Waspadai Penilaian Morgan Stanley - Skenario Asing Jatuhkan Bursa Indonesia

NERACA

Jakarta- Penilaian Morgan Stanley (MS) mengenai pasar ekuitas Indonesia yang turun menjadi “underweight” dari “equalweight” dicurigai hanya akal-akalan asing untuk menjatuhkan pasar modal Indonesia dan membuat kepanikan pasar. “Realitanya, sepanjang semester pertama 2013, Asing telah membukukan keuntungan lebih dari Rp1 triliun dari selisih nett buy dan nett sell.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Reza, jelas bahwa penilaian MS sangat tidak mendasar dan hanya membuat pelaku pasar panik tanpa ada solusi bagaimana memajukan pasar modal Indonesia. Dengan pernyataan tersebut MS memberikan gambaran pasar modal Indonesia bukan lagi tempat yang nyaman untuk berinvestasi.

Jika demikian, sambung Reza, itu artinya kondisi fundamental dari emiten tidak dapat menjadi dasar penilaian dari para investor untuk memilih suatu saham. “Apakah menurut mereka kondisi fundamental emiten sudah tidak bisa diharapkan lagi growthnya? Apakah penilaian tersebut ada skenario untuk menurunkan pasar modal Indonesia, lalu setelah tertekan cukup dalam, asing akan kembali masuk?” paparnya.

Karena itu, Reza menyarankan agar investor tidak menelan mentah-mentah hasil suatu proyeksi. Selain pertumbuhan emiten yang masih positif, pihak otoritas hingga kini terus aktif melakukan edukasi, roadshow dan seminar mengenai pasar modal dalam negeri untuk memperbanyak jumlah investor dan emiten untuk melakukan IPO. Hal tersebut, kata dia, mengindikasikan bursa saham Indonesia masih memiliki kekuatan dan berprospek cerah.

Meski asing tercatat masih doyan jualan dan terdapat penurunan valuasi terhadap pasar modal Indonesia dari Morgan Stanley, pada perdagangan Jumat (5/7) nyatanya IHSG tetap mampu bertahan di zona hijaunya. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4647,27 di awal sesi dan sempat menyentuh level 4581,89, namun akhirnya berakhir di level 4602,81. “Pelaku pasar pun memanfaatkan rendahnya harga saham untuk kembali mentradingkan.” ujarnya.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Samsul Hidayat mengatakan, setiap investor memiliki perspektif investasi masing-masing. Karena itu, proyeksi mengenai pasar modal Indonesia oleh MS tidak akan berdampak signifikan terhadap saham emiten. Selain itu, berbagai ekspansi juga masih terus dilakukan emiten sehingga dapat menumbuhkan pasar modal domestik, “Ekspansi juga terus dilakukan emiten, itu kan menandakan ekonomi domestik kita masih positif,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Morgan Stanley Jonathan Garner yang berbasis di New York dalam laporannya mengungkapkan, pasar ekuitas Indonesia diturunkan menjadi underweight dari equalweight. Menurut dia, pasar saham Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara untuk pelarian modal di tengah valuasi mahal dan saham besar oleh investor asing.

Jonathan bersama koleganya di Hong Kong, Yang Bai dan Pankaj Mataney juga mengatakan, Indonesia masih merupakan negara yang relatif overowned. IHSG divaluasi 2,8 kali aktiva bersih yang merupakan tingkat tertinggi di antara 17 pergerakan ekuitas Asia, bahkan setelah jatuh 11% dari puncak 20 Mei. Penilaian ini dirilis pasca Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan 2013 untuk Indonesia menjadi 5,9% setelah melonjaknya inflasi yang dapat mengganggu permintaan domestik dan melamahkan investasi.

Related posts