Pemimpin Masa Depan

Tipikal seorang pemimpin bangsa kini menjadi perhatian mastarakat luas. Pasalnya, selalu ada tren baru dalam memilih pemimpin dari waktu ke waktu. Dari mulai tutur kata hingga bahasa tubuh dan pembawaan yang akan bisa mencerminkan bagaimana pemimpin itu memimpin Indonesia di masa depan.

Tidak dapat dipungkiri gaya kepemimpinan pemimpin negeri ini dari waktu ke waktu memang berbeda. Lihat saja gaya kepemimpinan presiden sejak Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan presiden saat ini Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), memiliki corak dan karakter yang berbeda antara satu dan lainnya.

Jika figur pemimpin berasal dari ranah militer cenderung berpikir cepat dan strategis. Misalnya Presiden Soeharto meski saat itu didukung oleh teknokrat, dia termasuk pemimpin yang strategis dan cepat tanggap. Sementara pemimpin yang muncul dari kalangan dunia bisnis, umumnya hanya bisa berpikir secara mikro dan bukan makro.

Seorang pemimpin diibaratkan nakhoda kapal sedang berlayar, mau kemana kapal diarahkan dan bagaimana menghadapi tantangan dan hambatan di tengah-tengah samudera luas, selamat atau tidaknya sampai ke tempat tujuan tergantung pada kualitas nakhodanya. Tentu nakhoda yang profesional akan sangat handal dalam memimpin pelayaran. Sebaliknya, nakhoda yang lemah, kurang tangkas, sudah barang tentu akan grogi saat kapal dihantam ombak dan badai.

Salah satu krisis yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia adalah krisis kepemimpinan. Kita tidak melihat dan memiliki pemimpin yang tangguh, memiliki visi-misi yang jelas ke depan, menjadi contoh, panutan yang sukses dan akhlak yang mulia menjadi teladan umat.

Bangsa ini mengalami krisis keteladanan, banyak pemimpin lebih berbuat dengan kata-kata, bukan berbicara dengan perbuatan (panutan baik). Lain halnya dengan yang dilakukan pemimpin sejati era kemerdekaan, yaitu lebih baik memberikan satu contoh panutan ketimbang memberi seribu nasehat. Bangsa ini selalu ditimpa musibah mulai krisis ekonomi sampai krisis akhlak, kesemuanya itu bersumber dari akhlak.

Karena itu, bangsa ini sangat membutuhkan pemimpin masa depan yang handal. Kalau hanya mau mengejar jabatan supaya dapat menjadi pemimpin, bukanlah perkara yang sulit. Akan tetapi kita butuh lebih sekedar menjabat, yaitu seorang pemimpin yang sejati, yang mampu memimpin dirinya dan sekaligus memimpin orang lain. Dia tidak pernah sekalipun memerintah sebelum memerintah dirinya sendiri.

Bagaimanapun, pemimpin seperti ini ditaati bukan karena cemeti tetapi karena wibawa dan kharismanya. Pemimpin yang dibutuhkan bangsa kita adalah pemimpin yang memiliki sikap teladan, sikap panutan, sikap berlapang dada, sikap mendahulukan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi. Masyarakat ini tidak akan maju dengan pendekatan kekerasan tetapi akan maju dengan pola kemitraan, kerjasama dengan kemuliaan akhlak.

Jadi, figur pemimpin yang handal adalah perwujudan dari pemimpin unggul, yaitu seseorang yang memiliki satunya pemikiran, perkataan dan perbuatannya. Sebagai contoh ada petinggi pemerintah yang dalam perkataannya tidak setuju dengan korupsi, namun dalam perbuatannya ternyata terseret dalam kasus korupsi. Sikap seperti ini tidak mencerminkan seorang pemimpin yang berwibawa dan kharismatik di mata rakyatnya.

BERITA TERKAIT

Bupati Kabupaten Lebong Bengkulu Dianugrahi Penghargaan Pemimpin Masa Depan Terbaik

Bupati Kabupaten Lebong Bengkulu Dianugrahi Penghargaan Pemimpin Masa Depan Terbaik NERACA Jakarta - Setelah mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dari…

Tahun Depan Lebih Menantang - Indofarma Targetkan Penjualan Tumbuh 15%

NERACA Jakarta –Performance kinerja keuanan PT Indofarma Tbk (INAF) masih diselimuti kerugian, berangkat dari hal tersebut menjadi alasan bagi emiten…

Tahun Depan, UNTR Siapkan Capex US$ 800 Juta

NERACA Jakarta – Danai ekspansi bisnis di tahun depan, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 700…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Tingkatkan Kendali Pusat

Kritik tajam Bank Dunia terhadap sejumlah proyek infrastruktur yang dianggap berkualitas rendah, minim dana, tidak direncanakan dengan baik, rumit, dan…

Perlu Aturan Uang Digital

Di tengah makin maraknya peredaran uang digital, hingga saat ini baik Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat…