BaLSeM : Uang Gosok atau Sogok? - Oleh: Toba Sastrawan Manik, Mahasiswa PPKn Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan

Era kepemimpinan SBY kembali harga BBM di naikkan tidak beda dengan tahun sebelumnya tahun ini kenaikan harga BBM satu paket dengan pemberian kompensasi untuk masyarakat yang bernama BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat) sebesar 150 ribu kepada 15. 5 juta penduduk miskin seantero negeri ini.

Dalam sejarah ketatanegaraan kita kepemimpinan SBY lah yang pertama menaikkan harga BBM dibareng dengan pemberian kompensasi kepada masyarakat miskin. Dimasa awal pemerintahannya periode pertama SBY menaikkan harga BBM dengan pemberian bantuan lewat BLT (bantuan langsung tunai) sontak dengan kebijakan ini SBY kembali memerintah negeri ini kedua kali bersama Budiono ada hubungannya atau tidak yang jelas BLT telah mengantarkan SBY untuk kedua kalinya berkibar bersama dengan demokrat di negeri ini dibarengi dengan pemberian BLT yang timingnya tepat ketika menjelang akan pemilu dilaksanakan.

Demikian juga untuk tahun 2013 ini tahun politiknya bangsa ini. Menuju pemilu 2014 yang akan dilaksanakan memang di tahun ini merupakan persiapan basis untuk menuju 2014 tidak heran sejumlah partai kini bersibuk ria dengan politik cari mukanya dihadapan masyarakat, manuver politiknya tidak terlepas juga politik belas kasihannya untuk masyarakat untuk mendapatkan simpati masyarakat baik PKS manuvernya di koalisi maupun Demokrat yang dikendali SBY dengan konvensinya.

Menarik untuk dilihat adalah paket kompensasi BLSM yang ditawarkan oleh presiden SBY plus Demokrat ditengah kenaikan harga BBM yang mereka jalankan. Melihat bentuk materil dan formil dari paket BLSM tidak ubahnya sama dengan BLT sebelumnya maupun secara timing pemberiannya yang kini menjelang pemilu.

Gosok atau Sogok

Kenaikan harga BBM memang menyisakan sejumlah penderitaan di kehidupan realita masyarakat. Kenaikan harga BBM yang selalu dibarengi dengan kenaikan harga bahan pokok,Transportasi, inflasi pengangguran serta berbagai perihal lainnya yang menuntut kesabaran dan ketabahan masyarakat kecil lainnya untuk menerimanya sebagai bagian dari kehendak yang kuasa ditambah menjelang bulan Ramadan kini yang lazimnya harga seluruh kebutuhan pokok melonjak terlepas BBM naik atau tidak. Mungkin hanya dengan pasrah dan berdoa jalan terakhir untuk masyarakat menjalani jembatan kehidupan yang dikendalikan SBY ini.

Pihak pemerintahan berkali-kali mengatakan masyarakat tenang saja dan berkilah semua ini demi penyelamatan uang negara dan rakyat. Setelah 17 juni dalam rapat paripurna R-APBN 2013 oleh DPR dengan ketok APBN 2013 sah maka nasib BLSM menunggu waktu bermain di masyarakat.

BLSM disiapkan pemerintah dengan dalih protektif rakyat akan dampak dari kenaikan harga BBM ini. Selain masalah waktu yang belum jelas dan pantas atau tidaknya masyarakat yang akan menerima sejumlah opini muncul dari masyarakat tentang nasib mereka dengan paket BLSM ini dimana dampak kenaikan harga BBM yang berpengaruh pada seluruh sendi perekonomian hanya diproteksi pemberian 150 ribu selama 4 bulan dengan nama BLSM setelah 4 bulan bagaimana? Masih menjadi pertanyaan besar tentang politik SBY ini.

Sejatinya jika BLSM ini desaein sesuai dengan das sollen sebagaimana retorika pemerintah saat ini hadirnya BLSM bisa saja menjadi ibarat obat “GOSOK” layaknya BaLSeM untuk sedikit meringankan beban kehidupan di punggung masyarakat hitung-hitung daripada tidak ada sama sekali. BLSM layaknya BaLSem menjadi penghilangan sedikit kepegalan serta sakitnya punggung dalam mengarungi kehidupan ditengah harga BBM tinggi merupakan ideal lahirnya kebijakan ini tentu memenuhi berbagai persyaratan, komitmen serta kerja keras pemerintah.

Namun disisi lain BLSM dapat berubah menjadi sebuah money politik atau uang “SOGOK” oleh pemerintah untuk pemilu 2014 layaknya 2009 dengan paket BLT yang mampu membius rakyat untuk memenangkan demokrat dan SBY-Budiono hasilnya adalah seperti sekarang ini. Banyak kalangan berpendapat bahwa BLSM ini merupakan generasi penerus BLT dan bagian dari politik SBY bahkan mengatakan BLSM adalah (Beli Langsung Suara Masyarakat).

Motivasi BLSM bagian dari money politik SBY mengingat antara BLT dan BLSM memiliki kesamaan khususnya timing pemberiannya kepada masyarakat. Jika benar BLSM ini diciptakan oleh SBY memang benar uang “SOGOK” versi terbaru tentu sangat menciderai dan menyakiti kehidupan rakyat pemerintah mempermainkan kemiskinan dan penderitaan rakyat serta penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Hal ini harus dicegah sebab merupakan bagian dari pembodohan dan pembohongan publik dalam menghasilkan kualitas demokrasi dan pemimpin bangsa ini.

Demokrasi kita mengatakan bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat pasal 1 ayat 2 UUD 1945 atau vox vovuli vox dai. Berafiliasinya BLSM yang sejatinya uang “gosok” atau pelega sedikit kehidupan rakyat menjadi money politik layaknya uang “sogok” untuk rakyat menarik perhatian atau pencitraan partai Demokrat yang di komandoi SBY ini terletak pada rasionalitas cerdas masyarakat.

Beralih fungsinya BLSM menjadi uang sogok untuk masyarakat jika masyarakat menilai terlalu berlebihan kebijakan ini dan menganggap bagian dari kebijakan demokrat berjuang untuk rakyat. Bisa dipastikan bahwa tidak terlepas nantinya jargon kampanye dari partai demokrat ada berhubungan dengan BLSM ini serta kebijakan setelah empat bulan nanti namun dalam hal ini masyarakat harus cerdas menilai dan rasional dalam membedakan BLSM sebuah obat “gosok” atau “sogok”.

Semua itu terletak pada vox vovuli vox dainya masyarakat negeri serta kecerdasan masyarakat. Tentu kita berharap BLSM obat gosok layaknya BaLSem untuk rakyat bukan uang sogok demi kepentingan sepihak, golongan dan hegemoni politik tertentu.

Masyarakat niscaya rasional serta selektif untuk menuju perubahan melalui pemilu 2014 nanti bersikap independensi yang kuat tidak termakan oleh jargon kampanye serta berbagai manuver politik yang telah mulai berjalan dari sejumlah mesin politik maupun pemerintah.

Perubahan paradigma masyarakat selama ini yang beracu pada pilihan partai politik menjadi keniscayaan kearah penilaian akan secara individualis sebab partai politik dalam demokrasi tidak menggaransi bahwa kader mereka teruji dan berkualitas malah dominan kader partai buruk dan jelek afrimasinya ialah masyarakat jangan melihat partai politiknya melainkan secara konsisten pada sosok figur dan kapabilitas Itulah tuntutan demokrasi. (analisadaily.com)

Related posts