Mengapa Mengutamakan Ekspor

Mengapa Mengutamakan Ekspor

Oleh Bani Saksono

(Wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Pada 27 Januari 2010, Menteri Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Darmin Zahedi Saleh menerbitkan Surat Keputusan Menteri Nomor 3 Tahun 2010 tentang Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam Negeri. Menteri ESDM hanya mewajibkan para kontraktor untuk menyisihkan 25% produksinya bagi kebutuhan dalam negeri. Jika kebutuhan dalam negeri masih belum mencukupi, menteri akan mengimpornya.

Sebelum SK Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2010 itu dicabut atau direvisi, tentu tak layak pemerintah, seperti diutarakan Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengklaim berkomitmen mengutamakan kebutuhan domestic dari pada untuk mencukupi kebutuhan negara asing.

Tentu para kontraktor lebih suka mengekspor produksinya dari pada mengisi kebutuhan dalam negeri. Hitung-hitungannya sudah jelas. Harga ekspor gas bumi jauh di atas harga domestik. Bahkan, pemerintah mengenakan harga pasokan buat kalangan industri dalam negeri sama dengan harga impor, karena diberlakukan harga internasional, yaitu sekitar US$ 10 per mmbtu.

Jika demikian, pemerintah telah memperlakukan industri dalam negeri seperti industri asing. Kebijakan antar-instansi pemerintah ternyata tidak sinkron. Kementerian Perindustrian menyatakan, harga gas untuk pasar domestik, utamanya untuk kalangan industri, tentu tidak bisa disamakan dengan harga yang dipatok di Singapura yang tinggi itu.

Kalau hal itu terjadi sama saja mencekik industri domestik. Tingginya harga gas bumi tentu menyebabkan produk industri domestik bersaing rendah di pasar global. Kasus itulah yang menyebabkan kelangkaan pasokan gas bumi di dalam negeri, karena para kontraktor lebih mengutamakan ekspor.

Padahal, kebutuhan negara importer gas bumi dari Indonesia kebanyakan tidak untuk mencukupi kebutuhan industri mereka, tapi untuk menambah cadangan nasionalnya. Mereka tahu,produksi gas bumi adalah produk tak terbarukan, karena itu dalam sekitar puluh tahun akan habis. Itu sebabnya, negara-negara importir gas bumi itu tak mengekspor hasil gas buminya sendiri.

Contohnya, saat ini, industri alumina China berkembang pesat. Kebutuhan bouksit sebagai bahan baku aluminiumnya berasal dari Indonesia. Kebutuhan bouksit per tahunnya sekitar 60 juta ton. Sebanyak 40 juta ton bahan baku tersebut dipasok dari Indonesia. Perlakuan Indonesia kepada China sungguh istimewa. Harga jual gas alam cair cair (liquidliquefied natural gas/LNG ) dari kilang Tangguh ke China saat ini sebesar US$ 3,35 per juta thermal unit (mmbtu), jauh lebih kecil dibandingkan harga ekspor LNG dari kilang Badak yang dikelola PT Badak NGL di Bontang, Kalimantan Timur ke pembeli dari ke Jepang yang mencapai US$ 16 per mmbtu.

Itu sebabnya, penghentian ekspor migas ke China jangan sekadar wacana dalam berbagai diskusi dan seminar atau pernyataan di media massa. Komitmen pemerintah untuk memajukan industri domestik dengan menjamin pasokan bahan bakarnya secara cukup dan terjangkau adalah harga mati. []

Related posts