Penjualan Elektronik Tembus Rp 13,1 Triliun - Periode Januari – Mei 2013

NERACA

Jakarta - Omset penjualan produk elektronik di dalam negeri periode Januari-Mei 2013 telah mencapai Rp13,1 triliun atau naik 15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Ketua Electronic Marketeers Club (EMC) Rudyanto menyebutkan dari total omset tersebut, penjualan mesin cuci mendominasi yakni sebesar 29%, disusul AC 27% dan kulkas 15%. Meski demikian, Rudyanto pesimistis peningkatan omset penjualan juga akan terjadi pada semester II/2013. \"Hingga Mei ini penjualan masih tertolong oleh penjualan beberapa produk musiman menjelang puasa dan Lebaran seperti kulkas. Seasonal growth,\" ujar Rudyantodi Jakarta, Kamis (4/7).

Lebih lanjut, Rudyanto memproyeksikan penjualan elektronik akan melambat selepas Lebaran akibat imbas penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang ikut meningkatkan biaya distribusi produk, terutama harga kulas dan mesin cuci yang berdimensi besar.

\"Kami melihat trennya akan seperti itu (turun). Ini akan terjadi beberapa bulan setelah Lebaran. Namun, untuk penurunan penjualan hingga berapa persen, kami belum memutuskan,\" tukas Rudyanto.

Sementara itu, PT Electronic City Tbk (ECII) menyatakan, salah satu fenomena pada periode bulan puasa dan jelang Lebaran adalah meningkatnya penjualan produk elektronik. Alasannya, banyak perusahaan memberikan THR, sehingga konsumsi masyarakat untuk barang kebutuhan sekunder turut melonjak.

Direktur Komersial Electronic City Fery Wiraatmadja menyatakan, secara umum penjualan selama puasa meningkat 20-30 persen dibanding bulan-bulan biasa. Khusus untuk perusahaannya, tahun lalu momen jelang Idul Fitri mendongkrak pendapatan cukup signifikan. \"Pada Ramadan, penjualan mencapai 12 % dari total kontribusi penjualan setahun,\" ujar Fery.

Dari catatan perseroan, tidak ada perbedaan signifikan terhadap komposisi penjualan produk, saat momen lebaran. Fery mengatakan mayoritas konsumen masih akan membelanjakan uangnya membeli perangkat audio video dan home appliances seperti kulkas atau mesin cuci. \"Produk-produk utama itu audio video dan home appliances, baru kemudian IT and office equipment. Khusus porsi di audio kira-kira 80 % dari total penjualan,\" ungkapnya.

Namun, untuk awal puasa, penjualan masih akan lambat. Baru menginjak minggu kedua Ramadan hingga hari H Lebaran, tingkat penjualan menanjak. \"Biasanya menjelang minggu ke-2, baru spending meningkat, karena sudah ada perusahaan yang memberikan THR,\" kata Fery.

Untuk kinerja total perseroan, sepanjang 2010-2012, bisnis Electronic City berhasil tumbuh rata-rata 32%. Sementara dari analisis Lembaga Euro Monitor untuk pasar dunia, produk elektronik diperkirakan tumbuh rata-rata 10% per tahun. \"Jadi growth kita di atas pertumbuhan pasar,\" tandasnya.

Target Meningkat

Dengan tingginya permintaan di pasar domestik, Gabungan Elektronik (Gabel) menargetkan penjualan elektronik hingga akhir tahun bisa meningkat 20% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang hanya mencapai Rp25 triliun.

\"Sampai dengan akhir tahun, penjualan elektronik nasional bisa mencapai Rp30 triliun, naik 20% dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp25 triliun. Ber-tambahnya permintaan elektronik di dalam negeri menjadi salah penyebab pertumbuhan penjualan elektronik,\" kata Wakil Sekretaris Jenderal Gabel, Yeane Keate.

Menurut Yeane, pencapaian target penjualan tahun ini masih didukung oleh penjualan produk pendingin ruangan (air conditioner/AC). \"Target penjualan akan didukung oleh upaya sejumlah produsen elektronik yang akan memperbesar kapasitas produksi mesin cuci dan lemari es. Penjualan televisi liquid crystal display (LCD) dan light-emitting diode (LED) juga diprediksi akan mengalami peningkatan, sebagai dampak peralihan penjualan dari televisi tabung oleh prinsipal elektronik,\" paparnya.

Namun demikian, Yeane menjelaskan bahwa penjualan elektronik pada tahun depan sangat bergantung pada kondisi bisnis di kuartal I 2013. \"Pada periode tiga bulan pertama di 2013 akan terlihat dampak yang ditimbulkan oleh krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat,\" ujarnya.

Sedangkan Direktur Industri Elektronik dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Chanty Triharso menambahkan, pertumbuhan penjualan elektronik sangat baik dalam beberapa tahun terakhir. \"Penjualan elektronika tumbuh rata-rata 20% setiap tahun,\" imbuhnya.

Sebelumnya Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi menjelaskan hingga awal Juni 2012, investasi di sektor elektronik di dalam negeri mencapai Rpl,l triliun dan menyerap tenaga kerja 3.773 orang.

\"Dengan penambahan pabrik baru oleh beberapa produsen elektronik seperti Sharp, ada penambahan investasi sebesar Rpl,2 triliun. Hingga 2015, diperkirakan ada penambahan 1.500 tenaga kerja karena beberapa investor akan menanamkan modalnya di sektor elektronik,\" kata Budi.

Related posts