Investor Tinggalkan Investasi di Pasar Saham - Sentimen Makro Ekonomi

NERACA

Jakarta-Fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih akan membawa pasar saham berada pada masa konsolidasi hingga tiga bulan ke depan. Investor asing pun saat ini cenderung memanfaatkan momentum yang ada untuk melakukan aksi spekulasi. “Fluktuasi Indeks disebabkan aksi spekulasi yang cenderung tinggi dari asing dibandingkan melakukan investasi. Dalam tiga bulan ke depan Indeks masih akan negatif dan cenderung melemah di kisaran 4.500.” kata praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Selasa (2/7).

Menurutnya, kondisi pasar saat ini lebih disebabkan kondisi internal Indonesia di mana kebijakan yang baru saja diputuskan terkait harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menimbulkan persepsi yang negatif. \"Ketika harga BBM dinaikkan akan memberikan pengaruh mendasar pada peningkatan harga komoditas sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan pasar komoditas.\" jelasnya.

Selain itu, sambung dia, pada tahun depan Indonesia akan memasuki masa pemilihan umum (pemilu). Hal yang dikhawatirkan terjadi, yaitu adanya aksi dari para pelaku kepentingan untuk memanfaatkan momentum tersebut sehingga pasar saham akan lebih bergejolak. Karena itu, sentimen positif dari lembaga rating Moody\\\'s terkait peringkat utang RI dari stabil menjadi positif tidak serta merta diikuti dengan kenaikan IHSG. “Investor menilai kondisi makro ekonomi indonesia tidak lagi solid.” ujarnya.

Pada perdagangan kemarin IHSG tercatat dalam posisi negatif, dengan persentase penurunan sebesar 1,2% atau 48,7 poin. Di awal sesi, IHSG dibuka di level 4.777 dan ditutup di level 4.728. IHSG sempat berada di level tertinggi di 4.810 dan mencapai level terendahnya di angka 4.724.

Dia menilai, dengan sejumlah sentimen yang belum mendukung tersebut, konfirmasi penguatan Indeks menuju target level 5000 masih cukup sulit. Kondisi inipun tidak hanya mempengaruhi kinerja saham, namun juga berpengaruh terhadap kinerja pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). “Momentum IPO kurang tepat pada masa konsolidasi sehingga indeks dipandang juga memberikan efek terhadap perusahaan yang akan listing. Saratoga misalnya, sebenarnya tidak ada masalah, hanya momentumnya yang cukup mengkhawatirkan.” jelasnya.

Senada dengan Lucky, analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, kinerja IPO perusahaan saat ini akan terkena imbas dari pelemahan IHSG. Penyebabnya, di samping banyaknya dana asing yang keluar juga adanya ancaman inflasi tinggi serta sentimen global. Pelaku pasar pun pesimistis terhadap kebijakan stimulus The Fed sehingga tidak heran sepanjang Juni kemarin IHSG tercatat melemah.

Terlebih, kondisi pasar Amerika Serikat, kata dia, saat ini mencatatkan pertumbuhan positif sehingga mengindikasikan bahwa investor asing masih akan menarik dana-dananya dari negara-negara emerging market seperti Indonesia. Tak ayal, ada calon emiten yang akhirnya menunda proses IPO, ”Investor akan lebih mempertimbangkan saham-saham lama yang murah dibandingkan penawaran saham baru,” ucapnya.

Dia pun menilai, penjamin emisi (underwriter) juga akan tertekan akibat kondisi ini. Pasalnya, jika penawaran saham tidak mampu terserap pasar dengan baik maka sebagai pelaksana penjamin emisi efek, pihak underwriter yang akan menanggung risiko ini. Karena itu, strategi yang bisa diterapkan perusahaan untuk tetap melaksanakan IPO ditengah pasar yang tidak menentu dan sangat berisiko ini, kata dia, dengan menurunkan harga dan volume transaksi saham yang ditawarkan. (lia)

Related posts