Pasar Domestik Bukan Jadi Penyebabnya - Penundaan IPO

NERACA

Jakarta – Banyaknya perusahaan yang menunda pelaksaan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada pertengah tahun ini dipicu fluktuatifnya indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun alasan tersebut dibantah langsung pengamat pasar modal dari Kresna Securities, Octavianus Budiyanto.

Menurutnya, penundaan beberapa perusahaan untuk IPO bukan dikarenakan kondisi bursa saham domestik yang negatif, “Diperkirakan penundaan IPO beberapa perusahaan dikarenakan faktor teknikal seperti valuasi harga saham yang tidak sesuai harapan, baik dari sisi emiten maupun penjamin emisi. Sebenarnya pasar saham domestik masih positif,\" ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut dia, sektor perusahaan yang juga sedang dalam kondisi kurang baik juga dapat menjadi salah satu alasan penundaan pelaksanaan IPO.\"Seperti sektor perkebunan memang sedang mengalami penurunan, namun lambat laun juga akan tetap positif,\"katanya.

Disebutkan, beberapa perusahaan yang menunda pelaksanaan IPO diantaranya PT Bank Muamalat Tbk, PT Siloam International Hospital, PT Citra Borneo Indah dan PT Siba Surya.

Octavianus mengatakan minat perusahaan untuk melakukan IPO masih cukup tinggi pada tahun ini, pihaknya saat ini juga sedang melakukan proses pelaksanaan IPO terhadap tiga perusahaan di sektor keuangan dan minyak dan gas. Namun, dirinya belum berkenan untuk mengungkapkan perusahaan lebih rinci, “Baru PT Sido Muncul yang telah melakukan paparan ke Bursa Efek Indonesia,”paparnya.

Dia mengharapkan, jumlah investor domestik dapat terus bertambah sehingga dapat menahan gejolak pasar keuangan ketika pemodal asing melakukan penarikan dana dari dalam negeri.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan kondisi pasar saham yang sedang bergejolak bukan alasan perusahaan untuk menunda pelaksanaan penawaran umum saham perdana.\"Siapa yang bisa memperkirakan pergerakan saham. Sejauh ini bursa kita masih positif, masih cukup banyak perusahaan yang mencari dana di pasar modal untuk melakukan ekspansi,\" tuujarnya.

Hoesen menuturkan, saat ini ada sekitar 21 perusahaan sedang dalam proses pelaksanaan penawaran umum saham perdana. Dan, sepanjang tahun ini sudah ada sebanyak 17 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Dirinya berharap, dengan bertambahnya jumlah perusahaan yang tercatat di BEI dapat menahan gejolak pasar saham domestik. Pasalnya, kehadiran perusahaan baru di BEI dapat memulihkan pasar modal dalam negeri.

Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya untuk meyakinkan perusahaan agar tidak menunda pelaksanaan IPO sehingga pendanaan dari pasar modal untuk melakukan ekspansi dapat terealisasi. Oleh karena itu, diharapkan penundaan IPO tidak ada karena kondisi pasar yang bergejolak, karena pergerakan saham tidak bisa diprediksi. (bani)

BERITA TERKAIT

Mendikbud - Pendidikan Karakter Bukan Diceramahkan

Prof Muhadjir Effendi Mendikbud Pendidikan Karakter Bukan Diceramahkan Malang - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendi menyatakan pendidikan…

Geliat Semen Pasca Pilpres - Indocement Bidik Pertumbuhan Pasar 5%

NERACA Jakarta – Ditetapkan rekapitulasi hasil pemilu presiden (Pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan menetapkan Joko Widodo dan Maaruf…

Pasar Properti Masih Tertekan - Intiland Pilih Kerjasama Kembangkan Proyek Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di Maja, Banten, seperti yang sudah dilakukan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) menjadi daya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Wintermar Raih Kontrak US$ 75,8 Juta

Perusahaan pelayaran PT Wintermar Offshore Marine Tbk. (WINS) mengantongi kontrak berjalan senilai US$75,8 juta atau sekitar Rp 1,09 triliun dengan…

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

Kalbe Farma Tebar Dividen Rp 1,22 Triliun

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp1,22 triliun atau Rp26 per saham untuk tahun…