Menguak Sejarah Majid-masjid Tua Jakarta - Wisata Ramadhan

Di Jakarta terdapat belasan masjid yang menjadi situs sejarah, namun bila merujuk pada SK Gubernur No.474 tahun 1993 terdapat 16 buah masjid yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

NERACA

Berpuasa bukanlah menjadi suatu alasan untuk kita agar tidak melakukan suatu aktivitas. Meski sedang menahan haus juga menahan lapar namun tidak ada salahnya pula kita menghabiskan waktu untuk berwisata ketempat-tempat yang memiliki sejarah tentang perkembangan Islam, khususnya di Jakarta. Dijakarta sendiri memiliki banyak tempat yang memiliki cerita panjang tentang perjalanan Islam di Jakarta bahkan di Indonesia, khususnya masjid-masjid tua.

Masjid pertama adalah Masjid Al-Alam yang berlokasi di Pasar Ikan, Cilincing, Jakarta Utara, merupakan warisan Sunan Gunung Jati yang dibangun pada 1525 Masehi atau sekitar abad ke-15. Bahkan, dari masjid kecil inilah perlawanan terhadap penjajah Portugis di Batavia. Sunan Gunung Jati mendirikan dua masjid sekaligus, yaitu Masjid Al-Alam di Pasar Ikan Cilincing dan Masjid Al-Alam di Marunda Pulo sekitar tahun 1527, yang belakangan masjid yang terakhir dikenal dengan sebutan Masjid Si Pitung. Berkat taktik itu pula, Portugis berhasil diusir dari Sunda Kelapa.

Masjid berikutnya adalah Masjid As-Salafiyah masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta. Dalam perkembangannya, masjid ini rupanya digunakan oleh Pangeran Jayakarta untuk menggalang kekuatan kembali. Berpuluh-puluh tokoh masyarakat dan jawara serta ulama seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam. Masjid ini mulai dibangun tahun 1620, Pangeran Jayakarta membangun sebuah masjid yang lokasinya berdekatan dengan Kali Sunter. Ter dapat pula makam Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri di komplek masjid ini.

Kemudian ada Masjid Al-Anshor Masjid ini adalah Masjid tertua di Jakarta yang di bangun pada tahun 1648 oleh para Muslim India , karena sebelumnya sejarah pernah menyebutkan di sekitar Hotel Omni Batavia yaitu sekarang Jl. Kalibesar barat, daerah Kota, pernah ada Masjid yang dibangun pada era Jayakarta namun dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1619 hingga tak tersisa lagi. Maka, Masjid ini menjadi yang tertua dimana Masjid ini masih kokoh berdiri dengan empat tiang penopangnya, yang merupakan ciri arsitektur.

Masjid yang berikut ini masjid yang keaslian arsitekturnya masih terjaga, di bangun oleh muslim Cina tahun 1786. Waktu itu Chan Tsin Wa atau Tschoa adalah pemimpin muslim Cina di Batavia yang datang bersama istrinya Fatima Hwu, dan memprakarsai pembangunan masjid ini. Meski Bernama masjid Jami Kebon Jeruk, namun masjid ini tidak berada di Kebon Jeruk, melainkan berada di jalan Hayam Wuruk, Jakarta Kota. sentuhan gaya arsitektur china terlihat dari benda-benda peninggalan, seperti kalender antik dan sebuah makam di halaman masjid dengan batu nisan bergaya china. Masjid ini menjadi suatu bukti terjadinya asimilasi kebudayaan yang tetap terjaga.

Masuk kekawasan Pekojan, Jakarta Utara terdapat Masjid An-Nawier. Masjid ini dibangun pada tahun 1760. Konon masjid An-Nawier berkaitan erat dengan masjid tua di Keraton Surakarta dan Banten. Masjid ini memiliki keterikatan historis dengan keraton Surakarta dan Keraton Banten. Konon, setiap ada tiap keluarga sultan atau para ulama yang meninggal di Solo, berita ini disampaikan ke Masjid Pekojan agar dilakukan shalat gaib. Di tengah bangunan terdapat menara yang dahulu selain digunakan sebagai tempat Muazin mengumandakan adzan juga digunakan sebagai menara pengawas. Dahulu, pemerintah Belanda begitu ketat mengawasi kawasan Pekojan lantaran komunitas Arab dinilai berbahaya bagi pemerintah colonial.

Itulah beberapa masjid-masjid tua di Jakarta yang memiliki nilai histori yang sangat tinggi yang sangat menarik untuk dikupas lebih jauh dan yang terpenting adalah sangat menarik untuk dikunjungi. Selain menambah pengalaman, kita juga bisa menambah keimanan bahkan ketakwaan dibulan Ramadhan ini bila melihat lebih jauh cerita dibalik pembuatan bahkan berdirinya masjid-masjid tua tersebut yang tidak bisa terlepas dari kebesaran Allah subhanahu wa ta\\\'ala yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-nya. Akhir kata selamat berwisata dan beribadah.

BERITA TERKAIT

PRODUKSI TENUN LOKAL SEJARAH KOPERASI

Pekerja menyelesaikan pembuatan kain tenun menggunakan mesin manual produksi tahun 1949 di Pusat Koperasi Tasikmalaya, Jalan Dr M Hatta, Kota…

Realisasi Investasi di Jakarta Melonjak Hingga 76%

      NERACA   Jakarta - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) DKI Jakarta mencatat realisasi…

Bela Indonesiaku Bekerjasama dengan Indonesia Care dan BigBang Jakarta

  NERACA   Jakarta - Dalam rangka mendukung program bela negara, BigBang Jakarta dan Indonesia Care menandatangani kerjasama dengan PT.…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Menjelajahi Pulau Paling Ujung Selatan Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote" Masih lekat dalam ingatan sepenggal lirik dari lagu iklan mie instan…

Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Pemulihan Kota Ambon terus dilakukan pasca konflik silam. Kini Ambon terus berlari untuk menobatkan diri sebagai "Kota Musik" dunia."Ambon manise",…

Parade Budaya Bahari di Wakatobi

Siang itu panas terik sinar matahari terasa menyengat kulit. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.00 WITA. Saya pun mempercepat langkah…