Perbankan Jangan Menaikkan Suku Bunga

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) A Tony Presetiantono menilai perbankan sementara harus menahan diri tidak menaikkan suku bunga agar tidak mengganggu kualitas kredit dan pertumbuhan laba.

\"Saya harapkan bank menahan dulu suku bunga kredit dengan alasan kenaikan BI rate baru 25 basis poin. Tapi katakanlah naik lagi 25 basis poin, itu juga tidak otomatis bank harus menaikkan suku bunga kredit,\" ujar Tony di Jakarta, Rabu (3/7).

Menurut Tony, seandainya perbankan menaikkan suku bunga kredit maka hal itu akan mengganggu kualitas kredit atau kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) akan naik serta menghambat pertumbuhan kredit bank. Jika pertumbuhan kredit bank terganggu maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

\"Memang pada titik tertentu bank harus menaikkan suku bunga kredit cepat atau lambat, tapi saya harap menahan diri dahulu selama beberapa saat,\" ujarnya. Seandainya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan kembali menjadi 6,25%, Tony mengatakan kenaikan BI Rate tersebut belum tentu selaras besarannya dengan kenaikan suku bunga kredit atau bisa dikatakan akan sedikit lebih tinggi.

\"Kalau naik menjadi 6,25% berarti kan naik 50 basis poin (dari sebelumnya 5,75%) tidak berarti juga suku bunga kredit naik 50 basis poin, bisa lebih sedikit. Karena bank-bank juga punya target pertumbuhan kredit, dari loan growth inilah bank dapat uang,\" tuturnya.

Tony mengatakan kebanyakan bank di Tanah Air masih hidup dari suku bunga, oleh karena itu bank harus menjaga pertumbuhan kredit di atas 20%. \"Perbankan kita tipikalnya belum punya eksposure di fee based income,\" kata Tony. [mohar]

Related posts