Calon Gubernur BI Jadikan UMKM sebagai “Tameng” - Turunkan Suku Bunga

NERACA

Jakarta - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hendar, mengakui kalau saat ini suku bunga perbankan masih tinggi. Tercatat, secara rata-rata suku bunga kredit perbankan saat ini masihdouble digitatau di level 12%-13%. Sedangkan rata-rata suku bunga deposito perbankan berada di level 5%-6%. Untuk itu, dirinya mendorong dilakukannya peningkatan efisiensi sistem keuangan.

“Saya mengakui tingkat suku bunga masih tinggi, meski sudah turun tajam di angka 10%. Tetapi ini masih cukup tinggi,\" kata dia, dalam uji kelayakan dan kepatutan Calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR, Senin (1/7). Hendar pun menjelaskan, dengan melihat suku bunga bank yang masih tinggi, maka langkah yang harus dilakukan jika dirinya terpilih menjadi Deputi Gubernur BI adalah mendorong sektor keuangan memberikan kredit ke sektor usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 20%.

\"UMKM ini ke depannya akan menjadi fokus kami. Bagaimana meningkatkan perannya di sektor keuangan. Ini menjadi tanggung jawab kami,” ujar Hendar. Untuk mendorong rencana tersebut, dia melanjutkan, BI akan membuat satu departemen khusus yang membidangi sektor UMKM tersebut. \"Saya kira ini akan menjadi departemen sendiri di BI.Concern-nya sama, untuk meningkatkan peran UMKM. Kita konsentrasi untuk meningkatkan peran UMKM, Jika dilihat dari PDB memang kontribusinya saat ini kurang dari 40%, atau sekitar 38%,\" ungkapnya.

Hendar pun menambahkan, jika bank-bank nasional tidak mengikuti ketentuan tersebut, maka BI siap untuk memberikan sanksi berupa teguran lisan dan tertulis terhadap bank yang enggan menyalurkan kewajibannya tersebut. \"Kami sudah mengeluarkan ketentuan yang mewajibkan penyaluran kredit bank ke UMKM sebesar 20% tahun 2017. Tentunya, ada batas waktu penyesuaian, kami pada waktunya akan menegur bank yang tidak memenuhinya,\" terang dia.

Sebagai informasi, tingginya suku bunga bank di Indonesia menyebabkan perbankan tidak efisien. Bahkan, Institute for Development of Economic and Finance(Indef) menilai kalauperbankantetap bisa meraih keuntungan meskipun tidak menaikkan suku bungakreditpasca kenaikan suku bunga acuanBank Indonesia (BIRate) menjadi enam persen, kemudian rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan asumsi inflasi 7,2% dalam APBN-P 2013.

Peneliti Indef, Eko Listiyanto mengatakan, dampak dari ini semua, memungkinkan perbankan untuk secepatnya menaikkan suku bunga dana mereka, khususnya deposito. Dia melanjutkan bahwa hal itu akan diikuti pula dengan kenaikan suku bunga kredit, untuk menutupi biaya terhadap kenaikan bunga deposito. \"Bank masih bisa untung walaupun hanya menaikkan bunga dananya tanpa menaikkan bunga kredit. Tapi memang untungnya tipis,” ungkap Eko, belum lama ini.

Adapun inflasi yang diasumsikan 7,2% tahun ini, Eko mengungkapkan, bank otomatis menaikkan suku bunga depositonya hingga level setara atau mendekati persentase inflasi. Tujuannya agar nasabah tetap untung dan tidak beralih ke bank lain. “Ini kanbicara soal pasar. Dan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar bunga deposito itu akan ditutupi dengan suku bunga kredit yang juga dinaikkan,\" terangnya.

Artinya, kata Eko,spreadatau jarak antara bunga kredit dan bunga deposito perbankan masih relatif tinggi, yakni dikisaran enam persen. Menurut dia, denganspreadyang demikian tinggi, bank masih bisa memperoleh keuntungan meskipun hanya menaikkan bunga dana, tanpa menaikkan bunga kredit. \"Bank bisa menekan efisiensi di sektor lain. Tapi memang sepertinya kenaikan bunga kredit sulit dielakkan perbankan, karena bank memiliki target laba yang perlu dicapai,\" kata dia.

Inti plasma

Sementara itu, Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia lainnya, Tresna W Suparyono menyampaikan beberapa terobosan kebijakan yang akan dilakukan di BI jika terpilih. Salah satunya adalah terkait skema pembiayaan untuk sektor UMKM dengan perluasan inti plasma. \"Perluasan inti plasma ini dapat menjadi solusi. Dengan skema ini, UMKM akan mendapatkan pembiayaan dari bank lewat perusahaan besar,\" katanya.

Tresna mengatakan, dengan skema ini, terjadi simbiosis mutualisme antara perusahaan besar dengan UMKM. Pasalnya, kata dia, terdapat jaminan produk UMKM dapat terserap, sementara perusahaan tidak perlu repot kekurangan suplainya. \"Oleh karena itu, untuk mendukung skema ini maka basis informasi harus diperkuat.

Dia juga mengungkapkan selain skema pembiayaan inti plasma, terobosan lain yang ditawarkan adalah membangun konektifitas antar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pasalnya, keberadaan TPID memberikan peran penting dalam membantu mengelola pengendalian inflasi di daerah. “Kebijakan lain adalah pengembangan women entrepreneurship, untuk memberikan kesempatan kepada kaum perempuan beraktifitas dalam membangun negeri ini. Perempuan itu tahan tekanan,\" imbuhnya. [mohar]

Related posts