Aneh, Inflasi Juni Disebabkan Harga BBM - Baru Dinaikkan Jelang Akhir Bulan

NERACA

Jakarta - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan ada yang aneh dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana disebutkan besaran angka inflasi Juni 2013 mencapai 1,03%, atau tertinggi dalam lima tahun, lantaran akibat dari dampak kenaikan harga BBM Bersubsidi. Dikatakan aneh karena harga BBM Bersubsidi baru dinaikkan pada minggu terakhir Juni 2013.

“Datanya (BPS) sangat aneh. Harga premium dan solar baru dinaikkan di akhir bulan Juni, tetapi kok andilnya menjadi paling besar? Padahal bulan kemarin, harga-harga makanan sudah naik cukup tinggi dan diperparah oleh naiknya harga BBM. Ini yang saya sebut aneh,” ungkap Enny kepadaNeraca, Selasa (2/7).

Dalam periode yang sama, angka inflasi ini adalah inflasi terbesar dalam lima tahun terakhir. Tercatat, Juni 2009, inflasinya hanya sebesar 0,11%. Inflasi Juni 2010 dan Juni 2011 masing-masing sebesar 0,97% dan 0,55%. Sedangkan inflasi pada Juni 2012 adalah 0,62%. Ennypun memprediksi, pada Juli 2013, inflasi akan lebih tinggi lagi.Hal ini disebabkan belum maksimalnya efek kenaikan harga BBM Bersubsidi, ditambah harga bahan-bahan makanan yang secara rutin meningkat menjelang lebaran.

Harga sandang juga akan meningkat akibat permintaan yang melonjak. “Itu semua menyebabkan inflasi akan lebih tinggi lagi pada Juli 2013,” terang dia. Sebelumnya, BPS mengumumkan enam komoditas yang memberikan andil paling besar pada inflasi Juni 2013.

“Bensin adalah yang paling besar andilnya, yaitu 0,34% dan perubahan harganya sebesar 12,48% dibandingkan dengan Mei 2013,” jelas Kepala BPS Suryamin. Peningkatan harga bensin yang hanya 12,48% itu, lanjut Suryamin, karena BPS menghitung kenaikan harga setiap minggu. Sementara kenaikan harga bensin baru terjadi pada minggu terakhir Juni 2013.

Kenaikan harga bensin terjadi di 66 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) alias di seluruh kota tempat BPS mengambil data. Kenaikan harga bensin rata-rata berada pada kisaran 11,11% sampai 13,33%.

Andil terbesar kedua adalah dari tarif angkutandalam kota dengan andil sebesar 0,14%. Kenaikan harga secara rata-rata sebesar 7% dengan kenaikan tertinggi di Kupang 23% dan Serang 22%. Hanya tiga kota yang tidak mengalami kenaikan tarif angkutan dalam kota, yaitu Tanjung Pinang, Kediri, dan Denpasar.

Daging ayam ras tercatat sebagai penyebab ketiga terbesar untuk inflasi Juni 2013dengan andil sebesar 0,1%. Kenaikan harga yang terjadi adalah 6,39%. Hal ini disebabkan masih tingginya harga daging sapi yang membuat permintaan daging ayam meningkat. Kenaikan harga daging ayam ras tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 25% dan Pangkal Pinang sebesar 24%.

“Penyebab keempat adalah cabe merahyang mempunyai andil sebesar 0,08%. Terjadi perubahan harga sebesar 14,4% yang dipicu olehkurangnya stok cabe merah di pasaran. Kenaikan harga terjadi di 57 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Tasikmalaya sebesar 66% dan Bandung sebesar 58%. Rata-rata kenaikan di kota-kota lainnya adalah antara 0% sampai 53%,” kata Suryamin.

Telur ayam ras mengisi posisi kelima.Andil dari komoditas ini sebesar 0,06% dengan perubahan harga sebesar6,82% akibat meningkatnya pernintaan telur. Kenaikan teringgi terjadi di Banda Aceh sebesar 19%. Sedangkan Semarang dan Madiun naik sebesar 15%.

Posisi keenam penyebab inflasi adalah berasdengan andil sebesar 0,04% dan perubahan harga sebesar 0,68%. “Kenaikan ini karenatelah lewat musim panen di sentra-sentra produksi,” kata Suryamin. Kenaikan harga beras terjadi di 47 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Serang sebesar 6% dan Tasikmalaya sebesar 4%.

Tak bisa sendiri

Di tempat terpisah, Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hendar, mengatakan bahwa Indonesia harus menghadapi tantangan kenaikan inflasi akibat kenaikan harga BBM, dan BI tidak dapat menangani inflasi tanpa melibatkan peranan pihak lainnya.

\"Bank Indonesia tentunya tidak bisa sendiri mengontrol inflasi karena banyak faktor yang mempengaruhi inflasi, seperti pengendalian harga. Selain itu, dua pertiga dari inflasi biasanya dikontribusi oleh daerah,\" kata Hendar, kemarin.

Dia menegaskan bahwa tidak ada instrumen yang dapat secara langsung digunakan oleh BI untuk mengatasi masalah inflasi. \"Memang tidak ada instrumen yang langsung dapat kami pakai untuk mengatasi inflasi tanpa melakukan koordinasi dengan pemangku kepentingan lain di pemerintahan,\" ujarnya.

Terkait Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi pada Juni 2013 sebesar 1,03%, Hendar mengatakan, pihaknya menyadari sejauh ini belum ada dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi. Namun, kata dia, ada kemungkinan bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak pada kenaikan inflasi pada Juli dan Agustus tahun ini.

\"Kita tidak bisa menghindari kalau kenaikan harga BBM itu pasti akan meningkatkan inflasi. Akan tetapi, yang perlu diatur adalah second round-nya. Caranya adalah dengan mengambil respon yang sesuai,\" tutur Hendar. Dia berpendapat, pemerintah perlu melakukan upaya-upaya agar tidak timbul kekhawatiran akibat naiknya biaya transportasi yang nantinya menyebabkan tidak tersedianya barang-barang kebutuhan.

Hendar, yang saat ini menjabat Asisten Gubernur BI, kembali menekankan bahwa masalah pengendalian inflasi akibat kenaikan harga BBM pun tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak Bank Indonesia, melainkan harus dilakukan bersama-sama dengan semua otoritas.

\"Misalnya, untuk kenaikan harga BBM ini, bagaimana caranya supaya tidak terjadi kenaikan biaya transportasi yang tajam yang dapat berdampak pada laju inflasi. Maka ini harus ditangani bersama departemen terkait untuk mengendalikan itu,\" ucapnya.

Hendar berharap nantinya masalah kenaikan harga BBM itu tidak berdampak besar terhadap penyediaan barang-barang kebutuhan primer, khususnya menjelang bulan Ramadan. Sehubungan dengan kemungkinan peningkatan inflasi pada bulan puasa (Juli), dia mengatakan pihaknya belum dapat memastikan seberapa besar pengaruh bulan puasa terhadap laju inflasi.

\"Kami belum tahu mengenai kemungkinan inflasi pada bula puasa karena cenderung ada masalah musiman saja. Bagaimana pun juga, yang harus ditekankan adalah keterlibatan semua pihak dan otoritas untuk menjaga ekspektasi bahwa kebutuhan barang-barang selama puasa akan terpenuhi,\" pungkasnya. [iqbal]

Related posts