Ini Dia, “One Day No Rice” Ala Pemkot Sukabumi

Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi melalui Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi mencanangkan one day no rice (satu hari tanpa nasi). Pencanangan tersebut diiringi dengan keluarnya Peraturan Walikota (Perwal) Sukabumi Nomor 30 Tahun 2012 tentang penyaluran cadangan pangan pokok daerah Kota Sukabumi tahun anggaran 2012.

Selain itu, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi bersama Dewan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi menggelar seminar tentang ketahanan pangan yang diikuti ratusan peserta dari unsur SKPD, OPD dan masyarakat di Gedung Korpri Kota Sukabumi, Selasa (2/7). Hadir dalam kegiatan tersebut Walikota Sukabumi H M Muraz dan pembicara tentang ketahanan pangan Fajar Laksana.

Walikota Sukabumi H.Muraz mengatakan, pencanangan one day no rice (ODNR) atau satu hari tanpa nasi bisa menekan ancaman penyakit diabetes. Karena orang indonesia terbiasa memakan nasi. Nasi mengandung kadar gula yang tinggi apalagi bila tidak diimbangi dengan lauk pauk dan sayuran beragam. Pertama Pemkot Sukabumi akan mencoba di lingkungan Pemkot Sukabumi. “Kita akan mencoba satu minggu sekali setiap hari Kamis gerakan satu hari tanpa nasi. Saya juga instruksikan setiap kegiatan rapat untuk mengurangi snack dari beras dan berbahan terigu”, kata dia.

Kadis Pertanian Kota Sukabumi Kardina Karsoedi mengatakan, kegiatan ODNR juga dalam rangka mengurangi konsumsi akan beras, otomatis akan berkurang pasokan beras ke Kota Sukabumi yang biasanya dalam satu tahun kurang lebih 36 ribu per ton atau sekitar 102 ton perharinya. Apabila didorong dengan program one day no rice masyarakat akan memahami bukan dari sisi ketergantungan melainkan kesehatannya.

Sementara itu, pembicara ketahanan pangan Fajar Laksana mengatakan, masyarakat indonesia terhadap kebiasaan makan beras menjadi produsen terbesar ketiga di dunia sebesar 8,5% atau 51 juta ton, kandungan energi atau kalori yang terlalu tinggi dalam padi-padian menjadi tidak sehat jika tidak diimbangi dengan olah raga atau aktifitas fisik lainnya bisa memicu kegemukan dan peningkatan kadar gula didalam darah.

Data dari badan Ketahanan pangan tahun 2009, konsumsi umbi-umbian di Indonesia rata-rata hanya mencapai 51,7 persen. Sebaliknya padi-padian semakin populer sehingga tingkat konsumsinya mencapai 118,5 persen lebih tinggi dari yang dianjurkan.

Solusinya, lanjut Fajar, menciptakan diversifikasi pangan yang memiliki nilai gizi yang setara dengan beras dan ekonomis terjangkau oleh rakyat. Sehingga, rakyat tidak selalu bergantung pada ketersediaan beras. Hal ini dapat dijalankan bersamaan dengan menggali potensi tanaman tradisional lokal yang sudah terbiasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat. “Dan satu hari tanpa nasi itu sudah saya lakukan di Pondok Pesantren Alfath sejak tahun 2011, bahkan gerakan tersebut mengantarkan Ponpres sebagai juara tingkat Jabar di bidang ketahanan pangan”, ujarnya.

Fajar juga mengungkapkan, perhitungan solusi satu hari tanpa nasi menuju swasembada pengan yakni ibaratnya jumlah keluarga yang ada di Indonesia adalah kira-kira 50 juta keluarga dengan setiap anggota keluarga memerlukan 400-600 gram beras setiap harinya dengan asumsi makan tiga kali sehari. Bila kita rata-rata 500 gram per orang untuk keluarga dengan 4 anggota keluarga akan dibutuhkan 2 kilogram beras perhari untuk setiap keluarga.

Sehingga setiap harinya keluarga di Indonesia memerlukan 100 ribu ton beras. “Jadi, kalau kita bisa mengganti 1 hari dengan umbi-umbian maka kita akan menghemat 100 ribu ton beras setiap minggu. Kalau kita hitung ada 52 minggu dalam satu tahun maka penghematannya beras dari substitusi umbi 1 kali adalah 5.200.000 ton”, jelas Fajar.

Jadi lanjut Fajar menyatakan, kebijakan Walikota tentang one day no rice sangat tepat dan disambut masyarakat. Artinya, masyarakat membantu pemerintah secara nasional swasembada pangan, meningkatkan daya beli masyarakat. “Saat ini, Pemkot membutuhkan 106 ton perbulan singkong untuk gerakan ODNR tersebut. Makanya saat ini saya akan melakukan pelatihan yang memberdayakan kelompok tani untuk membuat beras singkong dan ini merupakan peluang kerja bagi masyarakat kota Sukabumi bisa berkarya, berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan akan singkong itu sendiri”, tukas dia.

Related posts