Central Proteinaprima Yakinkan Pasar - Kantongi Persetujuan Kreditur

NERACA

Jakarta-PT Central Proteinaprima Tbk (Tbk) mengaku optimistis dapat meningkatkan kinerja perseroan ke depan dan meyakinkan para pemegang saham. Terlebih perseroan telah mengantongi persetujuan kreditur atas restrukturisasi utang yang diajukan. “Lebih dari 75% kreditur sudah menyetujui proposal restrukturisasi yang diajukan perseroan.” kata Corporate Communications CPRO, George Basuki di Jakarta, Selasa (2/7).

Menurutnya, telah disepakati perpanjangan jatuh tempo atas utang PT Blue Ocean Resources (anak perusahaan CPRO) senilai US$325 juta dari 30 Juni 2012 menjadi 30 Juni 2020. Selain itu, otoritas PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengaktifkan kembali perdagangan saham perseroan yang sebelumnya dihentikan sejak 29 Juni 2010. “Perseroan akan lebih meningkat lagi ke depan karena proses restrukturisasi telah berjalan.” ucapnya.

Pihaknya pun optimistis akan dapat meningkatkan kinerja perseroan ke depan, di mana pasar ekspor yang menjadi tujuan penjualan produk-produk perseroan, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan Jepang masih mencatatkan permintaan yang positif. Perseroan juga akan berupaya mengurangi rugi bersih pada tahun ini dengan cara meningkatkan EBITDA hingga Rp408 miliar di 2013.

Hal itu disampaikan Direktur Keuangan PT Central Proteinaprima Tbk, Saleh Yu. Dia mengatakan, peningkatan EBITDA akan dilakukan dengan mengenjot volume penjualan udang. Ditargetkan, hingga akhir tahun ini penjualan mencapai 80 ribu ton dan pada semester kedua juga bisa mengoperasikan pabrik baru di Lampung. \"EBITDA tahun ini targetnya sebesar Rp408 miliar, naik dari EBITDA pada tahun lalu yang mencapai Rp 269 miliar,\" jelasnya.

Jika target EBITDA tersebut bisa tercapai, perseroan yakin akan dapat menyelesaikan utang yang ditanggungnya.\"Target EBITDA tercapai kami akan lunasi bunganya mulai 1 Juli 2013 ini yang sebesar dua persen per tahunnya,\" ujarnya.

Asal tahu saja, CPRO sebelumnya tercatat sebagai salah satu emiten yang terancam dikeluarkan secara paksa (force delisting) bersama 6 emiten lain. Pihak otoritas bursa memberikan batas waktu hingga semester pertama tahun 2013. Untuk CPRO, ancaman force delisting tersebut disebabkan perusahaan yang bergerak di bisnis pertambakan udang tersebut terancam default atas obligasi Blue Ocean Resources Pte Ltd., yang merupakan anak usaha perseroan.

Namun, belum lama ini melalui surat bernomor 030/CPP-JKT/CS/13, perseroan telah melaporkan hasil keputusan Pengadilan Singapura yang telah mengesahkan hasil RUPS yang digelar di Singapura pada 18 April lalu. Keputusan RUPS tersebut antara lain mengenai restrukturisasi obligasi BOR da telah memiliki kekuatan hukum. Termasuk skema penyelesaian yang menyepakati adanya perpanjangan waktu jatuh tempo obligasi selama 8 tahun, serta pengubahan skema pembayaran bunga dan pokok obligasi. (lia)

BERITA TERKAIT

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…