Beralih ke Angkutan Umum

Darmaningtyas

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi

Beralih Naik Angkutan Umum

Orang yang satu ini tetap konsisten memperjuangkan sistem transportasi umum massal sebagai sarana transportasi yang nyaman, aman, cepat, dan terjangkau. Itu sebabnya, Darmaningtyas namanya, ikut barisan yang menentang dibangunnya enam ruas jalan tol dalam kota. Sebab, pembangunan jalan tol itu esensinya lebih mengutamakan kendaraan pribadi dari pada angkutan umum.

“Sangatlah tidak adil, kendaraan pribadi yang hanya berpenumpang satu dua mendapat prioritas jalan sementara angkutan umum yang mampu mengangkut banyak penumpang harus berebutan jalan dengan kendaraan lainnya,” tutur Darmaningtyas. Untuk memudahkan perjuangannya, dia pun membentuk dan memimpin Institut Studi Transportasi (Instran). Itu sebabnya dia memilih membuka kantor yang tak jauh dari stasiun KRL, yaitu di kawasan Rawajati, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dia juga tak hendak memiliki kendaraan bermotor di rumahnya, kecuali sepeda untuk jarak dekat. Kalaupun terpaksa mengejar waktu, dia memilih naik ojek atau numpang teman. Tak segan-segan, dia minta diboncengkan stafnya. “Saya lebih nyaman naik angkutan umum, selain murah, juga bisa istirahat, kalau perlu tidur,” kata Tyas, yang juga aktif di Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dengan jabatan sebagai ketua bidang advokasi.

Tekadnya memperjuangkan diterapkannya sistem dan jaringan tansportasi umum massal itu juga bermula dari keprihatinannya terhadap kondisi angkutan umum yang ada. Naik angkutan umum membutuhkan perjuangan dan keberanian. Mengapa? Ibarat menjemput maut, karena terutama sikap sopir yang lebih sering ugal-ugalan di jalanan karena harus mengejar setoran, sering ngetem lama untuk menunggu penumpang dan kebut-kebutan dengan sesama angkutan umum.

“Belum lagi penumpang harus berebut dengan pengamen dan pengemis yang bernada mengancam,” ujar penulis buku berjudul ‘Transportasi di Jakarta Menjemput Maut’ ini. Buku itu ditulisnya bertahun-tahun, akibat kesibukannya yang luar biasa. Nyaris tiap hari ada saja acara atau undangan yang harus didatanginya, baik untuk menjadi pembicara, maupun wawancara di stasiun televisi.

Di antara yang dilakukan adalah ikut mendorong Pemerintah Provnsi (Pemprov) DKI Jakarta mewujudkan jaringan busway. Jaringan transportasi umum massal modern itu mulai beroperasi pada Januari 2008. Pertama kali busway dirintis oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Ketika itu sempat mendapat tentangan dari Menteri Perhubungan Agum Gumelar. Rencana awal, busway dibangun sebanyak 12 koridor hingga 2010. Namun, dalam perjalanan banyak menemui hambatan.

Alhasil, Gubernur Fauzi Bowo tak berhasil menuntaskan ke-12 koridor tersebut, hanya 12 koridor yang berhasil dibangun. Masih ada tiga koridor lagi yang belum dituntaskan. Tiga koridor busway yang terakhir membutuhkan anggaran yang tak sedikit karena harus membangun jembatan layang mengingat jalurnya yang padat dan sempit, yaitu Blok M-Ciledug, Blok M – Kalimalang, dan Manggarai – Depok.

Untuk mengawal perjalanan manajemen busway, Darmaningtyas pun membentuk kelompok pengguna busway, yaitu Busway Mania. Digandenglah Bang Yos, sapaan Sutiyoso menjadi pelindung dan penasihat Busway Mania. “Busway Mania diperlukan sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi para penumpang bus Transjakarta ke pihak manajemen,” kata pria kelahiran Gunung Kidul pada 9 September 1962.

Yang dia masih prihatin adalah masih rendahnya kesadaran pengguna kendaran bermotor yang nekat menerobos jalur khusus busway. “Tidak sterilnya jalur busway menyebabkan tak tercapainya headway (waktu tunggu antar bus) yang ideal, yaitu sekitar 4-5 menit,” kata dia. Itu salah satu yang menyebabkan orang masih nyaman menggunakan kendaraan pribadi, enggan beralih ke kendaraan umum.

Dua Bidang Keahlian

Ada yang unik dari sosok alumnus Fakultas Filsafat UGM ini. Selain menjadi pengamat masalah transportasi, Tyas juga menjadi narasumber masalah pendidikan. Mantan guru SMA di Gunung Kidul itu juga aktif di lembaga pendidikan Majelis Luhur Taman Siswa yang berpusat di Yogyakarta. Taman Siswa pertama kali didirikan dan dirintis oleh Ki Hadjar Dewantoro pada 2 Juli 1922.

“Kata mutiara dari Ki Hajar Dewantoro yang mempunyai nama asli Dr Soewardi Soerjoningrat itu adalah tiap-tiap rumah jadi perguruan Tiap-tiap orang jadi pengajar dengan atau tanpa ordonansi (1935),” kata Tyas. Itu sebabnya, walaupun tak menyandang gelar akademis S2 maupun S3, apalagi doktor, tapi ide dan pemikirannya, menurut banyak orang, sekelas profesor.

Menurut lelaki yang yang sering menempuh perjalanan PJKA, akal budinya banyak diasah melalui berbagai forum diskusi dan debat sejak masih mahasiswa. PJKA adalah perjalanan pulang ke Yogya pada hari Jumat dan kembai lagi ke Jakarta hari Ahad (Minggu). Saat masih di Yogya, dia besama Kelompok Studi Dasakung berhasil melakukan penelitian tentang perilaku mahasiswa kos-kosan yang mulai terjangkiti oleh pergaulan bebas yang diistilahkan dengan ‘kumpul kebo’. Kumpul kebo adalah istilah hidup bersama laki-laki dan perempuan yang tidak diikat dengan tali perkawinan yang sah.

Saat ini Darmaningtyas juga tercatat sebagai ketua Departemen Pemberdayaan Nilai Kejuangan 45 dan Pendidikan Dewan Harian nasional (DHN) 45. Dia juga menjadi penasihat Center of the Betterment of Education (CBE). Aktif pula di Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK). Tercatat pula sebagai advisor Institute for Transportation and Development Program (ITDP) yang berpusat di New York.

Buku karangannya, selain Transportasi di Jakarta Menjemput Maut, adalah Manjemen Transjakarta Busway, Tirani Kapital dalam Pendidikan, dan Menolak BPH (Badan Hukum Pendidikan). (saksono)

Related posts