Kenapa Bunga Bank Tetap Tinggi?

Di tengah kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang memprihatinkan, kalangan perbankan nasional tampaknya belum memiliki sense of crisis yang tinggi. Ini terbukti masih tingginya suku bunga kredit sehingga membuat cost of production menjadi tinggi, dan ujung-ujungnya pengusaha lokal kalah bersaing dengan mitra usahanya di Negara ASEAN lainnya.

Bahkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, sebuah negara bisa maju bila memiliki sejumlah persaingan. Salah satunya adalah persaingan dalam memberikan suku bunga perbankan yang kompetitif, terutama bunga kredit.

\"Sebab, negara maju ini selalu memberikan bunga perbankan lebih rendah. Saya waktu itu marah betul kepada Bank Indonesia karena masih mengenakan bunga tinggi di perbankan nasional,\" ujarnya saat memberikan sambutan di acara sebuah seminar Jakarta, Selasa (2/7).

Memang benar, marjin bunga bersih (net interest margin-NIM) perbankan Indonesia tertinggi di dunia. Karena di Malaysia, Thailand maupun Singapura, besaran rata-rata NIM sekitar 2%-3%, sementara di Indonesia mencapai level 5%-7%. Sehingga tak mengherankan banyak bankir asing mengincar membeli sejumlah bank lokal. Apalagi pemerintah Indonesia melalui PP No 29/1999 membuka kesempatan bagi warga negara asing (WNA) maupun lembaga usaha asing dapat membeli hingga 99% saham bank lokal.

Walau suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS Rate) tercatat 5,75%, di bawah suku bunga acuan BI Rate 6%, ternyata banyak bank masih jor-joran memberikan bunga di atas 6% per tahun untuk memikat pemilik dana kelas kakap.

Para pemilik dana besar juga tampaknya tak peduli dengan patokan LPS Rate, toh dana mereka yang di atas Rp 2 miliar memang tidak dijamin LPS. Ini terlihat dari total dana yang tidak dijamin LPS yang mencapai Rp 1.354,98 triliun atau 41,65% dari total DPK perbankan.

Lantas, apakah pemilik dana bisa dipaksa menerima imbal hasil yang lebih rendah dari biasanya? Tentu saja tidak. Mereka gampang saja mengalihkan dananya ke instrumen keuangan lain yang memberikan yield lebih baik. Ini tentu akan memicu perpindahan likuiditas ke instrumen investasi yang lain, sehingga menjadi masalah yang lebih pelik bagi perbankan nasional yang lemah struktur pendanaannya.

Sejumlah pengalaman masa lalu menunjukkan, bank-bank besar pun kolaps karena likuiditasnya kering, bukan terutama karena faktor kredit bermasalah yang tinggi. Namun, upaya menjaga likuiditas bank, terpaksa harus menanggung biaya dana (cost of fund) mahal. Apalagi, banyaknya dana masyarakat yang dapat ditarik dapat menentukan skala bank menjadi besar, sementara tingkat tabungan masyarakat Indonesia masih rendah.

Tidaklah mengherankan, kendati produk domestik bruto (PDB) Indonesia terbesar, mencapai sekitar 40% di ASEAN, tidak ada bank lokal yang menjadi terbesar di ASEAN. Singapura yang merupakan negara terkecil di ASEAN, ternyata mampu menempatkan banknya sebagai terbesar di kawasan ini seperti DBS Group dan OCBC Group.

Lihat saja total aset DBS per Desember 2012 mencapai Rp 2.784 triliun. Jumlah itu sekitar 4,4 kali lipat dari kekayaan Bank Mandiri yang mencapai Rp 635,6 triliun. Mandiri merupakan badan usaha milik negara (BUMN) dan memiliki aset terbesar di industri perbankan Indonesia.

Namun, pertumbuhan laba perbankan Indonesia cukup menggiurkan. Tidak perlu kerja keras, para bankir lokal cukup duduk manis pada tahun ini, keuntungan bank diprediksi meningkat 23% dibandingkan 2012. Ini karena spread (selisih suku bunga kredit dan deposito) yang tinggi sekitar 6%-7%, keuntungan bank mengalir dengan sendirinya. Artinya, bank cuma menguntungkan buat dirinya sendiri.

Related posts