Investor Asing Diprediksi Akan Kembali Masuk

NERACA

Jakarta-Volatilitas pasar saham dan banyaknya investor asing yang menarik dananya telah berdampak signifikan pada harga-harga saham sepanjang 2013. Oleh karena itu, memasuki semester kedua ini yang berbarengan dengan bulan ramadan diprediksikan akan memicu kembali “gairah” transaksi saham di pasar modal.

Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, perdagangan saham yang biasanya relatif sepi pada ramadan diperkirakan tidak akan terjadi di tahun ini. Volatilitas yang tinggi dan cukup banyaknya investor asing keluar dari pasar modal di kuartal kedua akan mendorong kegiatan transaksi di pasar saham. “Saat ini terjadi volatilitas yang tinggi dan asing keluar cukup banyak sehingga kondisi ramadan tahun ini akan terjadi sebaliknya.” kata Alfred di Jakarta kemarin.

Menurut dia, sangat mungkin investor asing akan kembali pada bulan Juli atau ramadan ini. Sejauh inipun geliat aktivitas ekonomi Indonesia masih tumbuh positif di kisaran 6%. Selain itu, Indonesia termasuk negara yang akan kuat menahan wacana pemberhentian stimulus The Fed. Karena itu, dia masih optimistis laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali berada di atas level 5000 pada tahun ini.

Volatilitas yang tinggi, sambung dia, tidak akan mempengaruhi investor yang berorientasi jangka panjang. Namun bagi trader yang berorientasi jangka pendek, gejolak ketidakpastian pasar finansial memang memunculkan aksi spekulasi yang cenderung tinggi. “Kami masih optimis di level 5.300 karena geliat perekonomian Indonesia masih akan tumbuh sebesar 6%.” ucapnya.

Alfred menyarankan, untuk saat ini investor dapat melirik sektor konsumer. Pasalnya, sektor ini menjadi salah satu sektor yang berpeluang mencapai tren positif di tengah kekhawatiran psikologis terhadap inflasi. “Untuk sektor konsumer yang merupakan konsumsi pokok dan menyasar pada middle low masih akan positif untuk proyeksi jangka pendek.” jelasnya.

Selain konsumer, sektor telekomunikasi diperkirakan juga akan mendapatkan “berkah” pertumbuhan positif di bulan ramadan dan lebaran. Juga sektor manufaktur yang tidak menggunakan bahan bakar minyak secara signifikan dalam produksi usahanya. Namun, dia menilai kenaikan biaya produksi usaha dapat disiasati oleh perusahaan dengan kenaikan volume penjualan dan harga jual. “Kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah saat ini juga masih mendukung.” ucapnya.

Namun, kenaikan inflasi yang akan memicu peningkatan suku bunga akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja perbankan pada tahun ini. Bahkan dia memproyeksikan pada tahun 2013-2014 laju pertumbuhan perbankan akan cukup tertekan menjadi 15%, lebih kecil dari pertumbuhan yang dicatatkan perbankan sepanjang 2011-2012 yang mencapai 23%. “Kita punya prediksi di 2007-2008, perbankan bisa tumbuh mencapai 25%, namun pada 2009 turun 10% sebagai dampak kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah pada Mei 2008.” jelasnya.

Related posts