Pelemahan Rupiah Bisa Pukul Usaha Kecil - Masih Andalkan Bahan Baku IMpor

NERACA

Jakarta – Beban Industri Kecil dan Menengah (IKM) makin berat saja, setelah kenaikan harga BBM bersubsidi, tarif listrik dan saat ini pemerintah ingin mengenakan pajak penghasilan terhadap pelaku usaha tersebut. Namun sebagian besar pelaku usaha merasa keberatan, karena pada dasarnya mereka memiliki modal yang terbatas sedangkan persentase keuntungannya kecil.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Euis Saedah mengatakan belum lama ini ada rapat beberapa kementerian di kantor KUKM terkait rencana pemberlakuan pajak bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). \\\"Kesimpulannya UKM masih berat untuk dikenai pajak,\\\" kata Euis usai membuka acara pagelaran produk Jawa Timur di kantornya, Selasa (2/7).

Menurut Euis disparitas antar UKM sangat tinggi baik dari jenis usaha maupun persentase keuntungannya. Sebagai gambaran saja, UKM dagang seperti teh botol atau air minum kemasan bisa mendapat keuntungan di atas 100%. Tapi untuk industri kecil lain keuntungannya hanya sekitar 20% hingga 30% dengan nilai yang juga kecil. Maka, Euis mengatakan kadangkala pelaku UKM sering kali tidak bisa mencukupi kehidupan yang layak dan juga biaya sekolah anak.

Apalagi, menurut Euis, saat ini dengan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, UKM akan terkena dampaknya. Maklum, sebagian UKM masih mengandalkan bahan baku dari impor di antaranya kedelai untuk UKM makanan dan minuman, dan komponen sepatu untuk industri alas kaki.

Euis mengatakan hingga kini belum ada keputusan mengenai pemberlakuan pajak UKM. Kementerian Perindustrian sendiri menurutnya harus melakukan pendekatan dulu dengan pelaku usaha. Jika akan dikenai pajak, maka harus jelas kategorisasi UKM dan persentase pajak yang harus dibayarkan. Pemberlakuan pajak menurutnya bisa juga bermanfaat karena selain bisa membuat UKM lebih tertib administrasi, juga akan memberikan nilai tambah pada saat UKM mengajukan kredit ke bank.

Dalam kesempatan yang sama, Euis juga mendorong promosi produk-produk unggulan khas daerah dengan mengadakan pameran gelar produk unggulan Jawa Timur yang diharapkan mampu mengangkat nilai produk tersebut. \\\"Pameran ini merupakan salah satu upaya untuk memfasilitasi, mengangkat, dan mempromosikan produk-produk unggulan daerah,\\\" kata Euis.

Euis mengatakan, pameran yang digelar secara rutin oleh Kementerian Perindustrian tersebut memang saat ini menampilkan produk unggulan dari Jawa Timur, namun pameran serupa juga telah diadakan di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Jakarta.\\\"Saya berharap, Dewan Kerajinan Nasional khususnya untuk Jawa Timur bisa meningkatkan pembinaan dan memfasilitasi para perajin, agar mereka bisa lebih berkembang untuk menjadi industri yang maju dan mandiri,\\\" ujar Euis.

Euis menambahkan, Provinsi Jawa Timur merupakan daerah yang memiliki potensi daya saing tinggi yang didukung dengan adanya sumber daya manusia berkualitas yang mampu menghasilkan produk unggulan terbaik.\\\"Hal tersebut bisa dijadikan modal berharga untuk pengembangan perekonomian daerah, khususnya untuk wilayah Jawa Timur,\\\" ujar Euis.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2012 lalu jumlah unit usaha IKM sebanyak empat juta unit, dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 9,4 juta orang.

Saat ini, IKM menyumbang kurang lebih 10 % dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan diharapkan mampu meningkat hingga 50 % pada tahun 2025 nanti.\\\"Pemerintah juga telah melakukan pengembangan potensi IKM di Indonesia diantaranya melalui restrukturisasi mesin dan peralatan, pengembangan kewirausahaan, serta pembinaan dan lain lain,\\\" ujar Euis.

Pameran tersebut menghadirkan produk-produk unggulan dari Jawa Timur seperti batik tulis, bordir, kerajinan perak, perhiasan, produk kulit, dan produk-produk unggulan lainnya, dan diikuti oleh 47 perajin binaan Dekranasda Provinsi Jawa Timur yang berasal dari Kabupaten/Kota se Jawa Timur.

Related posts