Indeks Saham Jeblok Akibat Pasar Over Reaktif

NERACA

Jakarta- Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (3/7) anjlok sebanyak 151,5 poin atau sebesar 3,20% dengan berakhir di level 4.577. Di awal sesi, indeks berada di level 4.728 dan sempat menyentuh level tertingginya 4.715, dan akhirnya menyentuh level terendah 4.577.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, anjloknya indeks saham tersebut sebanyak 3,20% mensinyalkan respon yang berlebihan dari pelaku pasar. Selain posisi beli yang sangat minim, kondisi bursa regional hingga kini masih belum settle. “Berlebihan sebenarnya. Namun pasar kita ini kan sempit, posisi belinya juga masih jarang. Jadi, tidak banyak yang bisa dilakukan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (3/7).

Selain itu, sambung dia, momentum window dressing tidak lagi dimanfaatkan oleh investor sehingga tidak ayal membuat IHSG terpental cukup jauh. Namun, dia menilai pelemahan yang terjadi tersebut masih berada dalam kisaran batas yang wajar. “Kita punya prediksi, kalau 4.740 ditembus, arahnya akan ke 4.650-4.500.” ujarnya.

Menghadapi kondisi saat ini, kata dia, investor pun masih terlalu khawatir. IHSG diharapkan bisa kembali menguat, jika penurunan Dow Jones masih berada di bawah 50 poin. Menurut dia, ketegangan yang terjadi di Mesir yang mendorong harga minyak US$100/barrel tidak berpengaruh besar. Termasuk posisi asing yang saat ini juga sudah tidak banyak bermain di pasar. “Kondisi regional yang sangat-sangat volatile dan tidak jelas kemana arahnya,” ucapnya.

Memang, selain pelemahan yang terjadi pada bursa Amerika Serikat, pelemahan juga terjadi bursa Asia seperti indeks Nikkei yang turun 0,3%, indeks Shanghai lebih rendah 0,6%, indeks Kospi jatuh 1,6%, indeks ASX tergerus 1,8% dan indeks Hang Seng turun tajam 2,1%.

Dia menilai, apabila emiten mencatatkan kinerja yang bagus, atau bahkan berada di atas ekspektasi maka akan ada harapan yang lebih besar untuk IHSG menguat. Namun, untuk saat ini kondisinya tidak dapat dipastikan. Yang jelas, kata dia, dalam kondisi saat ini sebaiknya pemodal berhati-hati. “Untuk sementara masih hold. Spekulatif buy mungkin bisa dilakukan, namun saya sarankan pemodal berhati-hati.” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, potensi melemahnya IHSG pada perdagangan Rabu disebabkan banyaknya sentimen negatif yang muncul. Dari mulai ketegangan yang terjadi di Mesir dan kejatuh Dow Jones hingga diturunkannya target pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh World Bank.

“Faktor diturunkannya target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,9% dari sebelumnya 6,2% oleh World Bank, ketegangan di Mesir dan kejatuhan Dow di tengah harga crude oil yang berpotensi di atas US$100/barrel menjadi faktor negatif untuk perdagangan kemarin,” jelasnya.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, melemahnya bursa saham AS dan Eropa setelah pelaku pasar kembali menahan diri jelang rilis laporan tenaga kerja bulanan dan rilis kinerja emiten sekaligus juga bertepatan jelang libur kemerdekaan AS memberikan sentimen yang kurang baik pada bursa saham Asia, terlebih IHSG yang kembali masuk tren pelemahannya.

Di sisi lain, kata dia, kondisi internal pun juga masih merespon negatif rilis dari World Bank yang menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 5,9% dari 6,2% sehingga terkesan adanya kenaikan harga BBM sebelumnya tidak berdampak apa pun bagi pertumbuhan Indonesia.

Dengan laju IHSG kembali melemah di bawah target support 4.696-4.713, dia menilai, masih akan membuat rasa tidak aman dan nyaman. Namun diharapkan dengan lunasnya utang gap di 4.620-4.644, pelemahan yang akan terjadi masih terbatas. “IHSG diperkirakan akan berada pada support 4.532-4.565 dan resistance 4.695-4.785.” ujarnya.

Reza menyarankan pelaku pasar untuk mencermati empat saham dengan strategi trading buy on weakness seperti AKRA, CTRP, DART, dan INDF. Diperkirakan indeks saham masih terus berfluktuasi pekan ini. lia/ardhi

Related posts