baru mengenai jenis batubara yang dipakai PLTU Mulut Tambang hanya satu dari beberapa ketentuan baru di aturan ini. Selain itu, ketersediaan pasokan batubara PLTU Mulut Tambang harus dijamin selama beroperasinya pembangkit tenaga listrik tersebut, sesuai dengan masa kontrak. Lokasi pembangkit, sesuai sebutannya, juga harus berada di sekitar mulut tambang.

Related posts