Mandala Airlines Rebranding Logo

NERACA

Jakarta - Salah satu maskapai ternama, Mandala Airlines telah resmi mengganti nama menjadi Mandala Tigerair. Penggantian logo atau rebranding ini menurut Presiden Direktur Mandala Tigerair Paul Rombeek dilakukan merupakan strategi perusahaan untuk bisa menargetkan pasar yang lebih muda antara 20-30 tahun.

\"Perubahan yang kami lakukan lebih bersifat emosional. Kalau dulu Mandala dikenal dengan maskapai dengan harga yang cukup murah. Namun dengan perubahan ini, kami yakin bisa menjadikan pilihan utama bagi para konsumen yang ingin terbang dengan nyaman,\" ungkap Paul dalam Peresmian Logo Di Jakarta, Rabu (3/7).

Paul menjelaskan bahwa pihaknya merasa bangga karena bisa mewarisi nama Mandala. Namun, ia mengaku akan lebih mengangkat berbagai aspek dari Tigerair Group. Oleh karena itu, dalam proses rebranding ini, nama PT Mandala Airlines tidak berubah. Yang dilakukan perubahan hanyalah brand.

Menurut dia, perubahan juga dilakukan oleh manajemen di berbagai maskapai di bawah Tigerair Group seperti Tiger Airways yang berubah menjadi Tigerair (TR), Tiger Australia menjadi Tigerair Australia (TT) dan SEAIR menjadi Tigerair Philippines (DG) untuk menandakan sinergi dan konektivitas tinggi disleuruh maskapai tersebut. \"Kedepannya, Tigerair Group akan menjadi lebih solid dalam seluruh kegiatan operasinya dan dalam menawarkan jangkauan dan layanan yang lebih luas kepada penumpang,\" katanya.

Lebih lanjut dikatakan Paul, peremajaan brand Mandala Tigerair juga akan dilakukan di lokasi bandara, kantor penjualan tiket dan berbagai titik layanan pelanggan. \"Kedepannya kita akan melakukan perubahan namun secara bertahap,\" tambahnya.

Sebagai informasi, saat ini Mandala Tigerair telah mempunyai 8 pesawat dan nantinya ditargetkan pada 2015 akan bertambah jadi 15 pesawat. Mandala Tigerair telah melakukan 7 rute domestik antara lain Jakarta, Medan, Padang, Pekanbaru, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar dan 3 rute penerbangan internasional Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Nantinya pada akhir Juli akan menambah rute penerbangan baru yaitu ke Hongkong.

Terus Tumbuh

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) Tengku Burhanuddin meyakini industri penerbangan nasional akan terus tumbuh dan sama sekali tidak terpengaruh krisis finansial yang terjadi di Eropa.

Pertumbuhan ekonomi yang terjaga di atas 6 persen per tahun, sambungnya, baka mendorong daya beli masyarakat. Industri penerbangan akan tumbuh 2-2,5 kali dari pertumbuhan ekonomi. \"Kami tak punya data pasti, tapi rata-rata penerbangan di kawasan Asia Pasifik juga tumbuh sebesar itu. Indonesia tumbuh paling tinggi karena wilayahnya berupa kepulauan dan luas,\" jelasnya.

Pertumbuhan pasar angkutan udara di Asia Pasifik, khususnya Indonesia, juga disadari Airbus. Menurut Chief Operating Officer Customer Airbus John Leahy, pertumbuhan pasar jasa angkutan penumpang udara di Asia Pasifik lebih tinggi dibanding rata-rata dunia. Hal itu ditopang pertumbuhan bisnis low cost carrier (LCC) yang tumbuh 7% per tahun. \"Jika pertumbuhan pasar penerbangan di dunia mencapai dua kali lipat setiap 15 tahun, di Asia Pasifik, pertumbuhan sebesar itu terjadi setiap 10 tahun,\" jelasnya.

Saat ini, Leahy mengakui, Airbus mencatat order backlog (kekurangan pemenuhan permintaan) mencapai 4.998 pesawat. Jumlah backlog terbesar tercatat untuk kawasan Asia Pasifik, yakni mencapai 1.849 unit, atau 35% dari keseluruhan backlog. Bagi Airbus, Asia Pasifik merupakan pasar utama. Sebab, kawasan ini mewakili 31% dari seluruh pesanan yang diterima Airbus.

Menyangkut Indonesia, Leahy menilainya sebagai salah satu kunci pertumbuhan pasar angkutan udara. Pasalnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih 240 juta orang atau terbesar keempat di dunia dengan wilayah geografis berupa kepulauan. \"Dengan populasi sebanyak itu, baru 10% penduduk Indonesia yang bepergian dengan pesawat komersial. Tentu ini peluang pasar yang sangat besar,\" jelasnya.

Pengamat penerbangan Dudy Sudibyo menilai, kompetisi maskapai sekarang ini makin ramai seiring kelas menengah Indonesia yang tumbuh sekitar 16%. Persaingan pun kini diramaikan tak hanya dari sisi harga, namun juga kualitas. \"Tidak terlalu jor-joran seperti dulu. Awal tahun 2000-an banyak maskapai banting harga. Tapi, sejak 2010 sudah berubah menjadi lebih dewasa, di mana penumpang juga memilih kualitas, selain harga yang murah,\" ucapnya.

Related posts