Bisnis Properti Makin Menggeliat

Meski harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif tenaga listrik (TTL) naik, bisnis properti di Indonesia masih menarik, terutama untuk perkantoran dan kondominium kelas menengah atas. Salah satu faktornya, permintaan (demand) pada kedua subsektor properti tersebut masih tinggi.

Karena itu, kalangan pengembang tetap optimistis untuk menggenjot pembangunan dan peluncuran sejumlah proyek baru pada tahun ini. Demikian diungkapkan oleh Kepala Riset Jones Lang LaSalle (JLL) Anton Sitorus dan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Indonesia Ali Tranghanda, saat ditemui secara terpisah, baru-baru ini.

Menurut Anton Sitorus, krisis finansial global berdampak positif terhadap perkembangan bisnis properti di Indonesia. Pasalnya, banyak perusahaan multinasional (multinational company/MNC) yang mencari tempat baru untuk berinvestasi. Mereka mengincar negara berkembang dengan ekonomi stabil seperti Indonesia.

\"Krisis global berpengaruh besar terhadap kemajuan bisnis properti nasional terutama perkantoran. Kalangan MNC mengincar ekspansi ruang kantor baru terutama di wilayah strategis seperti Jakarta,\\\" kata Anton.

Berdasarkan riset terbaru dari PriceWater Cooper (PwC), Jakarta adalah lokasi investasi terbaik di Asia Pasifik. Anton berpendapat, riset tersebut memang benar karena tingkat kebutuhan ruang perkantoran di Ibu Kota masih sangat tinggi.

Di satu sisi, lanjut Anton, pasokan (supply) masih terbatas. Kondisi tersebut telah mendorong pemilik gedung untuk menaikkan harga sewa ruang kantor. \\\"Kenaikan harga masih memungkinkan karena memang suplai masih sangat sedikit, terutama untuk office grade A di kawasan CBD Jakarta. Pasokan pada tahun ini juga masih minim,\\\" ungkap dia.

Peningkatan permintaan unit perkantoran di Jakarta mulai tumbuh pada 2011. Sebelumnya bisnis perkantoran memang kurang begitu menarik bagi kalangan pengembang.

Namun, setelah ada krisis global, potensi ruang kantor di Indonesia semakin melonjak karena tingginya ekspansi perusahaan besar baik lokal dan multinasional. Bahkan perusahaan lokal seperti perbankan dan juga asuransi tumbuh pesat di Indonesia, terutama Jakarta. \\\"Saat ini kenaikan harga ruang perkantoran di kawasan CBD cukup pesat, bisa capai 30-40%, dan diikuti oleh kawasan sekunder lainnya,\\\" ujar Anton.

Menurut dia, permintaan paling tinggi masih di kawasan CBD, namun karena keterbatasan suplai maka banyak tumbuh perkantoran ke grade B seperti di kawasan TB Sumatupang dan Jakarta barat mulai dari kawasan Slipi sampai pada kawasan Tomang. \\\"Kawasan CBD ini harga sewa paling mahal dalam sejarah mencapai Rp 420 ribu meter persegi sebulan dan ini rekor dalam sejarah,\\\" katanya.

Ali Tranghanda mengatakan, secara umum bisnis properti masih cukup aman, terutama untuk bisnis kelas menengah atas. \\\"Secara umum bisnis properti masih aman, meski ada kenaikkan bbm,\\\" kata dia.

Menurut Ali, bisnis poperti perkantoran dan apartemen kelas menengah atas masih menjanjikan, karena memang pemain besar sudah memperhitungkan soal dampak BBM. Kondisi ini didorong oleh bisnis properti perkantoran yang cukup pesat. \\\"Pengaruhnya tidak signifikan untuk properti, justru yang paling terasa terkena dampaknya adalah hunian untuk masyarakat kurang mampu,\\\" kata dia

Related posts