Inflasi Ganjal Sektor Konsumer Tumbuh 20% - Picu Sentimen Negatif

NERACA

Jakarta- Rilis data inflasi terbaru sebesar 1,03 pada Juni yang dikeluarkan oleh pemerintah dinilai akan menimbulkan persepsi negatif bagi para pelaku pasar. Angka tersebut di atas ekspektasi sebelumnya yang diperkirakan hanya akan mencapai 0,4%-0,6%. Lonjakan inflasi itupun akan berpengaruh terhadap sektor konsumer.“Kenaikan BBM yang berdampak pada kenaikan transportasi dan pangan akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Ketika daya beli masyarakat melemah emiten konsumer dan ritel peminatnya juga akan melemah.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (2/7).

Data-data inflasi tersebut, menurut Reza, mempersepsikan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memiliki pengaruh yang signifikan karena tercatat setelah dua minggu ditetapkannya kebijakan tersebut. Meskipun berdampak secara tidak langsung terhadap pasar modal, kata dia, secara makro menimbulkan persepsi negatif. “Kenaikan inflasi tersebut akan cukup besar menimbulkan persepsi negatif di pasar karena memperkuat alibi mereka lonjakan inflasi yang akan terjadi pada bulan berikutnya akan lebih tinggi.” jelasnya.

Diakui Reza meskipun tidak berdampak signifikan pada margin laba emiten, dia memproyeksikan kinerja emiten di semester kedua akan mengalami tekanan dibanding semester pertama tahun ini. “Pertumbuhan 20% sebenarnya menjadi angka yang minimal untuk dijaga emiten, tapi bisa jadi akan berada di kisaran 16-18%. Meskipun itu terbilang masih wajar.” ucapnya.

Namun, sambung dia, emiten dapat menyiasati dengan menaikkan volume penjualan untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi. Pada pekan ini, dia memperkirakan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seharusnya bisa membuka peluang penguatan lanjutan dengan rentang support 4350-4585 dan resisten 4900-4965.“IHSG membentuk pola menyerupai seperti hammer pada lower bollinger bands. MACD bertahan dari penurunan dengan histogram negatif yang memendek dan mencoba upreversal dari area oversold.” jelasnya.

Meskipun demikian, Reza menegaskan, kondisi ini juga harus dikonfirmasi dari sentimen yang ada. Terjadinya pelemahan bursa saham AS di pekan sebelumnya dan masih adanya rilis data-data ekonomi yang mungkin kurang baik bisa saja akan menghambat peluang kenaikan lanjutan tersebut. “Cermati sektor industri dasar, konsumer, keuangan, manufaktur, pertambangan, dan perdagangan.” ujarnya.

Sejumlah saham yang menjadi pilihan Reza antara lain PT Indofood CPB Sukses Makmur (ICBP), PT Semen Indonesia (SMGR), PT Global Mediacom (BMTR), PT Mitra Adiperkasa (MAPI), PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Bank Danamon (BDMN), PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), PT Bank Mandiri (BMRI), PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), PT Vale Indonesia (INCO), PT AKR Corporindo (AKRA), PT Indo Tambang Raya Megah (ITMG), PT Astra International (ASII), PT Nippon Indosari Corporindo (ROTI), PT Bank Himpunan Saudara (SDRA), PT Unilever Indonesia (UNVR), PT Bank Central Asia (BBCA), dan PT Media Nusantara Citra (MNCN). (lia)

BERITA TERKAIT

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

Dirut BEI : Sentimen MSCI Bersifat Sementara

NERACA Jakarta – Keputusan MSCI mendepak tujuh saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Index dan menambah tiga saham dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…