Hendar dan Mulya Siregar Berpeluang Besar - Tresna “Masuk Kotak”

NERACA

Jakarta - Setelah selesai uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test ketiga calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGBI), Komisi XI DPR akan memilih siapa yang layak menggantikan posisi yang ditinggalkan Muliaman Darmansyah Hadad. Namun, dari ketiga calon tersebut yaitu Hendar, Mulya Effendi Siregar, dan Tresna W Suparyono, sepertinya Hendar dan Mulya E Siregar yang bakal bersaing ketat. Pernyataan ini keluar dari mulut anggota Komisi XI Maruarar Sirait.

Menurut Ara, sapaan akrabnya, Hendar handal di bidang moneter, sementara Mulya E Siregar kuat di sektor perbankan. \"Saya melihat Hendar dan Mulya (E Siregar) calon kuatnya. Mereka punya cukup banyak peluang,” tegas Ara kepada Neraca, Selasa (2/7). Lebih lanjut dirinya menuturkan, yang dibutuhkan BI ke depan adalah sosok DGBI yang dapat memperkuat sektor moneter. Pasalnya, bank sentral membutuhkan sosok pemikir yang matang terkait kebijakan bauran moneter di bawah Gubernur BI Agus DW Martowardojo.

“Semua anggota Komisi XI DPR sedang mempelajari hasil uji kelayakan kemarin dan akan menentukan hasilnya pada pekan depan,” terangnya. Ara pun menjelaskan, hal yang terpenting setelah terpilih menjadi DGBI adalah menjalankan program BI dengan semaksimal mungkin. Semua program yang dijelaskan oleh para calon harus diterapkan dengan baik setelah terpilih nanti. “Saya melihat ada calon yang berkomitmen menjalankan asas resiprokal, memperjuangakan UMKM, dan penurunan suku bunga. Hal ini merupakan prinsip-prinsip dasar yang harus diterapkan setelah terpilih,” ungkap dia.

Sementara Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis mengaku telah mengantungi nama calon kuat DGBI. Hanya saja, kata dia, dengan pengunduran perubahan pemilihan dari pekan ini menjadi 8 Juli mendatang, pilihan dirinya dan Fraksi Golkar juga bisa berubah. Terkait profil kandidat yang diharapkan menjadi DGBI, Harry melihat perlunya seseorang yang fokus terhadap persoalan makroprudensial. \"Yang dibutuhkan BI bidang makroprudensial, karena bidang pengawasan dan pengaturan perbankan sudah tidak ada setelah wewenang itu dipindahkan ke OJK tahun depan,\" tambahnya.

Sedangkan Andi Rahmat menambahkan, semua kandidat memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun secara umum ketiganya berasal dari kultur yang sama. \"Dari segi latar belakang mereka punya latar belakang yang sama. Pendidikannya juga setara. Ada plus minus dari segi penugasan-penugasan,” tutur dia. Menurut Andi, Hendar mempunyai pengalaman panjang di sektor moneter dan pembayaran. Mulya E Siregar lebih pada sektor perbankan.

Tetapi, siapapun yang terpilih nanti, kata Andi lagi, harus bisa mengemban tugas BI setelah ada OJK. Di mana, BI akan lebih banyak fokus pada sistem pembayaran fungsi moneter. Untuk makro prudensial, BI ada di aspek moneternya. Sebagai biodata singkat, Tresna W Suparyono yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat ini pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura dari Agustus 2008 hingga 2010.

Dia juga pernah menjadi Kabiro Analisis Devisa dan Nilai Tukar, Direktorat Pengelolaan Devisa Bank Indonesia September 2005-Agustus 2008, Deputi Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter Bank Indonesia dari Juli 2003 hingga September 2005, Deputi Direktur Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia dari Juni 2001-Juli 2003, dan Kabag Statistik Moneter Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia dari Juli 1998-Juni 2001.

Mulya Effendi Siregar lahir pada 14 Maret 1957, pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan pada 2012, Direktur Direktorat Perbankan Syariah dari 2010 hingga 2012, Kabiro Penelitian, Pengaturan, dan Pengembangan Perbankan Syariah dari 2006 hingga 2010, Ketua Tim Penelitian dan Pengembangan Perbankan Syariah 2002-2006, serta Kepala Seksi Ekonomi dan Statistik dari 1989 dari 1992.

Terakhir Hendar, lulusan Universitas Padjadjaran, pernah menjabat sebagai Asisten Gubernur BI, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter pada 2009, Kabiro Kebijakan Moneter pada 2004, serta Staf Urusan Kredit Umum BI pada 1983. Kekosongan posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia yang ditinggalkan Muliaman Darmansyah Hadad yang mengundurkan diri lantaran terpilih menjadi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Komisi XI DPR akan memutuskan siapa yang terpilih sebagai Deputi Gubernur BI pada pekan depan. [mohar]

Related posts