Lestarikan Nilai Budaya Masyarakat Jayawijaya - Festival Lembah Baliem 2013

Festival Budaya Lembah Baliem 2013akan kembali digelar. Festival budaya tersebut akan dipusatkan di Kabupaten Jayawijaya yang terletak di ketinggian Gunung Jayawijaya. Festival ini melibatkan suku-suku yang ada di Kabupaten Jayawijaya, seperti suku Dani, suku Lani, dan suku Yali. Kegiatan tahunan yang selalu diadakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya ini dimaksudkan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya suku-suku di Lembah Baliem Kabupaten Jayawijaya.

Festival Budaya Lembah Baliem 2013akan dimeriahkan kegiatan seni dan budaya diantaranya pertunjukan perang (sejarah perang suku). Pertunjukan ini akan dihelat di lahan seluas 400 meter dengan melibatkan 500 sampai 1000 yang terdiri dari tentara dan penari. Sedangkan untuk stimulasi perang antar suku akan menampilkan sekitar 26 kelompok perang-perangan yang terdiri atas 30-50 orang per kelompok.

Stimulasi perang ini akan diiringi oleh musik tradisional Papua Pikon. Pikon merupakan instrument musik terbuat dari kulit pohon yang menghasilkan bunyi ketika ditiup. Uniknya, tidak semua orang Lembah Baliem dapat memainkan alat musik ini, karena membutuhkan keahlian khusus. Selain stimulasi perang akan ada juga beragam kegiatan menarik lainnya seperti penampilan tari-tarian adat, pertunjukan balapan karapan anak babi (pig racing).

Selain itu ada pula tarian puradan (permainan melempar tombak ke arah bulatan rotan yang sedang berputar saat dilemparkan), sikoko (permainan menggunakan kayu jenis pion yang di lemparkan menuju sasaran yang sudah ditunjuk) dan berbagai macam perlombaan kebudayaan bagi wisatawan asing seperti melempar tombak (sege) ke sasaran yang sudah di tentukan dengan tepat, dan panahan (memanah sasaran pada batang pisang).

Khusus atraksi lomba lempar sege dan panahan diperuntukan bagi wisatawan manca negara sebagai penghormatan atas kunjungannya. Wisatawan manca negara juga dapat mencoba untuk menghayati budaya Lembah Baliem dengan memakai koteka dan menghitamkan tubuhnya sebagaimana penduduk asli zaman dulu sehingga turut menyemarakkan suasana festival.

Related posts