Bank DKI Optimis UMKM Mampu Bersaing - Menyambut MEA 2015

NERACA

Jakarta - Kondisi perekonomian di DKI Jakarta yang cukup kondusif dengan porsi pertumbuhan yang terjaga di level 6,5% (year on year) diyakini menjadi modal berharga bagi pelaku dunia usaha yang menggantungkan bisnisnya di sini. Hal tersebut masih ditopang dengan kuatnya daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat sehingga diperkirakan aktivitas perekonomian masih akan tetap berjalan lancar, meski di level internasional sedang terjadi krisis berkepanjangan.

“Tahun lalu konsumsi rumah tangga di DKI Jakarta mampu tumbuh 6,5%, meningkat dibanding tahun sebelumnya, 6,2%. Tidak hanya (konsumsi) rumah tangga, belanja pemerintah juga terjaga dengan baik. Ini dipengaruhi oleh tingkat penghasilan dan kuatnya daya beli masyarakat Jakarta,” ujar Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta, Eko Budiwiyono di Jakarta, Kamis (27/6).

Kondusifnya dunia usaha ini, lanjut dia, tak lepas dari tingkat inflasi yang cukup rendah serta harga barang danjasa yang relatif stabil selama triwulan IV/2012. Berbagai data positif tersebut dapat menjadi fondasi yang sangat kuat bagi pelaku usaha, khususnya yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), untuk bersaing dengan pelaku usaha dari luar daerah.

Semangat berbenah dan meningkatkan daya saing juga kian penting seiring akan diterapkannya kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. “Kami percaya dan yakin sepenuhnya dengan segala modal positif yang kita miliki. Pelaku UMKM bakal mampu bersaing dengan pemain-pemain regional yang akan datang sejalan dengan penerapan MEA. Tugas kita semua untuk ikut berperan dan mendukung penuh mereka,” tegas Eko.

Sebagai salah satu badan usaha milik daerah (BUMD), Bank DKI ikut bertanggung jawab dalam hal peningkatan ekonomi daerah, salah satunya melalui penguatan sektor UMKM, terutama menjelang penerapan MEA, yaitu para pelaku usaha domestik dituntut mampu bertahan, bahkan harus memenangkan pasar di tengah serbuan produk luar negeri.

Bank DKI, kata Eko, ingin berperan lebih jauh terhadap pengembangan UMKM di DKI Jakarta dengan mengupas pemahaman dari banyak pihak. Selama ini, Bank DKI telah mengambil peran dengan menyediakan beragamproduk kredit, khususnya untuk sektor UMKM, seperti Kredit Usaha Mikro dan Kecil (KUMK) Monas, Kredit Pundi Monas, Monas 25, Monas 75 dan Monas 500.

Dalam catatan Bank Indonesia (BI), nilai penyaluran kredit perbankan nasional untuk seluruh sektor usaha hingga akhir 2012 lalu mencapai Rp2.706 triliun, atau terhitung tumbuh sekitar 23% dibanding realisasi tahun sebelumnya. Dari realisasi tersebut, perbankan milik pemerintah, baik yang berstatus badan usaha milik negara (BUMN) maupun BUMD cukup mendominasi, khususnya di sektor UMKM.

Data mencatat bahwa nilai penyaluran kredit terhadap UMKM yang dilakukan bank-bank pemerintah pada 2012 mencapai Rp242,86 triliun dari total kredit UMKM seluruh industri perbankan senilai Rp552,23 triliun. Data tersebut cukup meningkat signifikan dibanding kredit UMKM bank-bank pemerintah pada 2011, Rp222,64 triliun dari total kredit UMKM industri sebesar Rp479,89 triliun.

Hingga triwulan I 2013, kredit UMKM bank-bank pemerintah tercatat sebesar Rp254,32 triliun dibanding total kredit UMKM industri sebesar Rp555,62 triliun. “Sebagai sebuah BUMD yang notabene milik pemerintah dan masyarakat DKI Jakarta kami merasa ikut bertanggung jawab untuk terus meningkatkan intermediasi perbankan, di antaranya melalui dukungan penuh kami terhadap sektor UMKM. Ini juga sekaligus sejalan dengan semangat BI agar bank-bank nasional mau menyalurkan minimal 20% kredit untuk sektor UMKM,”terangnya. [sylke]

Related posts