Tidak Disiplin, Tujuh Emiten Disuspensi - Telat Laporan Keuangan

NERACA

Jakarta – Sebanyak 7 emiten dihentikan sementara perdagangannya dan diberi denda sebesar Rp 150 juta oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I senin (1/7) akibat terlambat menyampaikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2012.

Menurut Viviet S.Putri, analis dari AMCapital Securities beberapa emiten yang disuspensi BEI memang memiliki masalah keuangan dalam bisnisnya, karenanya emiten tersebut telat memberikan laporan keuangan auditan. Namun, memang ada emiten yang kurang terbuka dalam aksi korporasinya, “Untuk PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) memang sedang mengalami kesulitan kinerja, seperti hutang dan pembelian kapal di saat yang tidak tepat. Biasanya BLT sangat terbuka dengan aksi korporasinya dan masalah keuangannya seperti tahun lalu,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (1/7).

Dia menambahkan, apa yang sudah dilakukan BEI sebagai regulator hingga saat ini cukup baik dengan suspensi kepada emiten dan juga denda. Suspensi dan denda tersebut dimaksudkan agar emiten yang terdaftar memperbaiki kinerjanya dan memberi efek jera. Namun menurut dia BEI dapat melakukan delisting terhadap emiten yang tidak patuh dan mmembangkang meski telah diberikan suspensi, teguran dan denda. “BEI bisa saja memaksa emiten tersebut melakukan buyback saham yang telah dipegang investor. Kalaupun emitennya yang mau delisting, harus jelas alasannya dan memang dapat melakukan buyback terhadap saham yang tengah dipegang investor agar tidak merugikan investor. Investor sendiri dapat mempailitkan perusahaan”, ujar dia.

Dia menilai memang agak susah bagi BEI untuk delisting emiten, karena harus melihat seperti apa emiten tersebut. Jika seperti BLT seharusnya memberi kesempatan agar bisa memperbaiki kinerjanya, karena memang menurut Viviet BLT merupakan perusahaan yang cukup bagus. Hal ini berbanding terbalik dengan emiten grup Bakrie, seperti PT Borneo Lumbung Energi&Metal Tbk (BORN).”Borneo diketahui harus refinancing US$ 450 juta untuk membayar ke BUMI (salah satu grup Bakrie) sehingga perusahaan tersebut telat memberikan laporan keuangannya karena harus memisahkan uang untuk BUMI”, ungkap dia.

Dia juga menilai, kebanyakan emiten grup Bakrie kurang terbuka dalam melakukan aksi korporasinya sehingga harus diwaspadai. Padahal emiten tersebut bukan perusahaan yang merugi. “Banyak yang tidak tahu aksi korporasinya bahkan investornya sendiri,”cetusnya.

Berdasarkan keterbukaan dari BEI untuk sesi I (1/7) diketahui BEI suspensi 7 emiten yang telat memberikan laporan keuangan per 31 Desember 2012. Sanski suspensi diberikan untuk PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Steady Safe Tbk (SAFE), PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), dan PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA).

BEI diketahui memperpanjang suspensinya pada DAVO, BLTA, dan KARK. Sementara itu, emiten sektor riil dengan sanksi kepada BORN yaitu menghentikan perdagangan di seluruh pasar. DAVO telah dihentikan di seluruh pasar sejak 9 Maret 2012. Sementara emiten sektor jasa BLTA telah dihentikan perdagangan sahamnya sejak 25 Januari 2012. KARK diketahui hingga saat ini belum membayar denda sahamnya yang telah dihentikan sejak 24 Juli 2012, ZBRA juga diketahui belum membayar dendanya. Saham TRUB tidak aktif diperdagangkan di seluruh pasar. (bani)

Related posts