Harga Gas untuk Industri Terlalu Mahal - Sulit Dapat Pasokan

NERACA

Jakarta - Masalah kebutuhan gas untuk industri sampai saat ini belum terselesaikan. Banyak orang menilai masalah kebutuhan gas untuk industri diibaratkan seperti tikus mati di lumbung padi. Karena begitu besar gas yang dimiliki oleh Indonesia, akan tetapi sedikit sekali alokasi pasokan yang didapat untuk kebutuhan industri nasional. Untuk itu,pemerintah sedang mengkaji lebih dalam mengenai kebijakan harga gas untuk industri. Karena industri mengklaim masih kesulitan mendapatkan harga domestik yang murah.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengungkap, kenapa masalah ini belum juga terselesaikan, karena harga gas domestik selalu dibandingkan dengan harga ekspor ke luar negeri. Maksudnya, harga gas dalam negeri seringkali dikompetisikan dengan harga ekspor, seperti ke Singapura atau dikompetisikan dengan harga yang dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Hal ini membuat industri kesulitan mendapatkan gas, terutama gas yang murah. Pasalnya, pemerintah menyalurkan gas kepada konsumen berdasarkan prioritas yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri ESDM No.3/2010 tentang alokasi gas bumi dalam negeri. Dalam aturan tersebut, prioritas gas diutamakan untuk lifting, pupuk, kelistrikan, dan terakhir industri.

“Harga dalam negeri tidak bisa dibandingkan dengan ekspor ke Singapura (berupa gas alam cair/liquied natural gas/LNG), Singapura bukan saingan kita untuk gas, wajar mereka beli mahal karena mereka gak punya sumber daya alam,” kata Panggah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Panggah, daya beli industri dalam membeli gas harus ditentukan dengan kemampuan industri, bukan sekedar kompetensi membeli. Hal ini, lanjut Panggah, sedang dilakukan kajian mendalam oleh beberapa stake holder terkait. “Tingginya harga gas akan membuat margin industri kecil sehingga sulit berdaya saing.”

Subsidi Silang

Di tempat yang sama, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo mengatakan bahwa harus ada subsidi silang antara harga gas ekspor dengan harga domestik. Susilo mengatakan masalah pada industri gas hanya ada dua, yakni kebijakan harga dan kebijakan suplai. Dia mengklaim Kementerian ESDM selalu mengutamakan kebutuhan dalam negeri. Namun, pasokan gas yang akan diberikan untuk domestik tidak bisa disalurkan lantaran tak adanya infrastruktur yang memadai.

Hal ini dibuktikan dari realisasi penyaluran gas tahun 2012 dimana ekspor gas lebih banyak dibandingkan dengan domestik, dengan prosentase 51%. Namun, lanjut Susilo, pemerintah sudah berkomitmen untuk meningkatkan pasokan untuk domestik dengan memberikan porsi sekitar 25%-40% pasokan gas untuk domestik dalam setiap perjanjian kontrak baru. “Untuk kontrak yang lama, begitu habis, akan kita prioritaskan untuk domestik,” katanya.

Wamen juga memaparkan kalau untuk saat ini harga gas bumi untuk sektor Industri akan mengikuti harga gas internasional yang sudah mencapai US$10 per mmbtu. Padahal, sektor industri diminta agar harga gas dan pasokan gas untuk domestik dipenuhi agar bisa bersaing dengan negara lain.

Sebenarnya, masalah ini bisa diselesaikan. Karena harga gas untuk industri adalah kesepakatan kementerian lembaga (K/L) terkait. \"Harganya mau berapa? Harga adalah masalah kesepakatan dua pihak, suplai dan demand, kalau mau murah ada, tapi enggak cukup. Harga gas yang benar adalah yang sesuai kesepakatan,\" sambungnya.

Menurut Susilo, untuk menjadi harga gas murah semisal US$ 5 per mmbtu dari harga gas yang sekarang sekitar US$8-10 per mmbtu tidak semudah bisa diubah. \"Enggak bisa begitu saja, kan gas ada di Maselaa, itu jaraknya 120 km di Laut Arafuru, ini yang membuat gas mahal. Lalu yang saya tegaskan lagi, mau paling murah? Ya enggak ada, sumber dari mana, infrastruktur mana, keekonomiannya bagaimana, kalau enggak ada gas, ya bagaimana,\" tegas Susilo.

Susilo mengungkapkan, untuk memenuhi suplai gas ke dometik dan mengurangi nilai ekspor gas melebihi kebutuhan domestik masih tetap dilakukan proses. \"Kalau perlu kita impor LNG, daripada bawa dari Irian, ya mending impor untuk penuhi kebutuhan gas domestik,\" tuturnya.

Related posts