Menghitung Untung Siloam Hosptital di Pasar Modal - Jadi Tulang Punggung LPKR

NERACA

Jakarta – PT Siloam International Hospitals, anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) akan segera menawarkan saham perdananya (initial public offering/IPO) untuk mencapai target pembangunan 50 rumah sakit (RS) hingga 2017.

Kata Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Untomo, semua anak usaha Grup Lippo memiliki prospek usaha yang bagus, seperti Bank Nobu yang melantai belum lama ini. Sehingga ketika RS Siloam telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak diragukan lagi akan bagus sahamnya.

Meskipun saat ini indeks terlihat fluktuatif, dia yakin anak usaha grup Lippo ini akan tetap menarik karena memang kinerjanya cukup baik. “Setahu saya RS Siloam pernah listing dengan nama PT Graha Medika Tama namun keluar lagi, mengenai RS Siloam saya tidak terlalu mengikuti namun memang grup Lippo cukup bagus”, ujar dia kepada Neraca (2/7).

Mengenai kisaran harga saham yang sesuai, dia enggan menjelaskan karena belum keluar angka dari pihak RS Siloam. Namun, dia memprediksi saat IPO nanti banyak yang akan berminat dengan saham RS tersebut dengan alasan kinerjanya yang cukup baik, sehingga tidak akan jauh berbeda dengan saham Bank Nobu.

Lippo juga telah menunjuk Ciptadana Securities sebagai penjamin emisi pelaksana bagi IPO anak usahanya. Namun dalam pelaksanaannya, IPO RS Siloam mundur dari rencana sebelumnya yang akan dilaksanakan pada semester I tahun ini.

Direktur Ciptadana Securities, John Teja sebelumnya pada pertengahan bulan lalu sempat menyatakan bahwa pelaksanaan IPO itu mundur karena perseroan belum mendapatkan pernyataan pra-efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).“Perseroan juga menaikan target emisi IPO. Namun tidak bisa menjelaskannya, silahkan tanya perseroan”, ujar dia.

Sebagai anak usaha LPKR, Siloam menyumbang pendapatan yang cukup signifikan. Tahun lalu, Siloam menyumbang 35% terhadap total pendapatan LPKR Rp 6,1 triliun. LPKR pun menargetkan bisa meningkatkan sumbangan pendapatan Siloam menjadi 50%. Total aset Siloam saat ini Rp 1,58 triliun.

Hingga 2017, LPKR berambisi mendirikan 50 RS Siloam. Hingga saat ini 13 rumah sakit telah dibangun. RS Siloam sendiri memiliki visi misi layanan kesehatan setara dengan Singapura dan Malaysia. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2012, perseroan membukukan laba bersih Rp 1,06 triliun atau naik 50% dari tahun sebelumnya Rp 708 miliar. Jumlah ini berhasil diraih dengan ditopang dari pendapatan usaha yang tumbuh 47% menjadi Rp 6,16 triliun.

Kontribusi Pendapatan

Pendapatan dari lini bisnis pengembangan perumahan tercatat meningkat 67% menjadi Rp 3,4 triliun. Pencapaian ini diikuti dari segmen lini bisnis perseroan lainnya yaitu jasa rumah sakit yang tumbuh 42% menjadi Rp 1,79 triliun. Kenaikan pendapatan rumah sakit terdorong kegiatan operasional 7 RS Siloam. Diketahui jumlah pasien rawat inap meningkat 41% dan pasien rawat jalan naik 23% serta pendapatan dari laboratorium naik 31%, dan farmasi 33%.

Sementara analis OSK Nusadana Sekuritas, Lydia Suwandi pernah bilang, rencana IPO Siloam Hospitals ini hanya teknikal IPO. Ini lantaran LPKR cuma melepas sebagian kecil dari saham Siloam. \"Saham yang ditawarkan kecil, di bawah 10%,\" ungkap dia.

Karena itu, Lydia menduga, aksi ini hanya untuk menampung minat para investor masuk di segmen healthcare. Sementara Natalia Sutanto, analis Bahana Securities, dan Steven Gunawan, Research Associate Batavia Prosperindo Sekuritas justru menilai, rencana ini cukup baik bagi kinerja perusahaan. \"Karena LPKR bisa mendapat kas baru, sehingga dorongan untuk ekspansi dengan membangun rumahsakit dan mal akan meningkat,\" jelas Natalia.

Menurut Natalia, IPO Siloam Hospitals nantinya akan menjadikannya emiten hospital terbesar yang listing di BEI. Dia memprediksi, kinerja calon emiten ini akan lebih besar dari PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang memiliki satu rumahsakit Mayapada Hospital, dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) yang punya dua rumahsakit Omni Hospitals.

Steven pun memandang, bisnis rumahsakit selama ini cukup bagus. Dia optimis, bisnis rumahsakit bisa bertumbuh ke depannya. Asal tahu saja, bisnis rumahsakit LPKR bisa menghasilkan pendapatan sebanyak Rp 2,3 triliun di tahun ini. Angka tersebut naik 31% dari tahun lalu. Pertumbuhan rumah sakit baru menjadi salah satu pemicu pertumbuhan pendapatan tersebut.

Tahun depan, pendapatan LPKR dari rumah sakit bisa bertambah lagi, karena dua rumahsakit akan mereka bangun. LPKR sendiri menargetkan akan mencetak pendapatan Rp 9,31 triliun pada tahun ini. Angka ini naik 33,8% dari 2012. Adapun target laba bersih LPKR senilai Rp 1,9 triliun, naik 79,8% dari 2012. (nurul)

Related posts