Pasar Modal Makin Babak Belur - Minim Investor Lokal

NERACA

Jakarta-Terkoreksinya indeks di Bursa Efek Indonesia dalam dua pekan terkahir, tidak hanya disebabkan derasnnya dana asing yang keluar tetapi juga minimnya investor lokal yang bermain pasca kebijakan\\\"quantitative easing,”IHSG kita masih didominasi investor asing sehingga ketika dana asing ditarik, bursa saham kita menjadi kelabakan. Setelah investor lokal masuk, IHSG baru mulai membaik,\\\"kata Pengamat ekonomi Ninasapti Triaswati di Jakarta akhir pekan kemarin.

Indonesia sebagai negara penganut rezim devisa bebas, menjadi alasan mudahnya dana asing yang keluar dan masuk ke industri pasar modal. Alhasil, kebijakan rezim devisa bebas tersebut meiliki keuntungan karena investasi asing mudah masuk ke Indonesia.

Namun di sisi lain, kata Nina, rezim devisa bebas itu juga membuat investor asing mudah untuk menarik kembali dananya dari Indonesia seperti halnya yang sedang terjadi saat ini. Ketika dana investasi asing ditarik, indeks saham pun mengalami penurunan.\\\"Beberapa negara, seperti Malaysia dan negara-negara Amerika Latin, memiliki rezim yang sedikit berbeda sehingga mereka bisa menaham dana asing keluar untuk jangka waktu tertentu. Kalau Indonesia memang ingin menganut rezim devisa bebas, kepercayaan investor lokal harus ditingkatkan,”tandasnya.

Nina mengatakan, apabila Indonesia hanya mengandalkan investor asing saja yang bermain di pasar saham, bisa dipastikan ketika ada kebijakan penarikan dana seperti saat ini bursa saham Indonesia akan \\\"babak belur\\\".

Karena itu, lanjutnya, rezim devisa bebas ini merupakan salah satu daya tarik Indonesia karena dengan begitu sangat mudah menanamkan modal di Indonesia. Namun, kalau tidak diikuti dengan masuknya investor lokal, bursa saham dalam negeri pasti \\\'babak belur\\\' seperti sekarang.

Dia menambahkan, sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih lebih banyak menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan, giro, maupun deposito. Itu terbukti dengan tinggi dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Sebaliknya, minat investasi masyarakat Indonesia, khususnya dalam bentuk saham, masih sangat rendah karena kurang edukasi dan pemikiran bahwa investasi saham memiliki risiko tinggi.

Pada dasarnya, setiap investasi sebenarnya memiliki risiko, tetapi yang penting adalah masyarakat harus memahami dengan baik mengenai keuntungan dan risiko melalui edukasi yang benar.

Sebelumnya, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo menilai wajar dana asing keluar dari BEI. Alasannya, dana asing yang keluar akibat aksi ambil untung masih kecil ketimbang dana yang masuk masih cukup tinggi, “Dana dari Jepang saat ini banyak masuk ke pasar saham domestik. Kalau ada yang keluar wajar, pasar harus ada koreksinya untuk ambil untung,”tandasnya.

Menurutnya, kalau dibandingkan dengan bursa saham negara lain, indeks BEI dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan yang relatif cukup positif. Tercatat di saat bursa Filipina dan China turun, pasar modal dalam negeri masih positif. (bani)

Related posts