Dihantui Aksi Jual, IHSG Cenderung Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 41,443 poin (0,86%) ke level 4.777,452. Sementara Indeks LQ45 turun 9,295 poin (1,16%) ke level 794,704. Aksi ambil untung mendominasi perdagangan di awal pekan, “Tingginya inflasi mendorong indeks BEI melemah pada awal pekan ini,”kata analis Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Sudjatmiko di Jakarta, Senin (1/7).

Dia mengatakan, tingginya inflasi periode Juni itu dapat berpengaruh ke saham-saham perbankan, dikarenakan sektor itu merupakan yang cukup sensitif terhadap inflasi. \"Peningkatan inflasi juga akan dibarengi dengan peningkatan suku bunga perbankan. Diperkirakan akan terjadi perpindahan portofolio dari pasar saham ke deposito,”ujarnya.

Meski demikian, lanjut dia, sentimen akan kembali positif jika kinerja emiten pada semester I tahun ini diekspektasikan positif. Di pasar modal juga masih ada berbagai faktor lain, seperti kinerja emiten perusahan di semester I tahun ini yang diharapkan positif. Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan akan bergerak menguat walaupun terbatas. Posisi indeks akan bergerak dilevel 4.770-4.775.

Pada perdagangan kemarin, aksi ambil untung dilakukan oleh investor lokal dan asing. Saham-saham lapis dua jadi sasaran aksi jual, begitu juga halnya dengan saham unggulan di sektor konsumer. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 107.172 kali pada volume 5,045 miliar lembar saham senilai Rp 4,674 triliun. Sebanyak 103 saham naik, sisanya 146 saham turun, dan 86 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan awal pekan dengan mixed. Sentimen negatif dari pasar global membuat sebagian bursa regional jatuh ke zona merah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 1.500 ke Rp 14.500, Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 870 ke Rp 2.100, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 700 ke Rp 51.300, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 600 ke Rp 7.600.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 1.200 ke Rp 29.550, Indocement (INTP) turun Rp 850 ke Rp 23.600, Indofood (INDF) turun Rp 500 ke Rp 6.850, dan Bank of India (BSWD) turun Rp 420 ke Rp 1.290.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 33,568 poin (0,70%) ke level 4.785,327. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 6,730 poin (0,84%) ke level 797,269. Laju kenaikan inflasi di Juni 2013 yang cukup tinggi karena harga BBM subsidi naik yang mendorong harga barang juga ikut naik, menjadi sentimen negatif pasar modal.

Hampir seluruh indeks sektoral di lantai bursa pun terkoreksi, menyisakan sektor konstruksi dan finansial di jalur hijau. Dua sektor tersebut bisa bertahan karena adanya aksi beli selektif. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 56.519 kali pada volume 1,52 miliar lembar saham senilai Rp 2,037 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sisanya 145 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 1.500 ke Rp 14.500, Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 870 ke Rp 2.100, Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 650 ke Rp 7.650, dan Tiga Raksa (TGKA) naik Rp 400 ke Rp 2.900.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.600 ke Rp 49.000, Unilever (UNVR) turun Rp 850 ke Rp 29.900, Asahimas (AMFG) turun Rp 500 ke Rp 7.850, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 400 ke Rp 19.300.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 61,71 poin atau turun 1,28% mengikuti bursa saham global ke posisi 4.757,18, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 15,76 poin (1,96%) ke level 788,24,”Minimnya sentimen positif pada bursa saham global di awal pekan ini menekan indeks BEI,\" kata analis Trust Securities, Reza Priyambada.

Dia menambahkan, secara teknikal beberapa saham domestik juga telah memasuki area jenuh beli (overbought) sehingga rentan terhadap aksi ambil untung oleh pelaku pasar saham.\"Meski demikian, mulai tercatatnya investor asing yang melakukan beli, stabilnya nilai rupiah dapat menjadi salah satu faktor positif bagi indeks BEI,”paparnya.

Analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias menambahkan, mayoritas bursa Asia termasuk IHSG BEI dibuka melemah pagi ini seiring koreksi di bursa AS.\"IHSG awal pekan ini berpeluang kuat mengalami koreksi, berakhirnya sentimen \'window dressing\' pada pekan lalu akan memicu aksi ambil untung khususnya pada saham-saham yang telah menguat signifikan dari sektor konsumer, perbankan, semen dan infrastruktur,”tandasnya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 363,21 poin (1,78%) ke level 20.803,29, indeks Nikkei-225 turun 70,23 poin (0,51%) ke level 13.607,59, dan Straits Times melemah 12,34 poin (0,39%) ke posisi 3.138,01. (bani)

BERITA TERKAIT

TRANSAKSI JUAL BELI EMAS MENINGKAT JELANG LEBARAN

Pedagang menata perhiasan emas di pusat penjualan emas Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (25/5/2019). Menurut pedagang setempat, transaksi penjualan…

Meski Terjadi Aksi 22 Mei, Transaksi Perbankan Meningkat

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan demonstrasi terkait Pemilu pada 22 Mei 2019 yang diwarnai…

AKIBAT AKSI DEMO 22 MEI 2019 - Aprindo: Pengusaha Mal Rugi Rp1,5 Triliun

Jakarta-Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, kerugian pusat perbelanjaan atau mal di kawasan Jakarta yang menutup kegiatan operasionalnya karena demo…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…