Kembangkan Karir Melalui Golf - Ahmad Subagja, Direktur PT Bumiputera Asset Management

Berkarir sebagai pemain pasar modal dan keuangan, Abe tentu telah banyak bertemu dengan para pengambil keputusan atau top decision maker. Maka dari itu, analis yang pernah bekerja di PT BZW Niaga Securities dan PT Lautan Dana Asset Management ini bergabung dalam komunitas Persatuan Golf Pasar Modal (PGPM).

“PGPM itu isinya para pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI), dan Bapepam-LK. Dengan golf, saya semakin banyak relasi dan tentu, jaringan bisnis yang berkaitan dengan jasa keuangan,” jelasnya.

Meski demikian, dia mengakui, kalau olahraga yang satu ini adalah olahraga kaum berduit. Golf memang berkembang tidak sekadar sebagai olahraga, namun juga menjadi perpaduan antara hobi, prestasi, dan prestise. Bahkan bagi sebagian orang, golf diakui menjadi bagian dari gaya hidup. Ada pula yang beranggapan kalau olahraga ini memiliki resep panjang umur dan obat pelangsing.

Pendapat itu, diamini Ahmad Subagja. Sebagai Direktur PT Bumiputera Asset Management, perusahaan sekuritas anak perusahaan AJB Bumiputera 1912, dirinya kerap bertemu klien-klien penting di lapangan golf. “Saya mulai menekuni golf sejak tahun 2005. Sebelumnya saya menyukai tenis dan joging,” ujarnya diiringi senyuman yang mengembang.

Soal prestasi, pria yang akrab disapa Abe ini mengatakan sudah banyak kejuaraan yang diikutinya. Dua diantaranya Turnamen Persatuan Golf Pasar Modal Tahun 2011 dengan gelar ‘Best Net Overall-Handicap 18’ serta Financial Club Charity Golf Tournament 2011 bergelar ‘Best Net Flight B’.

Dengan prestasi dan karir yang cemerlang inilah membuat Direktur Keuangan dan Investasi AJB Bumiputera 1912, Faisal Karim, kepincut dan ‘melamar’ Abe agar bergabung di perusahaan asuransi tertua di Indonesia itu. “Pak Faisal sudah ‘merayu’ saya sejak tahun lalu. Akhirnya hati saya luluh dan bersedia bergabung. Baru satu bulan saya disini,” ucap dia.

Dirinya memilih AJB Bumiputera 1912 sebagai pelabuhan berikut karena memiliki jaringan yang kuat dan sehat, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian, Abe memiliki goals atau tujuan dalam membangun perusahaan.

“Target saya mensinergikan Bumi Asset Management dengan holding. Supaya ke depan dapat jalan beriringan di tengah persaingan global. Untuk golf, saya tidak bisa lepas dari olahraga ini. Kelak setelah pensiun, saya ingin sekali keliling Indonesia, bahkan dunia, cuma untuk main golf saja,” kata Abe.

Filososfi Golf

Filosofi permainan golf, kata Abe, adalah bagaimana kita menaklukkan diri sendiri. Saat memukul, menurut dia, pegolf tidak bisa sembarang memukul. Sebelum bola jauh melayang, mereka harus punya perhitungan plus insting yang kuat agar bola tepat sasaran.

Ditambah lagi harus diperhitungkan arah angin dan energi pukulan. Energi yang akan dikeluarkan, jika tidak dikontrol, akan membuat bola terlempar jauh dari sasaran. “Saya merasakan dampaknya. Intinya, semua dikerjakan dengan hati dan kesabaran tinggi,” ungkapnya.

Dengan kesabaran dan ketekunan, lanjut Abe, maka didapat strategi serta kecermatan menganalisis masalah. Ini sangat penting karena pekerjaannya sebagai analis pasar modal dan keuangan membutuhkan konsentrasi dalam berfikir serta jitu dalam mengambil keputusan.

“Secara tidak langsung, kita dididik konsisten. Lapangan golf itu luas dan terdiri atas 18 holes. Nah, kita bisa memukul dengan jarak pendek atau panjang, itu tergantung situasi. Dalam pekerjaan pun sama. Kita segera harus ambil keputusan yang tepat dengan melihat dari berbagai sisi lebih dahulu,” tegas pria low profile ini.

Pantas saja kalau penggemar golf adalah para pebisnis, pengusaha, atau pejabat. Ternyata, olahraga yang diklaim berasal dari Skotlandia ini memberi efek positif bagi pekerjaan mereka, terlebih pada saat membuat perencanaan dan program kerja.

Abe melanjutkan cerita kalau filosofi lainnya dalam bermain golf adalah tak ada lawan yang kuat, kecuali melawan diri sendiri. Jika seorang pegolf menang, bukan berarti dia mengalahkan lawannya, tetapi dia sudah mampu mengalahkan diri sendiri.

Di dunia golf, para pemain diminta untuk mewasiti dan menjadi ‘polisi’ untuk diri-sendiri. Disebabkan area permainan sedemikian luasnya tidaklah mungkin untuk selalu memonitor setiap gerak-gerik pemain di lapangan. Hanya pada turnamen-turnamen utama setiap grup pemain didampingi wasit berjalan.

Untuk itu perlu dipupuk integritas, kejujuran, dan tentunya pengetahuan peraturan yang cukup baik agar mampu menjadi wasit untuk diri-sendiri. Karena itu golf banyak disebut sebagai ‘a gentlemen’s game,’ sebuah permainan untuk para ksatria yang mengedepankan kehormatan, integritas, dan kejujuran. (ahm)

Related posts