Boediono: Kurikulum 2013 Jangan Layu Sebelum Berkembang

Hingga kini,penolakan kurikulum 2013 masih terjadi. Pasalnya beberapa kalangan menilai bahwa dalam mengubah kebiasaan sekolah-sekolah yang berorientasi mata pelajaran menjadi tematik dan integratif bukanlah sesuatu yang mudah.

NERACA

Tidak lama lagi, tepatnya tanggal 15 Juli 2013, kurikulum 2013 yang menekankan pendekatan tematik dan integratif dan berkarakter akan diberlakukan. Namun hingga kini, penolakan kurikulum 2013 tersebut masih sering terjadi. Pasalnya, Selama ini, budaya pembelajaran di sekolah-sekolah masih berorientasi mata pelajaran. Sedangkan dalam Kurikulum 2013, banyak yang sudah mengedepankan tema-tema pembelajaran dari sejumlah mata pelajaran.

Mengubah kebiasaan lama ini tentunya tak mudah bagi semua orang, sehingga beberapa pengamat pendidikan menyebutnya sebagai “titik kritis” yang berpeluang mempengaruhi kualitas pelaksanaannya.Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr Tilaar. Menurut dia, model pendekatan tematik dan integratif merupakan perkara yang tidak mudah. Dari segi persiapan masih banyak keukurangan dan terlalu tergesa-gesa. Sedangkan dari sisi anggaran, kurikulum 2013 yang menghabiskan APBN Rp 829 miliar hanya pemborosan.

“Kurikulum baru ini tidak akan berhasil bahkan tinggal menunggu kegagalannya,” ujar dia.

Terkait dengan berbagai tanggapan mengenai pelaksanaan kurikulum 2013, Wakil Presiden Boediono mengatakan bahwa nasib kurikulum 2013 jangan layu sebelum berkembang yang idenya telah disiapkan dengan matang tapi sia-sia tidak mencapai sasaran yang diharapkan kepada anak didik.

Dikatakan Wapres, kurikulum 2013 merupakan hasil kompromi dari berbagai pihak setelah sebelumnya melalui perdebatan panjang, tidak hanya di pemerintahan tapi juga masyarakat. Ia menilai debat dan masukan soal kurikulum 2013 dinilai masih wajar sebagai upaya untuk mendapatkan hasil terbaik bagi upaya memberikan kurikulum bagi anak didik. Namun debat yang berkepanjangan justru akan menjadikan anak didik menjadi korban.

\\\"Penyusunan kurikulum 2013 tidak dilakukan secara mendadak, setelah sebelumnya melalui debat dan masukan. Saya termasuk yang mengikuti proses penyusunan kurikulum 2013,\\\" kata Boediono saat memberikan pengarahan dalam Pelatihan Instruktur Nasional Implementasi Kurikulum 2013 di Jakarta, belum lama ini.

Keunggulan Kurikulum 2013

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Musliar Kasim menuturkan, dalam perumusannya kurikulum 2013 melibatkan sekitar 500 pakar dan ahli di bidangnya.Upaya penyempurnaan kurikulum ini dilakukan karena melihat hasil tren pelajaran matematika internasional, menunjukkan hasil dari matematika, bahasa dan sains anak-anak Indonesia nilainya rendah.

Peserta didik dari Indonesia, ungkap dia, hanya mampu menjawab soal-soal yang level kategori rendah hingga menengah saja, artinya bisa mencapai intermediate, sedangkan anak-anak dari berbagai negara seperti China, Korea dan Jepang termasuk Singapura, sudah dapat menjawab soal yang sulit dan level lanjutan.

“Jika dilihat data pada nilai matematika anak didik pada 2007 lebih tinggi dibandingkan pada 2011 yang hanya mampu menjawab soal-soal hafalan. Oleh karena itu, tiga mata pelajaran (bahasa, matematika dan sejarah) untuk tingkat SMA menjadi wajib dan posisi terdepan dibandingkan yang lainnya,” ungkap dia.

Menurut dia, mencetak generasi yang berkualitas dan berdaya saing dengan kompetisi sesuai tuntutan dunia abad 2021, maka perlu dibentuk karakter dan keilmuan sejak sekarang. Seperti apa generasi yang diinginkan dunia ke depan, katanya, perlu dididik dari sekarang agar dapat digunakan oleh anak-anak yang tamat 20-30 tahun ke depan.

\\\"Kita ingin mewujudkan bahwa kompetensi yang dibutuhkan masyarakat abad 21, keseimbangan antara soft skills dan hard skills. Maka dalam kurikulum 2013 memberikan ruang agar anak dapat menguasai tiga kompetensi sekaligus, meliputi sikap, keterampilan dan pengetahuan,\\\" jelas dia.

Lebih lanjut Musliar mengatakan, alasan lain untuk penyempurnaan kurikulum tersebut, tentu melalui penerapan kurikulum 2013 supaya dapat membangun kecintaan peserta didik terhadap negara sendiri. Dalam kurikulum 2013 hasil tidak penting lagi, tapi bagaimana proses yang dilakukan peserta didik dimengerti dan dipahaminya.

\\\"Belajar untuk mata pelajaran matematika khusus untuk tingkat dasar akan lebih konkret lagi, seperti menghitung dengan menggunakan lidi dan jenis lainnya. Selama ini yang diketahui tentang matematika hanya menghitung dan ke depan bagaimana merumuskan,\\\" katanya.

Jadi, sambung dia, pembelajaran yang cocok bisa merumuskan masalah, menanyakan dan bukan hanya menyelesaikan masalah dan menjawab semata, karena kalau hafalan akan mudah lupa. Selain itu, tambah dia, metode pembelajaran ke depan menghindari pengerjaan yang mekanistis, tetapi lebih pada analitikal sehingga tidak seperti pekerjaan sehari-hari.

\\\"Yang penting dalam kurikulum 2013 bukan jawabnya, tapi prosesnya seperti apa peserta didik menyelesaikan persoalan itu, biar pun tidak benar, tapi prosesnya benar-benar berjalan,\\\" tegasnya.

Related posts