Dunia Butuh Indonesia, Embargo Diri Kalian - Nasihat Seorang Pengusaha Singapura

Nasihat Seorang Pengusaha Singapura:

Dunia Butuh Indonesia, Embargo Diri Kalian

Di blackberry massanger (BBM), beredar sebuah cerita dari seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Australia, sambil bekerja. Satu hari, sang mahasiswa, bersama beberapa temannya menjemput seorang kliennya yang juga seorang pengusaha asal Singapura. sepanjang perjalanannya, sang pengusaha banyak bercerita tentang Indonesia.

Sang pengusaha itu berterus terang bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Saking kayanya Indonesia tak butuh dunia, tapi sebaliknya dunia membutuhkan Indonesia. Dia pun menyontohkan Indonesia menjadi bagian dari paru-paru dunia, karena memiliki hutan tropis di Kalimantan. Dunia akan kacau jika hutan-hutan itu dibabat habis.

Sebaliknya, dia pun juga membandingnya Indonesia dengan nagaranya sendiri.

“Singapura is nothing,” ujarnya. Namun, kata dia, setiap bulan, 500 ribu orang dewasa asal Indonesia berbondong-bondong mengisi liburan ke negeri jiran itu. Apartemen-apartemen terbaru nan mewah yang baru dibangun, kebanyakan pembelinya adalah orang-orang Indonesia.

“Gak peduli harganya selangit, tetap laku keras. Artinya, berapa banyak uang yang masuk ke kami,” tutur pengusaha Singapura yang bergerak di sektor pertambangan dan properti. Rumah sakit di Singapura juga dipadati orang Indonesia. Orang-orang Indonesia lebih percaya dengan pelayanan rumah sakit di sana. Contoh terakhir adalah almarhum Taufiq Kiemas, ketua MPR. Tokoh pelopor empat pilar kebangsaan itu meninggal di Singapore General Hospital, 8 Juni lalu.

Sang pengusaha itu juga bercerita, dirinya juga sedang berbisnis tambang d Kalimantan. Pasir di sana mengandung permata. Penambang lokal menjual bongkah pasir seharga Rp 3.000 per kilogram. Pabrik ternyata menjual kembali pasir-pasir itu seharga Rp 30 ribu/bulan. “Jadi kami melihat negara-negara lain takut mengembargo Indonesia, takut

Indonesia berubah menjadi negara yang mandiri,” tutur sang pengusaha yang tinggal di Depok.

Di sinilah nasihat sang pengusaha itu, tidak hanya kepada para mahasiswa yang menjemputnya, tapi juga seluruh elemen yang ada di Indonesia. Harusnya kalian mengebargo diri kalian sendiri. Caranya, belilah pangan dari petani-petani sendiri, beli tekstil atau membeli bahan untuk garmen di pusat grosir dan eceran, atau dari pabriknya.

“Tak perlu impor kalau kalian bisa mandiri. Karena itu, jika Indonesia bisa mengembargo diri kalian sendiri,” kata sang pengusaha tadi.

Itu sebabnya, pemerintah Singapura sangat panik dengan bencana kabut asap hasil kebakaran hutan di kawasan Kalimantan dan Sumatera.

Gerakan Cinta Indonesia

Banyak ragam komentar para penerima pesan singkat di BBM. Kebanyakan mendukung gerakan ‘Aku Cinta Produk Sendiri’ tersebut. Ada yang bertanya, apa itu embargo? Oleh temannya dijawab, “embargo adalah membatasi atau menghambat atau mencegah. Caranya, dengan tidak membeli atau mengonsumsi produk asing kalau ternyata sudah ada produk buatan sendiri.

Benar, saat ini pasar Tanah Abang yang menjadi ikon kita Jakarta sudah mulai dibanjiri aneka macam produk pakaian dari luar, terbanyak dari China. Sebagai upaya menggugah kesadaran para pengunjung, kebanyakan butik di Tanah Abang telah menyiapkan bungkus plastik yang sudah diberi ditulisi ‘Cintailah Produk Dalam Negeri’ dan ‘Aku Cinta Produk Bangsaku.’

Yang jadi masalah, banyak orang mempertanyakan komitmen pejabat pemerintah, apakah mendukung gerakan itu secara nyata dan implementatif, atau hanya sekadar di bibir saja, slogan, jargon saja.

Pertanyaan itu tentu tak terjawab, ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan bangganya mempekenalkan kapal roro penyeberangan Merak – Bakauhuni yang baru dibeli dari Inggris. Setelah diinvestigasi ternyata kapal itu adalah kapal bekas buata 1980 yang dipermak.

Komitmen Gubernur DKI Joko Widodo juga termasuk yang dipertanyakan, karena proyek monorelnya bakalan menggunakan produk China, padahal di Indonesia ada dua perusahaan yang mamu membikinnya, yaitu PT Inka, Madiun dan PT Melu Bangun Wiweka, Bekasi.

“Ayo kita sebagai warga masyarakat juga menuntut agar para pejabat pemerintah memberi contoh yang nyata,” tutur Desma Mulyati, salah seorang simpatisan Aspeka (Aspirasi Penumpang Kereta) yang mempertanyakan komitmen pejabat PT Kereta Api (PTKA) apakah masih membeli kereta bekas atau memesan kereta baru dari PT Industri Kereta Api (Inka). (saksono)

Related posts