IHSG Konsolidasi, Saham Properti Masih Layak Dikoleksi

NERACA

Jakarta- Dalam posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung bergerak konsolidasi, saham-saham properti dinilai memiliki nilai plus dan mampu mengobati kekhawatiran pelaku pasar untuk berinvestasi di pasar saham. “Saham-saham di sektor properti bisa diharapkan menjadi pelipur lara dalam kondisi saat ini. Meskipun ikut terkoreksi, sektor properti masih memiliki potensi menguat dalam jangka pendek,” kata praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Rabu (3/7).

Memang, apabila dihitung sejak awal tahun, indeks sektor properti telah mencatatkan kenaikan lebih dari 50%. Selain itu, pertumbuhan yang dicatatkan oleh emiten properti juga bisa dikatakan sangat positif. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) misalnya, pada kuartal pertama tahun ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,24 triliun atau naik tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp265,05 miliar.

Penjualan yang dicatatkan BSDE pun pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 214% mencapai Rp 2,60 trilium dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp 828,40 miliar. Pertumbuhan penjualan tersebut antara lain ditopang dari lonjakan penjualan kavling tanah yang tumbuh 7,31 kali lipat atau 631% menjadi Rp 1,99 triliun.

Manajemen perseroan BSDE mengungkapkan, penjualan di awal tahun merupakan keberhasilan perseroan untuk menjalin mitra strategis dengan Hongkong Land dan AEON Mall dari Jepang. Perseroan mencatat, telah menjual lahan seluas 66 hektar dengan nilai Rp 1,7 triliun kepada dua perusahaan joint venture. Bahkan, anak perusahaan antara BSD dan Hongkong Land akan menambah pembelian tanah seluas 10 hektar untuk menggenapkan pembelian lahan sampai 68 hektar tahun ini.

Jadi, tidak heran jika para analis menjagokan BSDE sebagai salah satu saham sektor properti. Tidak terkecuali bagi Kepala Riset dari Trust Securities, Reza Priyambada, “BSDE memiliki cadangan lahan (landbank) yang luas untuk pengembangan usaha perseroan,” ucapnya.

Menurutnya, selama Bank Indonesia tidak membuat kebijakan yang dapat menghambat perbankan untuk menumbuhkan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan tidak terlalu berlebihan terhadap bubble properti maka industri ini masih akan mengalami pertumbuhan.

Kenaikan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% saat ini juga dinilai belum akan berpengaruh langsung terhadap suku bunga pembiayaan di sektor properti. “Untuk saat ini masih mengacu pada masa yang lalu sehingga tidak berpengaruh terhadap potensi pertumbuhan properti,” sambung Lucky.

CTRA

Selain BSDE, Lucky dan Reza juga merekomendasikan saham-saham properti dari Grup Ciputra. Ke depan, prospek saham CTRA dinilai masih positif. Terlebih, sebagian besar proyek Ciputra berupa landed house yang masih mencatatkan permintaan tinggi.

Perseroan juga merupakan salah satu pengembang properti yang agresif melakukan pengembangan usaha. Untuk tahun ini saja, perseroan akan luncurkan 12 proyek baru tahun ini. Dari kedua belas proyek tersebut, delapan proyek di antaranya merupakan proyek besutan Ciputra Development, dan empat proyek lainnya merupakan proyek milik Ciputra Property dan Ciputra Surya.

Rencananya, Ciputra juga akan mengembangkan sayap bisnis ke pulau dewata dengan membangun hotel mewah berkonsep vila pada 2014. Perusahaan induk Grup Ciputra ini berniat membangun dua hotel dengan jumlah kamar masing-masing 100 kamar dan siap menggelontorkan dana sebesar US$ 400 juta–US$ 500 juta.

Kinerja keuangan perseroan juga bisa dibilang sangat kinclong. Pada tiga bulan pertama tahun ini CTRA berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 159% menjadi Rp 216 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 83 miliar.

Pencapaian laba bersih perseroan mencapai 21% dari target tahun 2013 sebesar Rp 1 triliun. Peningkatan laba bersih ini sejalan dengan pendapatan perseroan yang juga mengalami kenaikan sebesar 143% menjadi 1,34 triliun dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 552 miliar.

Lonjakan pendapatan tersebut tercatat karena naiknya pendapatan residensial sebesar 97% menjadi Rp 482 miliar dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 244 miliar. Jadi, secara total, pendapatan kuartal pertama tahun ini telah mencapai 22% dari target pendapatan tahunan sebesar Rp 6,03 triliun.

Related posts