BI: Fit & Proper Test Ulang Telah Selesai - Direksi Citibank

Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah selesai melakukan fit and proper test ulang terhadap direksi Citibank. Pihaknya kini sedang menunggu respon Citibank atas hasil fit and proper test tersebut. "7 Juni lalu, kami telah selesai melakukan fit and proper test ulang pada jajaran direksi Citibank. Kami sekarang memberi waktu 40 hari masa kerja untuk mereka memberi respons atas hasil tersebut," ungkap Direktur Pengawasan Bank II Endang Sedyadi dalam media briefing di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, Endang menyatakan, sampai saat ini belum ada tanggapan Citibank terkait hasil fit and proper test tersebut. Pihaknya pun tidak mau menyebut hasil dari fit and proper test tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, pasca kasus Malinda Dee dan Irzen Octa, BI kembali melakukan fit and proper test ulang pada lima direksi Citibank yang diantaranya berasal dari divisi C00, retail, landmark head branch office, dan head of collection dan lainnya.

Terkait kesalahan yang dilakukan Citibank, BI juga menginstruksikan Citibank untuk menonaktifkan penjabat eksekutif bank yang terlibat kasus layanan prioritas (Citigold) dan kartu kredit. "Dan ini sampai dengan selesainya fit and proper test oleh BI," kata Deputi Gubernur BI Budi Rochadi kala itu.

BI juga menginstruksikan kepada Citibank untuk mengimplementasi manajemen risiko dan pengendalian intern, serta melakukan langkah-langkah perbaikan sesuai hasil pemeriksaan dan hasilnya segera disampaikan kepada BI. "Serta Citibank tidak boleh membuka kantor baru selama satu tahun terhitung sejak 6 Mei 2011," jelasnya.

BI juga meminta kantor pusat Citibank Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi pengendalian intern Citibank cabang Jakarta.

Sebelumnya dikabarkan, Mabes Polri menyatakan, fraud atau kekacauan yang terjadi di Citibank yang melibatkan mantan Relationship Manager Citibank N.A Cabang Indonesia Inong Malinda Dee diduga telah menggelapkan dana 123 nasabah Citigold sejak Juni 2009. Namun, dari seluruh nasabah yang dirugikan tersebut, hanya tiga orang yang melaporkan kasus pembobolan dana tersebut ke Mabes Polri.

Dalam proses pengejaran aset pada kasus ini, Mabes telah menyelamatkan Rp12 miliar atau sekira 80 persen dari kerugian yang timbul. Penyelamatan aset tersebut dilakukan dengan menyita sejumlah harta benda yang dimiliki oleh Malinda.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Harus Berkomitmen Terhadap Perda Yang Telah Dibuat - Melalui HPN

Pemerintah Harus Berkomitmen Terhadap Perda Yang Telah Dibuat Melalui HPN NERACA Kuningan – Dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2019,…

Chareon Pokphand Rombak Susunan Direksi

NERACA Jakarta – Hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membuahkan hasil berupa perubahan susunan…

Masuki Usia Ke-69 Tahun - BTN Telah Realisasikan Kredit Rp 523 Triliun

NERACA Jakarta - Menginjak usia yang ke 69 pada tanggal 9 Februari lalu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…