Rupiah vs Cadangan Devisa

Oleh : Firdaus Baderi

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Fluktuasi nilai tukar tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini memang membuat masyarakat cukup prihatin. Pasalnya, kurs rupiah yang mencapai ambang batas Rp 10.000 per US$ dianggap sebagai momok menakutkan, mengingat pengalaman trauma krisis 1997/98 dimana nilai tukar rupiah sempat terkerek hingga Rp 16.950 per US$.

Kondisi 1997/98 tentu sudah berbeda dengan tahun ini. Apalagi Bank Indonesia sudah terbukti melakukan intervensi menahan laju depresiasi (penurunan) nilai rupiah agar tetap dalam batas yang wajar (genuine) selaras dengan fundamental ekonomi nasional, walau konsekuensinya menggerus cadangan devisa yang sampai akhir Juni 2013 mencapai US$98,1 miliar, atau menurun sekitar US$14 miliar dibandingkan posisi akhir 2012 US$112 miliar.

Kita menyadari bahwa sistem kurs matauang yang dianut pemerintah saat ini adalah free floating (mengambang bebas) terkait dengan sistem devisa bebas yang independen dalam kebijakan moneter termasuk penetapan suku bunga. Konsekuensinya, efek nilai tukar dapat terjadi melalui transmisi langsung (direct passthrough), dimana perubahan kurs mempengaruhi harga impor barang. Sementara indirect passthrough, perubahan nilai tukar mempengaruhi daya saing produk ekspor di pasar internasional.

Fluktuasi kurs rupiah juga dapat disebabkan pengaruh hot money yang keluar dari negeri ini. Faktor hot money yang bersifat spekulatif ini merupakan cerminan dari ekspektasi yang berlebihan dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih membutuhkan pendanaan eksternal.

Sementara itu, faktor fundamental yang menyebabkan naik turunnya kurs rupiah juga dipengaruhi secara signifikan oleh genuine demand dari pemerintah a.l. dalam bentuk kebutuhan valas oleh BUMN dan swasta seperti pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan valas untuk impor. Di sisi lain, penerimaan valas dari hasil ekspor, pencairan pinjaman luar negeri dan transfer masuk lainnya, pada akhirnya mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran yang muaranya akan mempengaruhi nilai tukar rupiah relatif terhadap valas.

Adapun pengelolaan cadangan devisa oleh BI dilakukan melalui berbagai jenis transaksi devisa yaitu menjual, membeli, dan/atau menempatkan devisa, emas dan surat‐surat berharga secara tunai atau berjangka termasuk pemberian pinjaman.

Dalam melakukan pengelolaan cadangan devisa, juga selalu mempertimbangkan 3 (tiga) azas utama dengan skala prioritas, yaitu likuiditas, keamanan (safety) tanpa mengabaikan prinsip untuk memperoleh pendapatan yang optimal (profitability). BI pun harus siap-siap dengan intensitas atau frekuensi pergerakan devisa yang semakin meninggi. Rasanya, BI mempunyai sistem informasi yang handal untuk mengelola informasi tersebut.

Yang penting sekarang, Bank Indonesia harus mampu menjelaskan ke masyarakat luas tentang makna penurunan cadangan devisa di tengah laju depresiasi rupiah terhadap US$ secara komprehensif. Bagaimanapun, pengelolaan cadangan devisa yang terukur dan optimal, merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Related posts