Indonesia Kehilangan Budaya Surplus Perdagangan

NERACA

Jakarta – Indonesia dinilai sudah kehilangan budaya surplus perdagangan. Hal tersebut disampaikan ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus. “Hampir sepanjang sejarah Indonesia merdeka, dari 1962 sampai 2011, Indonesia selalu mencatatkan surplus neraca perdagangan. Tapi budaya tersebut hilang sejak semester kedua tahun 2011 dan keadaannya semakin parah sekarang,” jelas Heri kepada Neraca, Sabtu (6/7) pekan lalu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa sepanjang 2012 Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan senilai US$1,6 miliar. Defisit semakin menggelembung di tahun 2013. Baru lima bulan berjalan, Indonesia sudah mengalami defisit sebesar US$2,5 miliar atau sudah melampaui defisit perdagangan sepanjang 2012.

“Kondisi semacam ini sungguh aneh untuk negara yang kaya sumber daya alam. Ironisnya lagi, impor komoditas perdagangan menjadi salah satu penyebab membengkaknya defisit neraca perdagangan itu,” kata Heri.

Indonesia kini sudah rutin mengimpor bahan pangan dari Thailand. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan, negara gajah putih itu menjadi importir terbesar ketiga untuk komoditas non-migas, setidaknya dalam periode Januari sampai Mei 2013. “Dari Thailand kita impor kendaraan dan barang-barang pertanian,” kata Suryamin.

Menurut Heri, sinyal memburuknya perdagangan Indonesia ini sudah terlihat sejak tahun 2001. “Tren penurunan ekspor relatif lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan impor,” ungkapnya.

Pada 2001, sumbangan neraca perdagangan Indonesia masih menyumbang sebesar 8,27% dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Tetapi sayang, sepuluh tahun kemudian, yaitu tahun 2011, sumbangan neraca perdagangan tinggal sebesar 1,43%.

“Masuk tahun 2012, tradisi surplus perdagangan itu berubah menjadi defisit dan akhirnya justru menyumbang kontraksi -1,55% terhadap PDB. Memburuknya kinerja perdagangan semakin parah terjadi pada semester satu tahun 2013 ini,” tambah dia.

Komponen neraca perdagangan yang kini justru berkontribusi negatif terhadap PDB, lanjut Heri, tentu saja akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah terlalu muluk dengan menarget pertumbuhan 6,3%. Indef sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 ini hanya sebesar 5,9%. Bank Dunia juga belum lama ini menurunkan prediksi target pertumbuhan Indonesia menjadi 5,9%.

Makin terpuruknya kinerja perdagangan Indonesia, di samping dipengaruhi lemahnya permintaan dunia dan penurunan harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, juga merupakan akibat tidak terus membaiknya daya saing Indonesia.“Ini terlihat dari pertumbuhan ekspor sektor industri pada catur wulan pertama 2013 menurun sebesar 2,57% dibanding periode yang sama pada 2012, padahal sektor industri selama ini menyumbang 60% terhadap total ekspor Indonesia. Jadi apabila terjadi guncangan pada performa ekspor sektor industri maka hampir dipastikan akan mengganggu kinerja ekspor secara keseluruhan,” jelas Heri.

Ancaman defisit perdagangan akan terus berlanjut jika tidak ada evaluasi dan pengambilan langkah-langkah untuk meng-counter dampak lemahnya permintaan dunia dan turunnya harga komoditas internasional. Upaya untuk menciptakan diversifikasi pasar agar tidak bergantung pada pasar tradisional, serta dorongan untuk meningkatkan daya saing produk salah satunya dengan cara merevisi dan mengevaluasi Standar Nasional Indonesia (SNI) nampaknya lebih realistis dan rasional untuk dilakukan. “Indonesia sebagai negara dengan sumber daya melimpah sebaiknya tidak bergantung sepenuhnya pada kondisi global,” pungkasnya. [iqbal]

Related posts