Produk Furnitur Berpeluang Mendunia - Buah Manis Larangan Ekspor Bahan Baku Rotan

NERACA

Jakarta - Beberapa waktu lalu, industri rotan dalam negeri mengalami masa sulit karena ekspor bahan baku secara massal. Namun setelah pemerintah mengeluarkan regulasi untuk menghentikan ekspor bahan baku mentah, industri rotan dalam negeri mulai menunjukan kemajuan besar.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi mengatakan bahwa furnitur adalah salah satu produk lokal yang patut dipromosikan di kancah dunia. \"Kekayaan bahan baku alam Indonesia jadi modal utama berkembangnya industri furnitur,\" kata Benny di Jakarta, akhir pekan lalu.

Benny menyebut rotan, salah satu bahan baku furnitur Indonesia, memiliki peluang untuk mendunia dengan perubahan gaya hidup yang mengarah pada prinsip ramah lingkungan. Pameran yang disebut akan menjadi pameran furnitur terbesar se-Asia Tenggara akan berlangsung di dua tempat, yaitu JIExpo pada 11-14 Maret 2014 dan Jakarta Convention Center pada 12-15 Maret 2014.

IFEX akan memamerkan beragam mebel kayu, rotan, dan bambu untuk beragam kebutuhan, seperti interior rumah, dapur, kerajinan, mebel dari panel, dan mebel untuk anak-anak. Dukungan pemerintah dengan membatasi pengiriman bahan baku furniture khususnya rotan ke luar negeri sudah memperlihatkan dampak yang positif.

Nilai ekspor funiter pun diklaim sejak dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2011 ekspor furniture mencapai US$1,38 miliar dan meningkat pada tahun 2012 menjadi US$1,4 miliar. Melihat potensi yang besar ini, pemerintah bersama swasta melalui Indonesia International Funiture Expo (IFEX) 2014 berharap ajang ini mampu menjembatani para pelaku industri rotan untuk unjuk gigi.

Tampilkan Produk

Di tempat yang sama, Dirjen Peningkatan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan, pameran ini diharapkan mampu menjembatani para pelaku furniture di dalam negeri untuk menampilkan produk ciptaan mereka dihadapan buyer luar dan dalam negeri. “Pameran ini harus dimamfaatkan semaksimal mungkin oleh para produsen untuk menampilkan produk terbaik mereka,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto menambahkan, pameran ini mengangdeng organaiser dari luar yaitu UBM yang sudah terkenal sepak terjangnya dikalangan pecinta funiture Asia. “Kita berharap dengan kerjasama pada pameran ini, UBM mampu mendatangkan banyak buyer dari seluruh penjuru dunia,” katanya.

Soenoto memprediksi pameran ini bakal dihadiri 10.000 buyers dari dalam dan luar negeri serta menghasilkan transaksi 2 kali lipat dari nilai transaksi di Trade Expo lalu. Selain itu, katanya, diharapkan terbangun citra positif di tingkat internasional bahwa Indonesia adalah negara penghasil produk mebel dan kerajinan terbaik di dunia.

Pada pameran JIExpo akan ditampilkan berbagai pilihan mebel kayu, rotan dan mebel bambu untuk ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, ruang keluarga, serta mebel untuk anak-anak. Sedangkan pameran di JCC akan menampilkan mebel dapur, kerajinan, mebel dari panel dan interior rumah.

Soenoto mengatakan IFEX 2014 akan mempertemukan peserta pameran dan pengunjung dari Indonesia dan seluruh dunia, dengan menampilkan produk berkualitas tinggi dengan desain unik yang mencerminkan keindahan alam Indonesia dan keterampilan pengrajinnya.

Saat ini, kata dia, Indonesia memiliki lebih dari 6.000 perusahaan mebel menengah dan kecil, pasar domestik, yang tumbuh cepat dan diversifikasi yang naik terutama pada kelas menengah. Sementara itu penjualan domestik mebel dan perabotan rumah tangga diperkirakan mencapai lebih dari US$ 700 juta per tahun, sedangkan ekspor mebel mencapai US$ 2,2 miliar.

Dorong Hilirisasi

Pada kesempatan sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun mengungkap peningkatan nilai tambah rotan mampu membantu menumbuhkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan perolehan devisa, peningkatan keterampilan, dan menumbuhkembangkan industri pendukung terkait lainnya.

“Indonesia merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia, diperkirakan 85% bahan baku rotan di seluruh dunia dihasilkan oleh Indonesia, sisanya dihasilkan oleh negara lain seperti Philippina, Vietnam dan negara-negara Asia lainnya. Daerah penghasil rotan di Indonesia tersebar di Pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua,” ujar Wamenperin.

Selama ini, menurut Wamenperin, rotan mentah diekspor tanpa diolah sehingga nilai tambahnya diperoleh negara lain. Karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor rotan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan yang berlaku pada tahun 2012.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, Kementerian Perindustrian juga telah mengeluarkan peraturan tentang alur pemetaan (road map) industri furnitur, terutama furnitur rotan. Hal tersebut tertuang dalam Permenperin No. 90 Tahun 2011 tentang Peta Panduan Pengembangan Klaster Industri Furnitur Tahun 2012-2016.

Related posts