Siasati Koreksi Indeks, Spekulasi Tiga Sektor

Minimnya sentimen positif dinilai masih akan mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak cukup fluktuatif. Terlebih, pasar berspekulasi dinaikkannya kembali suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) rate. “Tekanan selanjutnya yaitu naiknya tingkat suku bunga. Proyeksi kami kalau inflasi sekitar 8-9% maka BI rate akan menjadi 7-8% dan itu artinya sangat signifikan dari level saat ini.\" kata analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan di Jakarta, Kamis (4/7).

Menurutnya, untuk saat ini trader bisa berspekulasi saham-saham di sektor konstruksi, properti, dan konsumsi untuk melakukan aksi beli. Diperkirakan, tekanan yang terjadi pasar tidak akan berdampak besar pada ketiga sektor tersebut. \"Untuk speculative buy, bisa dilakukan di sektor konstruksi, properti, dan konsumsi karena imbasnya diperkirakan tidak akan besar di tiga sektor itu.\" jelasnya.

Selain itu, sambung dia, ketiga sektor tersebut masih mencatatkan permintaan yang cukup kuat. Pada saat saham-saham mengalami koreksi besar pun, saham-saham di sektor itu berpeluang naik lebih cepat dibanding saham lainnya. Untuk saham yang bergerak di sektor konstruksi, dia menilai, trader dapat mencermati pergerakan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).

Sementara untuk sektor properti antara lain PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Adapun saham di sektor konsumsi yaitu PT indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). “Saat pasar saham mengalami koreksi besar, saham-saham tersebut berpeluang cepat naik lagi.” ujarnya.

Sementara itu, pada perdagangan Kamis (4/7) IHSG ditutup menguat tipis 4,78 poin atai 0,10% ke posisi 4.581,933 dengan level terendahnya 4.581,684 dan sempat mencapai level tertinggi 4.644,827. Meskipun demikian, penguatan IHSG dinilai belum memberikan sinyal positif bagi pergerakan IHSG ke depan.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan, kondisi regional yang sangat volatile belum mendukung penguatan IHSG. Dengan posisi IHSG yang running di bawah 4.600, kata dia, telah membuat indeks sulit untuk ditutup di atas resistance pertama 4.650.

Namun, apabila emiten dapat mencatatkan kinerja yang bagus, atau bahkan berada di atas ekspektasi maka akan ada harapan yang lebih besar untuk IHSG menguat. “Tapi ini kan sulit juga, jadi kita harus lihat lagi.”ujarnya.

Dia pun menyarankan agar pemodal berhati-hati sambil mencermati kondisi pasar regional. “Untuk sementara masih hold. Spekulatif buy mungkin bisa dilakukan, namun saya sarankan pemodal berhati-hati.” tandasnya.

Sebelumnya, analis dari Bahana Sekuritas, Novita N Lubis mengakui, anjloknya indeks BEI akan mempengaruhi pasar obligasi dan IPO. Hanya saja, koreksi yang terjadi hanya bersifat sementara dan tidak signifikan, “Sejauh ini obligasi dan IPO penyerapannya cukup bagus, karena berkaitan dengan fundamental perusahaan juga, “tuturnya.

Dia menambahkan, pelemahan indeks BEI selama ini tidak hanya didasarkan satu faktor saja dari pasar modal tetapi juga faktor ekonomi makro dan saat ini, kondisi tersebut dinilai cukup positif. Sebaliknya, Direktur Penilaian BEI, Hoesen menuturkan, fluktuasi suatu saham yang tercatat di industri pasar modal domestik merupakan cerminan kinerja suatu emiten.\"Naik-turunnya saham itu apresiasi investor terhadap kinerja perusahaan,\"ujarnya.

Hoesen mengharapkan perusahaan yang sudah dicatat dalam papan perdagangan saham BEI dapat mendukung industri pasar modal Indonesia lebih baik kinerjanya di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak.\"Kami optimis perusahaan domestik masih dapat membukukan kinerja positif,”katanya

Related posts