Mahalnya Pendidikan di Indonesia

Kondisi pendidikan Indonesia memang sungguh menghawatirkan, terutama mengenai maslah biaya. Banyak kalangan menengah ke bawah yang akhirnya tidak menganggap penting masalah pendidikan akibat mahalnya untuk mengenyam ilmu di bangku sekolah.

Terkadang tidak sedikit yang bertanya, sepenting itukah pendidikan bagi kehidupan? Tidak sedikit pula banyak orang yang mengatakan untuk apa sekolah kalu akhirnya tetap saja sulit mencari pekerjaan.

Padahal, perlu diketahu, bahwa sesungguhnya pendidikan itu sangat penting, tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak kecil berkeliaran di bawah kolong jembatan dengan tidak bersekolah. Semua itu dikarenakan mahalnya biaya pendidikan.

“Sekalipun gratis tetapi masuknya susah, sementara kalau masuk sekolah swasta sangat mahal, untuk tingkat SD saja biaya yang harus dikeluarkan untuk pendaftaran saja bisa mencapai Rp1 juta, belum lagi untuk keperluan lainnya,” kata Ani yang anaknya putus sekolah karena kekurangan biaya.

Untuk itu, hal dini yang harus dilakukan adalah melakukan pembenahan dan perombakan, jika perlu terhadap berbagai aspek dinegara ini. Khususnya mengenai biaya pendidikan dan proporsi pendidikan akademik dan mental spiritual.

Karena, walaupun sudah dianggarkan 20% anggaran pendidikan dari APBN nampaknya akan membantu sekolah yang berstatus negeri, padahal mungkin karena keterbatasan kemampuan menampung di sekolah negeri yang kecil dan berujung pada penolakan siswa yang ingin belajar.

Akhirnya mereka pun terpaksa masuk di sekolah swasta yang mau tidak mau harus rela mengeluarkan anggaran lebih banyak. Ya, di satu sisi ada sekolah yang kekurangan daya tampung di satu sisi lain ada sekolah yang kurang mendapatkan siswa didik.

Tingginya biaya, boleh jadi menyebabkan pendidikan terpengaruh juga dengan sering bergantinya kurikulum yang dituntut baru yang sesuai dengan perkembangan jaman. Tidak seperti jaman dulu, kita masih bisa memakai buku pelajaran dari bekas kakak kelas kita, tetapi sekarang apa masih demikian?

Rasanya itu bukanlah rahasia umum lagi, bahkan ada yang berpendapat itulah cara atau strategi promosi dari penerbit buku yang berlomba-lomba menerbitkan buku yang mudah di cerna dan dipahami oleh siswa, sehingga orang tua mau tidak mau menuruti anaknya untuk membeli buku pelajaran tambahan.

Bahkan bisa jadi pula ada kerjasama di balik layar, agar penerbit mendapat untung sementara guru pun mendapat untung dari komisi yang diberiian penerbit. Wallahu a’lam. Intinya, kalau ingin pendidikan maju, kita harus merombak kebijakan-kebijakan yang saat ini berlaku.

Meski demikian, sebenarnya kita tetap bisa melakukan penghematan akan biaya anggaran pendidikan, tentunya jika anak-anak kita pandai dan mendapatkan beasiswa untuk siswa berprestasi. (ahm)

BERITA TERKAIT

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Menko PMK - Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM

Puan Maharani Menko PMK Indonesia Lakukan Percepatan Kesiapan SDM Depok - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK)…

Tutup CGV di Mall of Indonesia - Graha Layar Masih Agresif Buka Layar Baru

NERACA Jakarta –PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) menutup kegiatan operasional layar lebar CGV di pusat perbelanjaan Mall Of I…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…