Menkeu Memprediksi Juli Puncak Inflasi - Dinilai Tak Mampu Atasi Harga

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan bahwa puncak inflasi setelah kenaikan harga BBM Bersubsidi akan berlangsung pada pertengahan Juli 2013. Inflasi akan perlahan-lahan mereda memasuki Agustus, dan sepenuh stabil kembali pada September 2013 mendatang. “Kalau dilihat dari proses, pemerintah menaikkan harga BBM tanggal 22 Juni. Nah, puncak inflasi di bulan Juli, lalu bulan Agustus sudah lebih rendah. Pada akhirnya bulan September praktis (inflasi) hilang,” katanya di Jakarta, Jumat (28/6) pekan lalu.

Lebih lanjut Chatib menjelaskan, pada Juni lalu, dirinya memprediksi kenaikan harga BBM dan kenaikan tarif transportasi belum masuk dalam variabel inflasi, lantaran kenaikan tersebut hanya masuk hitungan satu minggu terakhir bulan ke enam. “Minggu ini minggu terakhir bulan Juni. Prosesadjustment-nya dari transportasi dan segala macam ketika BBM dinaikkan, tidak langsung naik inflasinya. Organda (Organisasi Angkutan Darat) dan BPS (Badan Pusat Statistik) butuh waktu, dan biasanya pengalaman itu sebulan,” ungkap dia.

Sementara Chatib optimistis laju inflasi akhir tahun ini bisa mencapai target yang ditetapkan pemerintah dalam APBN-Perubahan 2013 sebesar 7,2%, dengan syarat melakukan berbagai upaya mitigasi. \"Kita melakukan segala upaya agar tahun ini (inflasi) tetap 7,2%,\" tambahnya. Dia juga mengatakan upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menyiapkan distribusi bahan komoditas pangan dan melakukan antisipasi terhadap kenaikan harga angkutan sebagai dampak penyesuaian harga BBM Bersubsidi.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dalam menghadapi puncak inflasi yang diperkirakan terjadi pada Juli, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) telah melakukan koordinasi yang terukur. Selain itu, sambung dia, untuk menjaga laju inflasi ke depan dengan menjamin agar suplai terutama pangan tidak terganggu.

“Ini artinya kita harus menjaga transportasi kita tidak meningkat sesuai dengan apa yang sudah diputuskan oleh Menteri Perhubungan dan Pemerintah Daerah sudah ada patokannya,” kata dia. Lebih lanjut, Hatta mengatakan pemerintah akan melakukan intervensi ke pasar untuk memastikan pasokan yang mencukupi. Bahkan, diharapkan tidak ada langkah impor, kecuali petani di dalam negeri tidak bisa memenuhi kebutuhan suplai di pasar.

“Kita harus mengandalkan dulu di dalam tapi kalau tidak cukup baru (melakukan impor), karena kita tidak ingin masyarakat kita terganggu harga meningkat karena suplainya tidak cukup,” terangnya. Di samping itu, dengan mengendalikan tarif maupun harga yang ditentukan oleh pemerintah, salah satunya dari dampak kenaikan harga BBM Bersubsidi.

Di tengah kebijakan tersebut, maka pemerintah memutuskan untuk tidak menaikan tarif kereta maupun kapal-kapal pengangkut barang dan orang. “Itu yang bisa menekan inflasi. Memang harus disadari akan ada peningkatan dari penyesuaian tarif angkutan, anak sekolah bulan puasa maka konsumsi meningkat, jadi harga-harga akan terdongkrak naik. Tapi kita tetap akan melakukan pemantauan dan pengendalian,” ujar Hatta.

Inflasi 1,5%

Meski pemerintah menjamin ketersediaan pasokan bahan makanan di pasar, namun Guru Besar FE Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan pemerintah tidak akan mampu mengatasi gejolak harga di pasar. “Kenaikan harga di pasar menjelang lebaran itu sudah menahun dan pemerintah tidak akan mampu menahan gejolak harga,” kata Erani kepada Neraca, Minggu.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Toni Prasetiantono mengatakan laju inflasi pada akhir Juni 2013 diprediksi di atas satu persen. \"Inflasi Juni saya perkirakan melebihi satu persen, mungkin sekitar 1,2% hingga 1,5%,\" ujarnya.

Menurut Toni, faktor yang menyebabkan besaran inflasi di atas angka satu tersebut, yakni dampak dari kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dikeluarkan oleh pemerintah ditambah dengan momen liburan sekolah.

\"Penyebabnya, yakni kombinasi antara kenaikan harga BBM dan momen liburan anak sekolah, yang biasanya dimanfaatkan para penyedia jasa transportasi untuk menaikkan harga,\" tuturnya. Selain itu, lanjut Toni, bulan Ramadan yang jatuh pada awal Juli juga menjadi pemicu naiknya harga barang dan berdampak bagi terdorongnya laju inflasi.

\"Momen menjelang datangnya bulan puasa juga menjadi \'trigger\' lain yang secara tradisional melambungkan harga,\" jelasnya. Bank Indonesia sendiri menyatakan bahwa inflasi Juni tidak akan melebih angka dua persen. Kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi yang berlaku mulai 22 Juni lalu diperkirakan belum berdampak banyak terhadap inflasi. Namun, dampak kebijakan kenaikan harga BBM tersebut baru akan terlihat pada bulan Juli mendatang ditambah momen menjelang puasa dan juga liburan anak sekolah. [iqbal]

Related posts